Segelas teh campah mempermanis persahabatan


Di sebuah warung Soto Jakarta di bilangan Grogol saya memesan semangkuk kesukaan saya manakala sedang berkunjung ke mari. Hanya saya seorang “thil” yang berada di warung yang dulu bernama Pak Jenggot sohor dengan bumbu 27propinsi. Apalagi jaraknya sepelemparan batu dari rumah.

Sekarang warung bernama Soto Jakarta – dikelola oleh mantan juru masaknya. Sementara pak Jenggot lebih memilih di bilangan Tangerang.

Waktupun baru menunjukkan 15menit saat siaran TV diwajibkan merelay adzan tanda berbuka puasa, sebuah acara satu dua menit dengan rating yang paling tinggi saat ini. Maklum Tuhan sedang diskon dosa besar-besaran pada bulan ini.

Ternyata sendirian bukan berarti persediaan Soto masih membludag sebab soto yang saya pesan sudah habis dibungkus para pembeli untuk dinikmati di rumah.

Jadilah saya menerima soto SDKODK. Soto Daging Karepmu Ora Daging Karepmu – sebuah copy paste dari komedian Yati Pesek – maksudnya mau dikasih daging, mau dicampur jerohan – pasrah tengkuk.

Sebagai minuman, saya memilih jus jambu batu dengan didahului ucapan “jangan-jangan Jambu-pun sudah tandas..

Tidak lama kemudian Jus dengan warna merah jambu selesai dibuat. Herannya kalau jus jambu selalu diberikan dalam wadah plastik tertutup dan sebuah sedotan plastik menancap ditengah tutup.

Sambil memberikan plastik jus sang penjual mengatakan “bapak saya kasih teh panas dulu ya…” – ia mungkin kuatir ada senior berambut nyaris putih semua nekad berbuka puasa dengan langsung menenggak jus jangan-jangan bikin korban.

Segelas jembung (penuh) jus sudah membuat saya glegekan (bersendawa), sepiring nasi putih bertabur bawang goreng diteman semangkuk daging campur gorengan paru-paru kering, membuat lemak saya makin menonjol. Bulan puasa tidak mencairkan sedikitpun lemak-lemak “sandung lamur” yang militan memukmini kemana saya pergi.

Tetapi sebagai penghargaan kepada pemberi teh, saya tenggak juga segelas besar teh panas. Sekarang kalau glegekan (sendawa) – saya selalu ingat Doktorandus Idrus – pak RW peluh tipu daya tetapi sial dalam tayangan TV swasta. Tetapi sempet “gleg” minuman tertahan sebentar ditenggorokan mengingat adegan ketika dia mengakali warga dengan menyitir Hadist Nabi – Barang Siapa Mengambil Kembali Pemberiannya- Seumpama Manusia Memakan muntahannya..

Di RM Padang, memberikan segelas air atau teh tanpa diminta adalah biasa. Namun di warung soto Betawi, saya merasa seperti dihormati. Yang jelas pelanggan jelas akan kembali ke warung ini hanya gara-gara segelas teh campah (tawar). Aku bukan ahli agama, tetapi anak muda pemilik warung ini saya doakan agar mendapat berkah yang banyak.

Advertisements