Mengapa kalau puasa – mulut kita berbau- tanya Ustad


Minggu kedua di bulan Ramadhan – teman-teman mempunyai ide untuk mengadakan bukber alias buka bersama di Cilandak. Gagasan disambut dengan meriah melalui e-mail bahkan ada yang lebih progresif dengan menambahkan “kalau biaya kurang kita patungan..”

Namun mbak Ica bilang bahwa acara bukber memiliki modal kencang, tidak perlu sampai merogoh kocek bahkan sebelum berbuka puasa ada guyuran rohani oleh Ustad “D”

Ramadhan tahun lalu, saya melihat peminat bukber amat minim. Ustad telah datang, sohib dan sohibah masih asik dengan layar monitor. Ramadhan kali inipun sama halnya. Kemana email yang gagah perkasa ingin datang kalau perlu bayar? sama halnya dengan perbaikan jalur pantura yang setiap menjelang mudik dari tahun ke tahun tidak pernah rampung memperbaiki jalan.

Lalu waktu yang telah dimolorkan, Ustad naik ke Mimbar. Suaranya lirih, lalu dia setengah bercanda bilang “beraat ya memberikan ceramah sejam menjelang beduk. Mulut terasa lengket, pahit, tenggorokan tercekat.”

Lalu pak Ustad bertanya “Mengapa saat puasa mulut kita berbau?” – dan pertanyaan yang ditawarkan kepada hadirin termasuk saya tidak mendapat respon positif sehingga Ustad menjawab sendiri “supaya kita jangan terlalu banyak bicara…”

Ceramahnya berkisar tafsir Jallaludin Rumi – seorang tasauf yang berpendapat berbeda dengan tafsir ulama sebelumnya. Diceritakan ketika Nabi Ibrahim meminta bukti bagaimana Tuhan meniupan ruh ciptaannya, maka Tuhan meminta Ibrahim mencari empat burung. Burung ini dicincang, lalu dengan kuasa Tuhan burung tersebut hidup kembali. Ini adalah versi awal.

Namun Jallaluddin Rumi berpendapat – Tuhan tidak bermain-main dengan perintah mencincang empat burung ciptaannya sendiri melainkan perintah untuk Abraham – menjinakkan keempat burung dengan karakter berbeda.

Burung pertama yang perlu dijinakkan adalah Merak – cenderung sombong dan sok pamer. Burung kedua gagak – terlalu banyak bicara, suka berdebat. Burung ketiga adalah bebek sebagai perlambang manusia rakus dan burung terakhir adalah Ayam jago yang mengumbar sahwat.

Di pertengahan ceramahnya – Ustad kelihatan sudah mulai “lowbat” – sekali tempo ia tersedak, dan alhamdulilah lupa akan isi ceramahnya dan meminta kami membantunya untuk mengingat kembali.

Selesai ceramah saya menyalami Ustad yang berperilaku seperti manusia biasa. Bisa mengeluh, bisa lupa isi ceramah. Tetapi isi ceramahnya mengena.

Jallaluddin adalah pencipta tari yang berputar-putar, sementara tangan kanan ditengadahkan dan tangan kiri dihadapkan ke bumi. Ini adalah perlambang bahwa sebagai seorang sufi, kalau meminta berkah dari Tuhan – terimalah dengan tangan kanan, namun ambil sepotong dan sisanya diberikan kepada pihak lain (tangan menghadap bumi).

Yang membuat menarik adalah – saat berbuka tiba teman-teman non muslim juga berdatangan ikut bersantap sambil bersenda gurau. Tetapi beberapa menit kemudian panitia memanggil kami untuk salat magrib bersama.

Cilandak 9 Sep 2009

Advertisements