Peluru Emas Menembus Tembok Baja


Seingat saya waktu sering main komputer (jadul) game dengan komputer IBM kelas XT (ini cerita 1980-an), ada episode kita bertemu dengan mahluk setengah serigala, werewolf yang bisa dikalahkan dengan kalung yang terbuat dari rencengan bawang putih. Mahluk berdarah serigala ini umumnya bertitiwikrama jadi serigala kalau terang bulan. Tetapi terang bulannya bisa diganti dengan memanggil nya “WereWolf” – maka seketika dia akan keluar taring dan bulunya dan hati-hati, kita dibunuhnya. Tetapi dengan sebuah peluru yang terbuat dari perak, jantung werewolf bisa di tembus. Begitu ceritanya.

Lantas apa hubungannya dengan Pintu Emas menembus Pintu Baja Tebal. Inilah halaman awal tulisan Junus Jahja (JJ), seorang tokoh pembauran Etnis yang kita miliki dan merasa terhormat mencapai status terhormat LANSIA.

Rupanya beliau mengutip dari Filsafat Oei Tiong Ham – sang raja Tebu, konglomerat yang hidup di Semarang – akan perilaku para VOC-awan dan VOC-wati yang sekalipun hidupnya berlebihan, tetap pintu baja imannya masih bisa ditembus peluru emas sehingga mengalirlah lubang angin-kong-kalikong. Sebetulnya istilah VOC disini tidak tepat sebab sudah bangkrut dan diambil alih oleh pemerintahan Hindia Belanda. Tapi apa bedanya bagi kita.

Dengan filsafat sederhanaya, Oei Tiong Ham (OTH) yang datang sebagai gembel melarat dari daratan Cina lambat laun menjadi kaya raya karena berhasil menyelundupkan candu yang waktu itu penjualannya dimonopoli oleh pemerintah Hindia Belanda- yang saat itu dikuasai orang dari Nederland.

Begitu kaya, OTH sadar resiko lalu dia bermain ciamik menjadi Pedagang gula, tapioka. Kerabat OTH – masih ingat teknik pemasaran yang tepat bukan dari buku tebal penuh dengan bumbu istilah Branded, Market dan segala macam – cukup Peluru Emas. Agnes DanOvar dalam novelnya Oei Hui Lan banyak bercerita bahwa sang ayah yang memiliki harem tak kurang 42 orang, sangat menghargai istri pertamanya.  Prinsip hidup yang lain, “jadilah selalu nomor satu..”

Tjoa Soe Tjong yang pernah menjadi direktur perusahaan milik OTH bercerita bahwa pada zaman kolonial seorang saudagar mengundang pejabat Belanda dengan istrinya untuk santap malam. Belanda ini berpangkat setara Gubernur di Jawa Tengah. Dugaan saya adalah acara Taon Baroe Cina yang biasanya dimeriahkan oleh masakan Bandeng SinCia yang gemuk dan besar.

Saat pamitan pulang sang mevrouw gouverneur dititipi sepasang ikan Bandeng. Betapa sukacitanya nyonya gubernur membawa sepasang ikan besar. Matanya yang besar seperti bersinar-sinar. Bukan lantaran bandeng ini bertuah tetapi karena matanya diganti bola mata sejenis kaca – yang sekarang kita kenal sebagai Berlian.

Masih..draft..karena baru baca buku Catatan Orang Indonesia – oleh H. Junus Jahja – Target saya minggu ke tiga bulan puasa ini.

Advertisements