Jerman Meriang


Biasanya, favorit saya ngabuburit adalah melihat acara TV – Mencari Tuhan yang dibintangi Dedi Mizwar, Trio Bajaj. Karakter pak RW yang disitu adalah Pensiunan Doktorandus Idrus, sangat stereotip tetapi justru jadi lucu saat ketahuan genit akan wanita cantik lalu istrinya ”ngonangi” menangkap basah dan – dia misuh-misuh-sumpah serapah ”wedhus” – yang dalam bahasa jawa artinya kambing

Tak heran acara sinetron ini sampai ditonton seorang presiden karena pesan-pesannya mengena. Ibarat kata merupakan tuntunan dan tontonan atau sebaliknya.

Belum lama ini saya menyempatkan diri ngabuburit ke Jalan Biak- di kawasan Roxy Grogol. Ada perubahan dimana bioskop Roxy tempat saya dulu menonton sambil naik becak sudah ludes menjadi pertokoan – sekarang hanya menyisakan bayangan loket yang dipalang macam pagar buat para banteng agar mudah ditunggangi matador.

Namun namanya orang puasa, janjinya putus dengan kolesterol, tetapi meliwati jalan Biak, Iman siapa tidak tergodek-godek. Ada Martabak HAR, ada Bakmi Roxy dan salah satu kesayangan saya Kedai Sop Betawi Sudi Mampir. Hanya bayangan akan antri mendadak pudar. Pelanggan yang berjibun seakan tak sudi mampir ke kedai legendaris ini.

Kemana ”tangan emas” para koki yang membuat pelanggannya ketagihan kalau seminggu tidak menyentuh sup Betawi.

Tidak jauh dari lokas saya kecele, sekitar ATM BCA saya tergoda mencoba kedai yang konon masuk dalam daftar para ”lidah cerdas” – saya tidak akan menyebut namanya. Sekalian mencoba mencari alternatif lain. Kita bicara bulan puasa, setiap oknum akan berbuka pada detik yang sama. Ya sudah ramainya – nggak kira-kira.

Sambil menunggu mereka menyelesaikan tugasnya, saya memotret sang pemilik – putra-nya sedang mengiris daging. Kalau anda pesan minuman mendadak mereka akan bilang ”Jerman Meriang..”- terpaksa saya longak-longok memecahkan kata sandi singkatan dari Jeruk Panas Hangat. Katanya kalau pas ada yang minta kuahnya ditambah, maka kode yang dipakai adalah Banjir..Banjir… Jangan heran kawasan banjir tentu sohib dengan sakit meriang, banjir dsb.

Ada setengah jam saya menunggunya.

Tapi sepulangnya dari sana saya harus ke toilet. Bukan salah warung, tetapi campuran susu dan santan dalam ramuan warung ini kadung membuat perut saya bereaksi. Soal rasa, kalau sampeyan suka asin, mungkin pas. Saya terpaksa mengecroti kecap manis agar berimbang rasanya di lidah.

Masih satu atap dengan warung Betawi Roxy ini ada penjual minuman es. Es Kopyornya meleleh dilidah. Tetapi lagi-lagi topping susunya membuat jonjot perut sering bereaksi berlebihan.

Tetapi kalau mau jujur saya lebih sreg makan masakan yang sama di halaman pasar Grogol, bang AMRAN – sudah sangat mengenal jadi seperti teman akrab. Harga miring dan yang terpenting masih ada bau ”wedhus..” – seperti penggemar durian Petruk berdebat dengan penggemar Monthong soal suka atau tidak akan bau durian.

Advertisements