Siapa Jawara sejati F1 2009 di Singapura


Jawabnya bukan Hamilton melainkan Puma. Entah anda dari group Ferrari, Red Bull Racing, Scuderia Toro Rosso, Renault ataupun BMW Sauber – maka bajunya adalah Puma – dari sepatu, sarung tangan, kaos kaki, balaclava (topi teror), sampai celana dalam.

Otak dibelakang rancangan ini adalah Bruno Vaglienti. Dan merancang baju balap membutuhkan interaksi psikologi antara pembalap dengan rancangannya. Alonso merupakan “model balap” yang sangat khusus dan teliti dalam sepatu. Ukuran sepatunya UK-8, harus disematkan mutiara, dengan fishskin akar nampak efek cerah dalam sesi pemotretan. Alonso juga wanti-wanti baju balapnya jangan nampak kebesaran waktu di podium…”

Mengenai sepatu paling mungil dimiliki Nick Heidfield (UK 5), sedangkan Mark Webber dari Red Bull Racing -UK10. Lalu siapa personal yang paling mudah diajak berembuk adalah Vettel dari Red Bull Racing. “easy going, never complain..”

“Pebalap yang cerewet biasanya kurang mampu dibelakang kemudi, sehingga cenderung menyalahkan orang lain termasuk – pakaiannya..”

Ada pemeo – disamping mobil cepat – selalu ada cinta kilat. Sebut saja Jenny,20, peranakan Rusa-China perkerjaannya nongkrong di bar seputar Orchard dengan alasan bisnis dan kemungkinan investasi. Tarifnya $250 sekali kencan.

Advertisements

Fakta mengenai peralatan balap F1


Sedikit mengenai supir F1

  1. Baju balap terbuat dari bahan Nomex, membutuhkan waktu 12 detik bagi bahan ini untuk terbakar. Tim rescue harus datang dalam hitungan dibawah 10detik bilamana terjadi kecelakaan.
  2. Harga baju adalah USD 25000. Perlengkapan lain seperti sarung tangan, sepatu, kaos kaki bahkan celana dalam – menghabiskan biaya USD 1000
  3. Makin sohor pembalap makin disiksa oleh pakaian yang disulam lencana dari masing -masing sponsor, padahal baju itu sendiri sudah 1 kilogram beratnya. Tetapi ada tambahan lain adalah sulaman-sulaman yang memberikan efek fotografi indah.
  4. Satu badge beratnya 35 gram
  5. Berat Sepatu 150 gram. Sepatu diganti setiap pembalap menyelesaikan 10-25 balap per tahun. Tetapi ada pembalap Kubica yang menggunakan sepatunya sejak Oktober 2006. Bisa dibayangkan warna sepatu putih yang dipakai sampai 3 tahun pasti berantakan.
  6. Sole sepatu hanya 3 milimeter tebalnya. Seorang pembalap Nick Heidfeld selalu bermasalah dengan sepatu kirinya yang berlubang. Rupanya begitu bernafsunya ia menginjak pedal rem sampai tak terasa mengikis sol sepatu. Sebaliknya pembalap berkaki raksasa macam Mark Webber terpaksa harus menipiskan sol sepatunya agar ruang di cockpit tidak terlalu sempit.
  7. Ukuran sepatu pembalap biasanya dibuat lebih sempit daripada normal. Tujuannya agar feeling saat menginjak pedal lebih terasa
  8. Seorang perancang busana balap dari Puma – Vaglienti sekali waktu mendapat keluhan bahwa bagian pantat baju pembalap sering sobek. Ternyata ada pembalap meletakkan kertas ampelas dikursinya agar tidak licin. Dari beberapa sumber seperti The New Paper

Di traktir the Best Crab Chili Sauce di Quay Singapore


Sebetulnya hari itu kaki kami sudah berjalan berjam-jam sehingga perlahan-lahan debu yang kecil menempel di betis rasanya seperti sebuah piano terikat pada kaki. Maka kami putuskan acara “cuma jalan-jalan dan lihat-lihat seputar Orchard” akan berakhir. Kuping rasanya apa masih “pengeng” – akibat di Marina mendengarkan suara mobil super cepat sedang adu balap.

Waktu menyeberang jalan di depan Takashimaya-Orchard, seseorang memanggil-manggil anak sulung dengan suara yang berat dan parau tetapi keras. Ternyata Oom, Tante dan Pricila anak satu-satunya.

Oomnya inilah yang dalam daftar “keluarga” orang yang ikut bertanggung jawab membesarkan Lia dan Satrio saat ia masih Narayana.

Kami ingat Satrio (anak kedua) masih bayi sudah diculik dari rumah dan dibawa kekediaman bapak Bustanul Arifin karana salah satu puteranya adalah teman main sang paman. Disana ternyata Satrio berak dan baru kelabakan sang Oom karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Setelah bersalaman sebentar kami pun berpisah dan hanya berselang beberapa menit, tilpun Lia berdering – “Kita makan di pinggir kali Singapura.. Ada Chili Crab Sauce van Singapura yang the best..” – lha ini entah nasib Lia- yang selalu saja dimanjakan oleh Oom dan Tantenya – tetapi saya juga ingat beberapa tahun lalu lia di ajak teman saya dari group mas BS makan ditempat yang sama.

Ya sudah dari Orchard Road kami ambil MRT untuk turun di Raffles City, ternyata mereka masih di MRT dan waktu kami gunakan duduk sambil memandang kegelapan malam.

Dimakan bersama mantou (roti kecil), disendokkan sausnya. Memang nama besar the best chili sauce bukan cuma macan ompong.
Apalagi sedang terjadi perang internet akibat ucapan lidah tajam menteri Turisme Malaysia yang mengklaim nyaris semua masakan dari Cina daratan menjadi masakan aseli Malaysia yang dibajak.

Diudara sana helikopter mengitari udara Singapura sambil berpatroli mengamati jalannya balap F1, didarat para pekerja yang umumnya orang Eropa menikmati masa keemasan beer botolan Buy One Get One.
.

Menunggu sang Tuan Rumah masih di MRT
Kalau foto ini seperti dalam cerita Harry Poter – ia bisa mengeluarkan suara raungan Ferari sedang adu cepat pada jumat malam hari 25/9/2009 di Singapura.
Sang treator (penyandang dana makan malam) sedang menceritakan bagaimana Kepiting Saus ala Singapura ini merupakan the best yang pernah ia coba sampai ke negeri China. Tapi dia menyarankan bahwa di Indonesia ada yang lebih ajib lagi
Disela aca makan biasanya kami berbincang, dan saat terjadi perbedaan akan sebuah nama tempat, sang putri yang terbiasa hidup dalam alam demokrasi langsung mengoreksi ayahnya. Dan cepret – momen ini saya abadikan.

Demam Reng..Reng di Singapura


schumaker_2004
Ban F1 yang terkelupas ini pernah dipakai oleh Michael Schumaker pada pertandingan F1 pada 2004

Jumat 25/9/2009 saya berada di Marina. Cuma herannya beberapa eskalator sudah ditutup dan dijaga oleh petugas berbaju biru. Lalu ada tentara berjaga dimana-mana.

Baru ngeh setelah kami sulit berkomunikasi satu sama lain lantaran suara meraung-raung yang diledakkan dari mobil Formula 1 yang hari ini memasuki hari pertama. Tetapi hanya itulah yang dapat kami kerjakan sebab pagar sekitar lap – semua ditutup oleh platik hijau sehingga cuma suara menggeram dan berisik sekali. Beberap orang mencoba mengintip dari balik pagar akan segera didekati oleh petugas keamanan.

Pagar ditutupi terpal hijau mencegah penonton gratis
Pagar ditutupi terpal hijau mencegah penonton gratis

Lalu beberapa mal memajang ubo rampe balap F1 yang diselenggarakan pada malam hari ini. Saya lihat orang berkerumun melihat sebuah benda terbuat karet dan keadaan fisiknya buruk karena bagian luar sudah terkelupas.

Ternyata setelah diamati, ban ini membawa Michael Schumaker menjadi juara pada pertandingan F1 di San Marino 2004. Saya jadi kepikiran berapa temperatur yang dihasilkan dari gesekan ban dengan aspal sampai nampak melepuh begitu.

F1 dari Fiat yang dipakai oleh Mubadala dari Abu Dhabi. Bannya licin mengkilat.
F1 dari Fiat yang dipakai oleh Mubadala dari Abu Dhabi. Bannya licin mengkilat.

Tak jauh dari ban Michael Schumaker, sebuah F1 dari Fiat yang pernah dipakai oleh groups Mubadala dari Abu Dhabi nampak dipajang komplit. Ban Bridgestone yangdipakai dalam pertandingan ini hanya nampak gundul namun tidak separah kondisi Schuimaker. Publik Singapura berlomba berfoto didepan mobil balap merah ini.

Lalu kaos beremblem sponsor dilepas dengan harga $149, sementara Topi $79. (1 Sin=6800 idr)

Penjual Hearing Protection sibuk menjajakan dagangannya
Penjual Hearing Protection sibuk menjajakan dagangannya

Yang cerdik adalah penjual HeadPhone. Semua tahu bahwa suara sekitar arena bukan main memekakkannya. Mereka lalu menjual alat penutup telinga yang dalam keadaan normal menjadi radio, namun saat menerima getaran memekakkan secara otomatis menutup telinga sang pemakai.

Makan lezat tapi kemrungsung alias tidak relax


Katakanlah ini gejala seseorang menapak masa senja yakni melorot angka sabarnya.

Misalnya saja saat makan All You Can Eat. Sudah tahu bahwa kita boleh makan sampai kenyang, tetapi saya malahan tidak ambil makanan sama sekali. Pasalnya disepanjang hidup – kita terbiasa lapar sebatas pandangan mata. Seperti orang berbuka puasa.

Semua makanan mau dimasukkan panci, akhirnya saat perut membengkak, makan menjadi pelan, makin pelan dan tersisalah makanan yang bagi sebagian orang yang tak mampu bermimpipun tidak akan makan direstoran semacam ini.

Untuk menutupi malu lalu – keluarlah jurus ngeles – AKU AMBILIN KAMU KOK.

Akibatnya setiap makan sejenis beginian saya hanya ikut gabung makan ngerusuhi alias meriung apa yang sudah ada di panci mendidih. Dan berulangkali mengingatkan “habiskan makananmu.”

Terasa mengganggu memang, apalagi kalau penganan tersebut ditraktir oleh orang lain. Hanya bagi saya makan termasuk juga sarana tuntunan bukan sededar tuntutan mata.

Mudah-mudahan dikemudian hari kelak jejak aneh saya diingat anak dan cucuku untuk tidak memubadzirkan makanan.

Empeh Tongseng pacaran dengan PRT dari PRC Bagikan


Anak-anak berdua kami biarkan berjalan mendahuhului kami. Dibelakang mereka kami hanya melihat tingkah polah mereka yang sedang akur sambil berdoa semoga mereka bisa mengarungi hidup seperti yang dicita-citakan.

Kadang kami bernostalgia betapa mereka sejak kecil “bayi” suidah diajak ke Singapura hanya untuk membuat dirinya agar menjadi adonan mahluk bisa survive dinegeri orang. Masih terbayang saya menggendong mereka karena jaringan MRT belum sebanyak sekarang.

Tiba-tiba si sulung ngekek sambil menoleh kearah kami berdua. “Papa seperti empeh-empeh tua Singaporean pacaran dengan PRT dari PRC.” Alasannya- ia melihat bapaknya berambut putih, pakai kaos putih, celana pendek sampai ke lulut pakai sandal gunung kesana kemari, sesuatu kebiasaan berpakaian yang jarang ia lihat di tanah air.

Lha ke Singapura untuk membuang segala rutinitas sehari-hari termasuk cara berpakaian, eh lha malah anak saya melihat keanehan dari cara saya berpakaian.

Cukur ala Vacuum Cleaner


Di Sebuah mal di Singapura, Satrio, bungsu saya menyempatkan diri untuk memasuki sebuah barber shop dengan gaya tukang cukur ala Indonesia. Pilihan ini disebabkan nyaris disetiap Mal besar kami menemukan gerai cukur dengan style yang khas, habis cukur ku terus di vacuum cleaner sehinggra rambut tidak menempel baju maupun berterbangan.

Begitu masuk gerai ada sapaan asing yaitu Konichiwa! – mungkin sebagai sandi bahwa barber yang kami datangi adalah franchise dengan perusahaan Jepang. Terang saja saya yang bahasa Jepangnya klasifikasi “Nul Puthul” jadi bingung, perasaan (tentu tidak harus benar), sambutan itu diberikan untuk pagi hari? – kalau Hallo katanya mosi mosi..

Lupakan sambutan aneh Konichiwa. Setelah antri sebentar satu dari tiga petugas menunjuk sebuah mesin tiket. Selembar 10dollar kertas segera ditelan mesin dan digantikan dengan satu karcis. Mungkin gaya jaman sekarang untuk mempermudah audit agar jumlah Tiket harus sama dengan jumlah uang yang diterima.

Karcis seukuran kartu diskonto inilah yang ditunjukkan kepada petugas sebelum mereka cras-cress memotong rambut anda dan harus selesai dalam 10menit.

Selesai dipotong, kepala langsung dihadapkan dengan sebuah selang penghisap debu. Dan selesailah sebuah upacara cukur rambut (ala kering) yang dipukul rata 1 dollar/menit ini.