Belajar Buka Rekening di FaceBook


Mendadak anak usia 9tahun ini (lahir 8 Agustus 2000) minta dibuatkan rekening di Facebook. Padahal biasanya kalau saya main kerumahnya, anak ini sudah tenggelam dalam dunianya sendiri “computer game.” Lupa makan – tak ingat minum. Baru berhenti dibawah pelototan sang mama. Atau hidungnya mimisan.

Orang tuanya bilang tidak masalah asal diawasi.

Saya sendiri tidak akan pernah mempengaruhi seseorang untuk membuka blog atau facebook. Banyak kasus kalau hanya ikut-ikutan lalu saat stamina menulis kedodoran akibatnya facebook terlantar dan ruang hardisk menjadi mubadzir. Apalagi bagi anak usia 9 tahun ini hidupnya adalah Computer Game.

Lalu Bagus mulai saya tuntun membuat account

Mula pertama ia masih seperti burung prenjak, tidak mau diam.  Ia bisa berpindah dari satu kursi ke kursi lainnya. Kadang ngelendot dibadan ayahnya. Dipotretpun nampak kabur karena gerakan tubuhnya. Sedikit sulit menyuruhnya diam, apalagi kalau dekat sang ayah kadang ia memainkan peranan “MPO” Minta Perhatian Orang Tua. Kalau sudah ngadat begini – carta apapun tidak mempan sehingga sebaik jalan adalah mengabaikan kehadirannya.

Tetapi makin lama – ia mulai tertarik dan lebih fokus. Namun ada gangguan, Bagus belum punya email. Terpaksa dia harus mendaftar sendiri membuat email – mengisi dalam bahasa Inggris arti gender. Waktu ditanya soal umur saya terpaksa menyarankan usianya dibuat lebih tua dari sesungguhnya agar bisa membuat akunt tanpa persetujuan dari orang tua

Dasar bocah membuat nama email, membuat password dengan gaya selengekan. Saya terpaksa mulai mengarahkannya bahwa kalau email address paka nama “pancibocor“- akan terkesan tidak serius. Atau malahan dikira pemulung spesial panci. Email nanti dipakai untuk bisnis, untuk cari kerja. Itu seperti nama kedua kamu. Kalau sudah dikenal kerabat tidak boleh digonta ganti macam casing HP.

Saat mengisi hint untuk kasus lupa-lupa password dia memilih team sport kesayangannya “Manchester United” sebagai hint kedua.

Ternyata saat mengisi form, banyaknya pertanyaan yang rumit membuat Bagus mulai tiarap fokusnya. Ia bilang “boleh ndak Pakde aku sambil main Game..” – Saya sudah tahu kemana arah pertanyaan. Lalu sambil beranjak berdiri dari kursi saya bilang “kalau begitu Pakde sambil pulang…

Gertakan saya berhasil. Dia memegang tangan saya (senengnya), dan bersedia meneruskan pembuatan account di Yahoo.

Diam-diam saya dikerjai olehnya sebab kata sandi yang dipropose semula oleh Bagus tiba-tiba diubah tanpa sepengetahuan saya.

Keruan saya blingsatan, kapan anak ini ganti password. Tangannya mungil tetapi lincah bergerak di papan ketik.

Kali ini saya tegas. Kalau mau belajar dengan Pakde ikuti apa yang pakde perintahkan. Nanti kalau sudah lancar, password boleh kamu ganti. Ingat kalau password lupa maka Kiss Goodbye kepada email addresmu. Email sekarang ini boleh jadi yang memberimu kehidupan kalau sudah dewasa. Jadi jangan main main dengan nama emailmu.

Accountpun jadi.Tanpa ia sadari Bagus sedang memasuki dunia jagat Maya. Ia menyandang nama baru yaitu email addressnya.

Sekarang terpulang pada Bagus akan diisi apa. Boleh Pokemon seperti teman temannya. Atau foto saat berlibur.

Yang jelas mama Anna harus rela berebut satu laptop dengan kedua anak lelakinya, Bagus dan Gilang.

Advertisements