Ooo – Kembalikan NasiGoreng-ku – Padaku


DSC01017Gerobak nasi goreng ini terletak di jalan Muwardi Grogol. Saat diabadikan gerobak ini sepi. Maklum masih ada delapan jam kedepan menunggu beduk buka puasa. Penjualnya anak Demak, Deni, mudah dicirikan usia 30-an tinggi kurus dan berambut gondrong.

Semula keluarga kami amat menyukai masakannya. Satrio misalnya, nyaris tiada hari tanpa nasi goleng (ia tetap dengan keterbatasannya menyebut “R” menjadi “L”). Dagingnya empuk, besar-besar dan ramuan bumbunya pas di lidah.

Kalau sedang enggan makan ditempat biasanya kami memilih dibungkus. Begitu pesanan sampai dirumah godaan mulai terasa. Pertama Jepret bunyi karet gelang pengikat dilepas dan pembungkusnya berupa kertas coklat dibuka. Sesaat terhamparlah gunungan nasi goreng dengan beberapa butir yang hangus akibat kerak yang terbentuk di dasar wajan. Beberapa butir nasi seperti tak sudi bergelut sesama – pecah berhamparan sampai keluar kertas. Bau bawang goreng, kecap sedikit hangus, warna nasi kecoklatan dipadu dengan acar adalah hipnotis masakan Deni.

Sendok pertama biasanya dimulai dari pinggiran gunung nasi sambil menunggu panasnya mereda.

Perlahan gunung nasi dikikis ketengah-ketengah. Dan tak terasa nasi yang sepintas seperti “too much” menjadi “too small” – Ilmu makan nasi gorengpun – saya terapkan dalam hidup. Kalau menemui persoalan yang ruwet, selesaikan dulu sedikit dari pinggir sebelum terjun ketengahnya.

Belakangan, usaha Deni mulai redup dan mendekati jalan ditempat. Selain bahan-bahan mulai merangkak naik harganya, banyak kerabat Deni makan hari ini bayar besok. Modal yang memang cekak terpaksa minus lantaran ia bak IMF plus doa mudah-mudahan ada tetangga yang bayar hutang masakannya.

Lalu Deni memilih meninggalkan usaha nasi goreng dan berpindah menjadi penarik Ojek. Kami kehilangan kehangatan masakannya. Namun desakan Nasi Goreng Must Go On membuat kami berjuang dan dapatkan pengganti tak jauh dari lokasi Deni, sebuat saja nasi Goreng Depan Mesjid yang menyediakan masakan dengan bumbu 27Propinsi – ini gaya bahasa slengekan keponakan saya Gilang.

Kabar gembira. Dengan alasan tidak jelas – bajaj ia biarkan berlalu-dan Deni kembali ke haribaan pengoreng besinya.

Kamipun rindu dengan masakannya. Sayang, daging kambingnya sekarang mengkerut dan yang lebih sial, rasa masakannya seperti lelakon “Deni Minta Kawin..” – maksudnya cuma asin yang menonjol.

Umumnya restoran ditinggalkan pelanggan jika Juru masaknya hengkang dan diganti koki lain. Tetapi entah apa yang terjadi dengan Deni. Nampaknya Deni kehilangan sentuhan magik tangannya.

Lagi-lagi Gilang memberikan komentar “gara-gara kebiasaan hidup dalam getaran setang bajaj. Tangan Deni kehilangan feeling seberapa banyak bumbu musti di carup (campur-jawa).”

Deni, kalau kamu tidak berbenah diri pesona rambut gondrongmu tidak akan menolong pembeli datang. Cari dan kembalikan tangan emasmu.

Advertisements