Kisah Pengemis Jakarta


Jam lima sore – kendaraan yang saya kemudikan sudah berada di perempatan Pluit. Niatnya memang cuci mata bersama keluarga sambil ngabuburit di mall Pluit yang sejek bujek muncul disana belum pernah saya kunjungi.

Lampu merah sepertinya mantheng melotot melihat kelakuan pengendara mobil yang serobat serobot jalur BusWay.

Lalu diantara parade mobil dan motor nampak seorang bocah sepuluh tahunan, bermata satu, kepala jenong menjual koran yang nggak jelas apa maunya kecuali mengipas-ipas sentimen masa yaitu Rakyat Merdeka.

Sebelah saya mendesis kasihan anak kecil itu. Lalu dibelakangnya menyahut nampaknya ini drop-dropan dari kota lain macam Indramayu dan sekitarnya. Kata Pemda setiap tahun tercatat jumlah gepeng ini meningkat significant. Ada lima kendaraan didepan saya yang diketuk olehnya. Sial, tak satupun berminat akan koran yang sudah basi berita tersebut.

Begitu ia mendekati mobil kami, secara impuls kaca mobil saya turunkan. Sejumput uang kertas lecek sisa kembalikan tol dan parkir saya berikan.

Saya selalu bilang kepada anak saya :” aku melihat Mimbar kecil saat masih SD kepingin tahu rasanya jadi penjual koran – enak bisa baca koran gratis setiap hari…Dan dapat uang jajan.”

Hanya seper sepuluh detik – reaksinya luar biasa… Sebelah saya nyerocos “kita mau baik sama anak jalanan, nanti kita pula yang didenda. Kata Pemda DKI kalau mau berbuat amal salurkan kepada yayasan anak Yatim…”

Di belakang menyahut pula :”emang anak miskin hanya dipanti asuhan”

Entah dari mana datang pula celetukan “panti asuhan biasanya hanya terima orang yang segolongan (agama) atau mau ikut golongan mereka. Sampai-sampai pembantu rumah tangga merekapun harus satu sekte dengan mereka”

Pendek kata uang goceng sudah bikin seisi kendaraan berdebat. Lutuna (lucunya) kalau berdebat masing-masing bersikeras dengan data dan informasi yang masuk ranah “sahibul hikayat” atau teori “katanya dan teori utak-atik-gathuk alias konspirasi..”

Sampai di Mal Pluit, Koran yang bikin aku disemprot dari lini kiri kanan – saya berikan kepada bapak supir yang duduk-duduk menunggu majikannya belanja. Tiga jam kemudian, sekembalinya dari cuci mata, saya melewati tempat istirahat supir. Koran yang saya berikan tadi masih tergeletak ditempat yang sama, dengan lipatan nyaris seperti belum pernah di jembreng (buka lebar) sama sekali.

Sementara Pak supirnya sudah pada menghilang.

Lalu saya ingat cerita ibu Dahlia, kita singkat ibu Lia. Mantan Pramugari Garuda ini pekerjaan sehari-hari berjualan kuwe. Entah suatu hari ia tersiram “gist” – ragi pengembang kue, badannya yang tinggi besar melar macam bola bekel kecemplung minyak tanah. Sebagai warga banyak darah Betawinya, bicaranya ceplas ceplos. Namun jiwa sosialnya sangat tinggi. Dia tidak bisa bersidekap tangan manakala didekati seorang anggota Kay Pang ala Bekasi. Selalu saja dompet dirogohnya.

Ibu Lia tidak perduli MUI bilang pengemis Haram, sebab bagi ibu Lia – peranan MUI kelewat amat sering menyiratkan stigma bahwa MUI terkadang mengurus yang remeh temeh. Ia punya pendapat, malaikat sudah kirim pahala berbalut baju gepeng. Malaikat tidak selalu pakai Sayap dan bajunya putih tebal dan berploi-ploi.

Ibu ini menyimpan uang hasil penjualannya kepada satu bank pemerintah sebab iklannya The Best Bank, pakai orang bule pula. Didepannya antri para penyetor uang. Kasir biasanya mengecek jumlah yang yang akan disetor sembari mengkonformasi secara verbal kepada nasabahnya. Ibu Lia mendengar kata teller bank “Satu Juta Setengah” – kepada ibu didepannya.

“Perasaan aku kenal orang ini dimana?” – lalu ingatannya diputar – mirip bintang Sinetron-kah, Situasi Komedi, sanak saudara barangkali. Jawabannya adalah ibu gagah didepannya tadi adalah pengemis yang selama ini piaway dengan acting renta kelaparan. Ibu Lia memang kerap melihat di tayangan televisi atau media lainnya bahwa para petani ini di kampungnya hidup tidak kekurangan seperti yang kita bayangkan,

“Bagusnya ibu <pura-pura>gembel ini dapat Academy Award..”

Jakarta Agustus 2009

Advertisements