Apa sih istimewanya Bali menurut Benny dan Mice (2)


Kali ini Benny dan Mice terdampar disebuah kafe di Bali yang ternyata isinya kaum berjakun mulai dari pelayan sampai ke artis penghiburnya.

Yang dia heran para pemuda Indo yang masuk disana ada yang menggunakan celak (maskara) di matanya, rambut potong cepak dengan tak kurang dari setengah kilogram jeli membalut dikepalanya.

Mereka umumnya berbaju ketat, lengan pendek tetapi masih digulung juga, atau kaos hitam lengan panjang ketat sehingga tubuh yang setiap hari berjam-jam ditempa angkat beban langsung kelihatan menonjol.

Dua orang Jakarta ini jadi semangkin heran sebab di Kafe ini lelaki dan lelaki saling cipika cipiki mirip pria Arab kalau bertemu sesama, apalagi banyak yang entah kenapa kalau berjalan tangannya melambai seperti Bagawan Kombayana dari Sokalima.

Pendeknya pemuda kafe adalah model kelompok “metrosexual” yang tahan berjam-jam sibuk facial, pijat, manicure, pedicure dan meng-creambath rambut di salon.

Ketika acara meningkat lebih seru yaitu acara striptease oleh pemuda atletis dengan expresi sedingin mayat, Beni dan Mice mengomentarinya sebagai acara pamer kolor. Mereka berdua juga tak habis pikir lengan yang berotot tetapi zonder bulu ketiak… “Kok Janggal.”

Ketika urusan dari bulu kelek turun ke bulu arus bawah untuk tidak mengesankan porno, Beni dan Mice secara jenius menyimbulkan seorang tukang kebun sedang memangkas perdu yang lebat dan dibentuk mirip kepala domba.

Dengan gaya manusia bijaksana dan suci salah satu dari mereka berbicara “lama-lama Oirentasi kita berbalik…” Herannya sampai di hotel, ternyata satu rekannya (Mice) sudah mulai terganggu mental orientasi.

Sebuah sidiran bahwa banyak dari kita yang nampak “normal” – menikah, punya anak namun sebenarnya tergoda kehidupan “melambai” – sekalipun ditutupi begitu rapat. Sindiran lain adalah kebiasaan para artis bangga betul kalau bikin press release “kami jadian (pacaran) di Bali,” langsung dikomentari Mice “jadian di Bajaj juga bisa..”

Komik – Lost in Bali 2 – menurut saya merupakan pengalaman mereka di Bali memang persis apa yang kita hadapi sehari-hari disana, seperti ketidak acuhan penjual, atau waiters kalau kita yang berbelanja sekalipun memborong. Padahal bule yang cuma beli sebotol air mineral diperlakukan bak raja.

Buku Beni and Mice Lost in Bali 2

Advertisements