Nyaris Kebakaran


Musim kemarau begini, cuaca begitu panas umumnya bahaya kebakaran selalu mengancam. Apalagi rumah-rumah yang padat penduduknya.Salah satu seperti nampak pada gambar 1

Azan Isya sudah mulai terdengar dari satu mesjid disusul dari surau satunya, ditimpali langgar berikutnya. Panggilan untuk melaksanakan salat berjamaah Tarawih bagi umat yang berpuasa

Mendadak terdengar ledakan yang selalu saja disimplified sebagai ban bajaj meleduk, atau alasan apa saja. Tetapi serentak terdengan orang pada berteriak di Jalan Muwardi Raya, biasanya sesuatu tidak normal terjadi.

Betul saja. Sebuah rumah bertingkat, dinding, pagar besi seperti dirasa kurang aman sehingga pemiliknya merasa perlu menutup rumah dengan potongan papan, triplex. Seekor ayam dilepaskan dalam rumah ini akan mati kelaparan karena sama sekali tidak ada ruang untuk mengintip.

Aliran listrik di rumah inilah yang menimbulkan kehebohan warga sebab lelatu api yang ditimbulkan dari rumahnya. Seorang pahlawan tanpa nama mencoba menggedor rumah tersebut. Penghuni tak bergeming. Panik karena api makin membakar rumah, maka penduduk menggeruduki rumah tersebut dengan batu. Sang penghuni ambil langkah seribu sehingga orang harus naik tangga menyemprot api dengan racun api tipe bubuk.

Api padam, drama selesai.

Ternyata tidak demikian. Saat TKP ditinggalkan – hanya beberapa menit berselang, kami mendengar teriakan panik yang ternyata, lelatu api muncul kembali. Setelah dua tabung racun api milik tetangga yang disemprotkan maka PLN dan Barisan Pemadam Api mulai dihubungi.

Jam 21:00 petugas PLN datang, tangga bambu diturunkan dan tangga aluminium dinaikkan. Petugas lalu naik memeriksa kabel-kabel listrik yang berseliweran.

Tiga menit kemudian diiringi suara sirine yang meraung – tiga mobil brandwijr Jakarta Barat mendatangi lokasi. Tangki 375, 378, 349 diikuti dua mobil komando nampak berjaga-jaga. Aliran listrik baru dipadamkan, dan saat itulah penghuni Jalan Muwardi Grogol baru “ngeh” bahwa nyaris terjadi kebakaran ada didepan mata.

Sambil berkumpul maka muncul spekulasi dan teori konspirasi bahwa “jangan-jangan ada hubungannya dengan rencana penggusuran warga di lahan liar” – Kalau saja teori konspirasi dibuat desertasi saya yakin kita surplus doktor.

Mendekati jam 22:00 listrik kembali dinyalakan.

Keesokan harinya saya sempatkan mengabadikan bangunan yang nyaris celaka dan membuat celaka tetangga sekitarnya.

Terimakasih kepada PLN dan Pemadam Kebakaran yang sigap merespons tilpun warga Jakarta Barat. Tiga brandwijr bukan berlebihan sebab kawasan Muwardi Raya kondang dengan hoki dibidang Percetakan. Tumpukan kertas, bahan kimia yang mudah terbakar adalah kombinasi cocok untuk menyalakan api.

Ketika saya masuk ke Jakarta sebagai Urban. Sekitar tahun 1975 an dari rumah kami, jalan kereta masih nampak. Disisi jalan kereta ada selokan besar pembuangan sampah. Perlahan-lahan bangunan liar mulai mengisi kawasan tersebut.

Kereta liwat sudah tidak nampak karena ditutupi bangunan yang semula papan disulap menjadi permanen. Bahkan kalau memiliki backing bersenjata bintang, mereka mendirikan bangunan bertingkat. Celakanya lagi, selokan-selokan main diurug dan diatasnya didirikan bangunan.

Kini Pemda sudah memberikan peringatan. Seorang sumber mengatakan bah saya 47tahun sudah dibebaskan menggunakan lahan liar. Seharusnya berterimakasih. Ada yang minimal punya enam rumah gedung bertingkat.

Tetapi namanya nafsu serakah. Masih banyak yang berkelit – misalnya – betl anak-anaknya jadi sarjana, akibat “tanah pinjaman” dari pemerintah, kenapa tidak diberikan saja sekalian kepada mereka.

Atau memang rasa berterimakasih kita sudah sirna sehingga yang salah selalu Pemda dan Trantib.

Advertisements