Kerajaan Kaum Sandal CROCKS


Gara-gara tahu bahwa saya sedang kesemsem dengan Muara Angke sekalipun airnya bau badhek van bacin seorang kerabat membisikkan kepada saya bahwa di kawasan yang katanya Badhek tadi ada pasar tradisional yang bersih.

Ia mengimingi saya bahwa begitu bersihnya sampai-sampai pasar tradisional Singapore-pun harus pikir-pikir untuk menyainginya.

Mana mungkin pikir saya. Mungkin membuat bangunan semegah Singapore kita tidak problem. Tetapi berdisiplin untuk tidak buang sampah sembarangan, kita harus belajar entah berapa abad lagi.

Mumpung belum bulan puasa rasa penasaran akan cerita tersebut maka saya buktikan juga mendatangi Fresh Market di kawasan Pantai Indah Kapuk.

Lho kok betul, pasar tradisional berada didalam gedung ber AC tampak tertata bersih. Di lantai atas, penjual makanan menata dagangan dan kursi persis gaya hawker di Singapore. Ternyata sebagian bangsa ini kalau mereka mau.. Hidup bersih dari sampah bisa dilakukan. Asalkan ngotot berkomitmen menciptakan lingkungan mirip Singapura.

Begitu “Jleg” duduk di bangku bulat warna hijau dengan kaki disemen di lantai, beberapa pedagang minuman sudah mulai menawarkan pelbagai minuman seperti Teh Poci, Susu Kacang, Jus buah.

Yang bikin hati serasa di negeri entah berantah adalah panggilan engkoh dan encih kepada setiap orang.

Sambil menunggu orderan datang, saya melayangkan pandangan kesisi sekitar. Ternyata, umumnya mereka pakai celana pendek, dan bersendal Crocks.

Rata-rata pengunjungnya memang berkulit terang yang secara serampangan bisa dibilang kaum yang berkutat dengan ekonomi bukan urusan Kampung Tengah (Kampung Tengah= urusan perut).

Rupa-rupanya melihat kami begitu “enjoy aja” – diantara kelompok etnis yang pandai berdagang ini, seorang pemilik kedai Cincau Selasih selalu mencoba bercakap “HoaKian” seperti menyebut harga minuman dengan “SakBan, No Ban…” – dia tidak mundur teratur ketika kita balik bertanya “Sakban atau Noban itu berapa enci?…”

Acara makan siang sudah selesai, mendadak seorang mbak-mbak setengah berlari saya… “engKoh – mangkok sudah bisa saya ambil?”. Melihat begitu semangat cara kerjanya saya pikir – Mangkok persediaan sudah habis, sekalipun jam makan siang sudah usai. Artinya pengunjung yang masih “mbegegeg” – betah duduk disitu hanya kami.

“Bukan Engkoh… mangkok kotor saya singkirkan sebab kami mau tutup, ada pertandingan Tujuh Belasan…” – lalu klentang-klenting jari-jarinya menjepit mangkok, gelas dan setengah terbang ia menghilang dibalik tembok. Mungkin tempat cuci piring.

Cuma sepanjang setengah lagu “Berkibarlah Benderaku” – dia sudah muncul lagi. Nampaknya sudah selesai cuci piring dan setengah terbang turun melalui tangga berjalan untuk bergabung dengan peserta Lomba menyambut 17Agustusan. Di lantai parkir Fresh Market Pluit ini saya lihat beberapa pertandingan digelar seperti makan kerupuk dan balap karung.

Sekarang giliran Enci pemilik warung Cincau dan Selasih- mendekati kami. Kali ini pakai bahasa Indo. “Engkoh dari Medan pasti ya…”

Sampai sekarang masih penasaran apa yang membuatnya begitu ngotot kami adalah maaf Cina Medan? Apakah ini maksudnya kalau orang Medan tidak bicara Hoakian. Atau mencium bau saya amis seperti “Bika Ambon van Medan dan Lihay serta licin dalam berdagang. Wallahualam.

Advertisements