Media berimbang – mimpi kale


Motto yang banyak dijumpai saat media mulai membangun kepercayaan terhadap pelanggannya. Atau kalau sempat memperhatikan iklan di ruas jalan tol Semanggi “kebenaran itu tidak pernah memihak,” kata koran tergolong masih “piyik” dibelantara media.

Namun kalau anda percaya – kepada yayasan Habibie yang baru-baru ini melakukan survey terhadap netralitas sebuah media. Anda akan mendapatkan kesimpulan bahwa “cover both side” sudah di “vrek” kan oleh sementara media. Koran sudah tidak mendidik pembacanya. Mereka cenderung terperosok kepada pembodohan bangsa. Mereka mengambil contoh aktual misalnya kontroversi RUU Anti Pornograpi.

Kompas, Media Indonesia dan majalah Tempo dikenal kontra terhadap RUU ini. Akibatnya pemberitaan dari kubu kelompok yang disimplifikasi menjadi (moderate dan abangan) hanya seputar pendukungnya. Lalu salah satu responden menjawab “kami tidak perlu mewawancarai pihak yang pro, sebab tidak perlu mempertentangkan pendapat.”

Sebaliknya Republika yang dikenal pro RUU AntiPornograpi – mendukung habis habisan undang-undang tersebut tanpa merasa perlu mengetengahkan opini pihak yang berseberangan. Untunglah masih ada satu majalah yang dianggap netral. Hanya Gatra yang tidak mendorong orang masuk kedalam perangkap salah satu sisi pertentangan.

Lalu saya ingat saat kerusuhan di Maluku. Sebuah media dari Jawa, karena wartawannya kelompok agama mayoritas, maka berita selalu seputar “full glory” – kemenangan kelompok minoritas ini menyakiti bahkan menewaskan sesama bangsa. Tak heran lalu berdatangan para”pembela” ke Maluku. Lalu bagaimana dengan wartawan dari kelompok minoritas? – rupanya merekapun berjuang menerbitkan koran yang berisikan “pekik kemenangan” mengusir kaum yang “Zolim”

Dengan mengipasi pertentangan aqidah ini, koran dari Jawa langsung melejit oplagnya. Sayang saat dicari arsip koran satu pemred dua berita ini tidak bisa ditemukan. Saya tidak tahu apakah yayasan Habibie sempat memasukkan agenda koran yang pandai mengipasi kesempatan dalam kesempitan ini.

Saya harus hati-hati memilih bacaan, ternyata. Apalaggi sudah terkadung berpendapat bahwa media yang netral biasanya seperti gado-gado minus cabe.

Advertisements