Kumbayana van South Carolina


sugar dan pemiliknya

Ada fabel ironi di negeri ini ketika lelakon Cicak bertarung dengan Buaya. Sebagai perumpamaan friksi antara institut kepolisian yang merasa disadap pembicaraan tilpunnya oleh KPK – Cicak. Oleh Majalah Tempo – Buaya mengibaratkan makhluk teramat kuat, melahap kura-kura, sampai sapi gemuk. Tak sepadan dengan cicak yang paling banter memangsa laron atau nyamuk rumah.

Maka majalah Tempo membuat karikatur berupa arena gladiator dengan penontonnya tikus kepala hitam, saya jadi kepikiran kalau dibuat peribahasa Cicak bertarung lawan Buaya – Tikus pesta pora di tengah-tengah.

*****

Dunia Fabel berinteraksi dengan manusia sering dilihat dalam dunia film khayal  untuk anak-anak. Tetapi yang satu ini sudah diejawantahkan dalam dunia nyata.

Amerika di suatu malam. Tepatnya Thanks Giving Day 2007 di saat orang lain melahap hidangan kalkun, maka Vereen, 50, menyelinap keluar rumah makan angin. Saat berjalan matanya nanar memandang sosok lawan jenis cantik berkulit coklat mulus, rambut “pony tail” dengan surai menggantung di leher jenjang mengintip dari balik jeruji membuat penasaran untuk mendekat.

Dari pandangan ‘Tarif Atas’, wajah, leher sudah boleh diponten lulus tanpa keberatan.  Begitu masuk ke ‘Tarif Bawah’, weladhalah ada paha dan kaki panjang yang lencir langsing namun berotot.  Gayung bersambut sembari terkikik mendengus betina menggerakkan kepalanya seperti menganngguk dan ditafsirkan mengajaknya sang Romeo untuk mengobrol. Soal apa yang dibicarakan sulit kita dipahami.

Lama kelamaan diterpa dinginnya malam kedua pasangan saling lupa-lupa ingat, yang ada keduanya ingat-ingat  untuk lebih mendekatkan diri dan eng..ing..eng siap menghangatkan diri. Byuh byuh.

Tetapi ketika hubungan akan dilanjutkan lebih intens lagi, ternyata fisik Sugar,15, sang penggoda itu terlalu tinggi bagi Vereen. Namanya asmara sudah membetot, akalpun menjadi kreatif. Tumpukan jerami dijadikan injakan sekaligus ranjang pengantin.

Habis bercumbu beberapa putaran, warga Louisiana ini tertidur kelelahan di samping sang “kekasih” sampai pagi. Tak dinyana Barbara Kenley tetangganya merangkap pemilik rumah memergokinya.

Lantaran perbuatan tersebut, Vereen dihukum percobaan 3 tahun dengan dakwaan – memasuki milik pribadi dan berhubungan dengan “under age alias minor”.

Beberapa bulan ditahan, Vereen dibebaskan.

Ini membuat Barbara ketar ketir dari rumahnya yang lima mil dari kediaman Sugar. Instinknya mengatakan Sugar terlalu mandah dan legawa alias “bloon abis” dirayu gombal ala pria macam Vereen.

Kadang Barbara bersembunyi dari kejauhan sambil mengokang senjata api. Ini Amerika setiap penduduk berhak memiliki senjata api laras panjang.

Sayang sang Romeo dari Carolina nampaknya tahu bakalan “kena bala”  iapun urung menyambangi. Buruan urung datang berkunjung.

Akhirnya – Barbara memasang camera tersembunyi di beberapa spot. Dan pada 19 Juli 2009 kisah cinta asmara tak sejenis ini tertangkap kamera dalam video hitam putih, maklum pakai teknologi infra merah.

Polisi datang dan baru percaya bahwa memang terjadi hubungan entah suka sama suka atau kategori pemerkosaan terhadap mahluk berlainan jenis. Lho kok?

Di depan polisi Barbara hanya punya satu kata “He molested her…

Terang saja Barbara uring-uringan sebab belakangan ini kelakuan Sugar menjadi aneh dan ada bagian tubuh menderita infeksi. Namun Sugar tidak pernah mengeluh. Maklum ia cuma seekor kuda betina yang sehat berkulit coklat dan belum memasuki musim kawin.

Saat dikonfrontasi oleh polisi, Vereen tidak mengelak, ia hanya berulang-ulang minta maaf jika perbuatannya melukai sang induk semang. Sementara pihak keluarga “ROMEO” berkilah adiknya lupa minum obat sehingga sering berhalusinasi.

Barbara adalah peternak kuda. Ia memiliki beberapa kuda yang dianggap sebagai anaknya. Mengherankan hanya Sugar yang membuat mas Vereen “jatuh bangun” dalam arti kata beneran. Lha kalau kesepak (tertendang) apa tidak terjengkang.

Di tanah air, belum lama ini ada seorang pria yang ngerjain hewan sampai berbadan dua. Tapi dia tidak perlu risau akan dipenjara sebab alih-alih dihukum malahan sang hewan yang dihukum dan ditenggelamkan ke laut.

Dalam cerita Mahabrata versi Jawa dikisahkan seorang tokoh sakti bernama KUMBAYANA kelak menjadi Bagawan Dorna yang pernah berkasihan kepada dewi Semberani bernama Krepi.

Waktu diajak menyeberangi lautan, janjinya Kumbayana hanya memeluk leher sang Semberani, tetapi entah mengapa selalu saja saat kuda terbang meninggi, Kumbayana punya alasan melorot sampai bagian belakang kuda.

Sampai di tempat tujuan sang Semberani mengandung. Kelak anak tersebut dinamai Haswatama. Satria yang sakti namun telapak kakinya adalah kaki kuda. Ternyata dunia wayang juga bisa menjadi alam nyata.

Advertisements