Klakson atawa tuter untuk buang sial


Sehari-hari, berangkat kerja dan balik lagi saya hampir selalu melewati terowongan panjang di kawasan JORR (Jakarta Outer Ring Road) Kampung Rambutan-  Pondok Indah.  Di depan terowongan panjang, penerimaan radio biasanya “nguik-nguik” – Bahkan TV satelitpun merayap disini. Lalu ada peringatan menghidupkan lampu sekalipun disiang hari. Ini memang akal-akalan pengelola jalan tol. Begitu membayar tol didepan loket sudah ditulis HARAP UANG PAS. mungkin karena mereka tidak mau ribet mencari uang susuk (kembalian). Sekarang terowongan minim penerangan, pengguna jalan yang diminta sumbangsih menyalakan lampu di siang hari.

Tetapi alih-alih menyalakan lampu biasa, umumnya sebahagian pengemudi menyalakan lampu hazzard. Yang repot sudah pakai hazzard yang kuning kedap kedip disisi kanan dan kiri kadang mereka masih ngebut dan santai saja zigzag berpindah jalur dalam terowongan yang sempit itu. Tinggal kita degdegan menebak – akan belok kiri atau ke kanan.

Sementara itu Bis atau Truk punya kebiasaan “bid’ah” dengan membunyikan klakson saat berada di dalam terowongan. Gemanya itu lho yang kadang bikin jantungan.

Semula saya kita ia minta diberi jalan untuk menyusul.  Ternyata jalan lenggang kangkungpun para pengemudi bus maupun truk gatal tangannya untuk menekan tuter.

Beberapa teman mengatakan, membuang bunyi klakson ditempat yang angker bertujuan mengusir bala.

Sebentar lagi musim mudik lebaran. Ada pemandangan yang ajeg (tetap) untuk disimak. Bagi anda yang menggunakan jalur Pantura, coba perhatikan sebuah Jembatan SEWU terletak di perbatasan Subang dengan Indramayu. Sekalipun siang bolong terik menyengat, banyak anak-anak, orang tua, lelaki perempuan berjejer dipinggir jembatan dengan mata nanar nyalang menatap setiap kendaraan yang lewat dan harus memperlambat kecepatan lantaran jalannya rusak. Sikap mereka seperti pemain volly menunggu bola di serve lawan. Hanya kali ini yang diserve adalah uang recehan.

Entah sejak kapan ada kepercayaan bahwa melempar uang receh di kali Sewu akan membawa berkah. Yang pasti sebagian penduduk sekitar sudah menikmati berkah tersebut. Entah kita.

Padahal di muka jembata tidak ada aturan untuk – Silahkan Membuang Recehan – agar tidak mendapat musibah seperti legenda masyarakat akan kakak beradik Saidah dan Saini yang menghilang di jembatan Sewu.

Tetapi apa hubungannya dengan membuang recehan. Itu yang misteri.

Advertisements