Syeh van Tanjung Pinang


Orang Singapura rata-rata doyan plesiran ke pulau Batam. Saban akhir pekan bukan main tingkat hunian hotel disana. Sejalan dengan waktu karena berjubelnya turis luar dengan kekuatan dollar, selain crowded, biaya hidup sehari-hari menjadi mahal.

“Batam allready expensive- similar to Singapore, many Singaporean go there.. Price ups..” – Itu yang bicara supir truk yang menyewakan kendaraannya untuk mengangkut barang pindahan rumah tangga bulan Juni 2009. Ia lalu memilih TanjungPinang di pulau Bintan.

Ingat kota pantun, ingat Gurindam dan jangan lupa Pulau Penyengat, yang konon dulu ada spesies tawon mampu membuat pelaut jaman dulu langsung “ditutup amal bhaktinya di dunia. Kecuali doa anak-anaknya yang sholeh dan sholeha.”

TJS (65), seorang supir taksi Singapura yang lain sepertinya tidak mau ketinggalan merapatkan barisan penggemar kota Gurindam. Iapun menyempatkan menghibur diri ke kota diselatan Bintan. Ada bir murah, ada seafood “reasonable price” – dan yang paling penting kalau sudah banyak makan masakan laut semacam cumi, kerang, oyster berlada hitam seketika dia berubah menjadi tawon jantan kepingin menyengat disana sini.

Lumrahnya seusia dia adalah mencari “lentera jiwa“, kata Gde Permana. Atau dalam bahasa kota Gudek “nggolek dalan pepadang” – alias mencari jalan pencerahan. Dia malahan tetap sibuk “nggolek dalan bayi” – artinya mencari “liang tempat bayi keluar..” – tentu yang nir- muhrim.

Cuma kalau sajak Gurindam kadang di akhiri hurup sama semisal

Barang siapa mengenal yang tersebut

Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang

Seperti rumah tiada bertiang

Maka TJS mencari “lawan” entah mengapa doyan nama perempuan mirip gurindam. Selalu diawali hurup A atau E.

Perempuan terakhir yang dilakukan pencoblosan zonder bawaslu apalagi dpt ini dilakukan  dalam bilik tertutup tanpa saksi. Konon lebih dari dua putaran. Hanya perlu satu orang yang bisa ditekuk dilipat yaitu Evi.

Evi sendiri tidak tamat sekolah, namun kepada Sri, teman merangkap Mucikari ia minta dicarikan “konco turu” alias teman tidur yang tajir agar duitnya bisa ditabung untuk sekolah. Klise memang.

Sri, ibu dari 3 anak termasuk pandai memanfaatkan kesempatan, apalagi sedang musimnya kawinan berbulu membantu  kaum Dhuafa bawah usia ke tempat tidur. Kak Seto bilang itu Phedofilia.

Maka zonder banyak bicara, TJS pun bisa melepaskan dorongan SATET – ini istilah pak Guno dari Poskota “Saluran Asmara Tegangan Tinggi..” kepada anak “bau kencur” usia 14tahun.

Biaya berapa diminta Evi pun diluluskan asalkan satu saja permintaan TJS, adegan cumbana-smaradana bandot gaek melahap daun muda bisa didokumentasikan secara digital sebagai sarana “doping” agar voltase yang anjlog ke 110 bisa dicharge naik 220volt, syukur 240V.

Tetapi polisi mengendus bahwa sebelum Evi masih ada perempuan lain yang dipasok oleh SRI dan semua adegan ranjang direkam dan “bocor” ke luar. Inilah yang membawa supir taxi Singapora ini berhadapan dengan institusi BUAYA.

Buaya adalah istilah kepolisian ketika merasa privasinya disadap oleh Cicak (KPK). Di depan polisi buaya dia tidak bisa berkelit dengan pembenaran pakai ayat-ayat berbahasa asing, ataupun ikutan tradisi negara yang nuun jauh disana agar bisa mendapat simpati.

Setelah diperiksa lebih lanjut, ketahuan bahwa Sri bukan saja mucikari akan hajat “SATET” TJS, juga SOULMATE daripada TJS, alias istri daripada TJS yang mana daripada menikahinya, daripada selama sepuluh kali lebaran. Luar biasanya SRI sendiri nampak hamil 8 bulan yang menurut pengakuannya hasil hubungan dengan anak remaja brondong putus sekolah.

Suami cari perawan bau kencur, Istri cari anak muda. Kedudukan satu-satu di mata mereka. Ini baru namanya keluarga penggemar “Wong Cilik”

Advertisements