Logo Rumah Makan Minang bukan jaminan


Dua jam kami menyeberangi Selat Sunda. Saya bahkan tidak sempat membaca nama Ferry yang saya tumpangi dari pelabuhan Bakauheni sebab disamping gemuruh pelabuhan, hari itu kami datang bersamaan dengan rombongan dengan penikmat vespa tua. Petugas main teriak “langsung ke atas -langsung keatas” maksudnya kendaraan akan di parkir di dek, bukan diperut kapal yang pengap dan pesing. Dengan parkir didek, kami bisa menikmati perjalanan selama dua jam ditiup angin laut sore.

Sebuah mobil bernomor Jakarta harus kena batunya. Kebiasaan mepet nyaris sekilan dibelakang kendaraan, membuat pengemudinya panik tatkala kendaraan didepannya ngos-ngosan tak kuat mendaki tanjakan curam. Suara klakson, teriakan penumpang saling bersahutan. Tidak lama kemudian bau kampas kompling terbakar mulai menyengat.

Saat mendarat di pelabuhan Merak, waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 sehingga buru-buru mata jelalatan mencari restoran disekitar Merak.

Dari kejauhan nampak sebuah rumah makan berlogo Rumah Minangkabau dengan merek belakangnya pakai “O”– sebagai pelengkap bahwa rumah makan yang kami datangi adalah RM masakan Padang. Jaman Ikon, jaman Logo, ndak perlu membaca teramat teliti kalau ada ujut dengan dua tanduk disamping kiri dan kanan, itu rumah makan Minang. Serupa dengan logo M untuk makanan cepat saji.

Cuma yang bikin heran, mereka menyediakan nasi pakai Bakul Bambu. Pelayannya “ibu Kartini” – Sebuah kebiasaan yang agak ganjil di mata.

Sepiring daging cincang saya sendok, ternyata dagingnya teramat kekar. Biasanya kalau menemukan kesukaran begini, saya atasi dengan menelan begitu saja sang “pemberontak”– sayangnya usaha ini pun gagal potongan daging terlalu besar. Saya melanggar pantangan dengan “melepeh” daging di piring.

Lalu saya ambil gorengan ikan Lele, biasanya RM Padang amat mahir menggoreng ikan ini, namun saya terpaksa menelan pil pahit sebab selain dagingnya liat serta berminyak lantaran digoreng berulang-ulang.

Saat membayar, di bon tertera nama rumah makan dengan keterangan “spesial ayam goreng..(nama sebuah kota di Jawa Tengah yang kondang akan ayam gorengnya)”– Saya tidak protes kepada pemiliknya yang bertubuh subur, demikian juga anak-anaknya. Yang jelas, rumah makan yang sepi pengunjung ini akan saya coret dalam daftar untuk dikunjungi. Sekalipun mereka memasang spanduk penuh simpati kepada para TKI kita yang makan disana.

Beda sekali saat kami menuju Lampung. Restoran Padang Simpang Raya di Bakauheni yang menghidangkan makanan yang “mak nyoz”– dan perlu direkomendasikan. Apalagi pelayanannya ramah, cepat dan bersih.

Advertisements