Jaya Suprana dan keponakan saya Bagus


AUDISI DENGAN JAYA SUPRANA

Bagaimana hati Ibunda Bagus tidak harap-harap cemas ketika mengantarkan putranya yang duduk di SD kelas 3 untuk di audisi oleh doktor musik kenamaan Indonesia, bapak Jaya Suprana – tokoh Jamu dan pemrakarsa ilmu kelirumologi dan entah segudang kejeniusan beliau.

Ibu keponakan saya berharap hanya satu putaran, Bagus adik Gilang yang belum di khitan, bisa belajar biola atau piano ditangan pakar yag sebenarnya langsung dari sumbernya. Apalagi Jaya Suprana tidak mengutip satu benggolpun biaya.

ANAK IBU LUCU…

Setelah beberapa menit dalam ruang audisi, hasil “quick count” datang sudah.

Sambil menuntun Bagus keluar ruang audisi Jaya Suprana dengan senyumnya yang khas mengatakan “Anak ibu lucu.. saya tanya mau belajar biola tidak, dia langsung jawab TIDAK..” – tentu lucu bagi Jaya yang umumnya ribuan para ibu lainnya bersedia berkorban harta dan waktu demi kemajuan anaknya sementara mahluk kecil didepannya tegas bilang TIDAK. Persis iklan caleg.

Tentu sang ibu yang berharap banyak menjadi berang. Ibupun tahu Bagus adalah anak dengan bakat matematika dan logika. Ia nyaris besar miskin empati, sebab kehidupan dilihat dari angka positif atau negatif. Maka bermain alat musik adalah salah satu sarana membuat belahan otak matematisnya diseimbangkan oleh otak sosial. Diinterogai sang mama, dia langsung punya senjata rahasia: “mama selalu bilang, biola harganya mahal. nanti kalau aku sudah les, apa mau belikan Biola (mahal?).” – Rupanya mengajar anak akan hidup sepertunya, hemat, terkadang tanpa diduga bisa menjadi bumerang.

PAK POS CUMA PENCET BEL SEKALI

Ketika bertemu saya minggu lalu di awal Juli 2009, kepada Bagus saya menyampaikan pepatah Inggris bahwa pak Pos tidak pernah memencet bel dua kali. Artinya, setiap ada kesempatan pintu terbuka dan kamu berusaha tidak membukanya kancingnya maka kesempatan itu akan berlalu begitu saja. Bagus hanya menjawab singkat :”kalau ada tawaran jadi pengemis, apa aku bilang iya…

Kalau anda belum pernah melihat seorang pakde di usia nyaris 60tahun wajahnya silih berganti merah kuning hijau biru sambil kedua lubang telinga seakan menyembur asap putih tebal disekak maat oleh anak kelas 3 SD. Maka di jalan Muwardi raya 14 TKP berlangsung cepat dan satu putaran.

Di sebuah mal besar ia melihat jajaran pedagang penganan tradisional nampak sepi pengunjung, sementara makanan franchise berupa kentang goreng begitu padat diantri anak-anak.

Saya mencoba menumbuhkan empati dengan mengatakan bahwa “penganan tradisional perlahan akan tergeser, kalau anak-anak lebih suka menjilati sisa makanan (asing) di jarinya..” – Saya pikir dia akan tumbuh empati, seperti kalau saya mengajarkan budi pekerti kepada anak saya Lia dan Satrio. Ternyata enteng Bagus menjawab “salah sendiri, jualan kue (tradisional) di mal..” – sambil menarik tangan saya kedalam resto cepat saji.

Kepada ibunya saya mengatakan – anakmu cocok jadi politikus. Dia gampang sekali menyalahkan pihak lain. Politikus sekarang, dia jadi bagian pembuat undang-undang, kasarnya menjadi orang pemerintah tetapi manakala kampanya bisa-bisanya bilang “pemerintah tidak becus, salah pemerintah..”

Advertisements