Siapa mau cek BRI Manokwari senilai empat milyar lebih


Bohong_Page_1Paket surat  ini ditemukan didepan pintu gerbang, masih dalam keadaan licin tandanya baru dicetak, pada tulisan kertas kopi tebal ada kop bernama PT MICO GRAHA PAVINDO lalu dituliskan dengan kata serius – Dokumen Penting ber nomor registrasi 18900747/CN/11.

Anda yang sering berhubungan dengan institusi negara pasti sering menemui jenis amplop serupa.

Lalu bukalah amplop coklat mulus ini, oh ada sertifikat tanah dari Badan Pertanahan Nasional, juga masih mulus, konon merupakan sertifikat nomor 247/32/BPN/X/2008 milik Drs. A. Lesnusa MM – jabatan Sekda Kabupaten Manokwari.

Lembaran surat berharga lainnya adalah SIUP keluaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya  dengan  nama pemilik HERY SUBIANTORO SE MSI– Jabatan Presiden Direktur, dan ini dia HPnya ada tertera 0813 841 22 177 dengan nilai investasi 17 miliar lebih.

Bohong_Page_2Yang lebih mencengangkan Logo Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur lebih mirip logo DKI – lantaran simbul tugu lebih Monas ketimbang tugu pahlawan Surabaya. Saya contohkan situs dari Internet

Logo dari situs resmi Dinas Perindustrian danPerdagangan Jawa Timur. Tugunya lebih tambun
Logo dari situs resmi Dinas Perindustrian danPerdagangan Jawa Timur. Tugunya lebih tambun

Dan yang lebih penting lagi sebuah cek BRI Cabang Manokwari sebesar Empat Miliar Tujuh Ratus Juta Rupiah.

Anda yang jujur tentu akan menghubungi PT  Mico Graha Pavindo di (031) 355 1103 atau HP seperti diatas.

Kalau sudah terjadi jual beli omongan, pemilik cek yang baik hati akan memberi anda sekedar uang lelah melalui ATM. Begitu anda terbuai,  maka sebentar saja ATM anda akan terkuras habis. Di Televisi jenis akal-akalan ini pernah di tayangkan di Medan.

Tetapi yang mengherankan ada juga anggota keluarga masih ingin coba menghubunginya kalau tidak saya larang. Kata mereka – kan tidak punya ATM apa salahnya. Rejeki bisa datang dari siapa saja. Kata kunci yang bisa sangat dikuasai oleh sang penipu.

Lalu saya ingat bang Aldi, seorang tukang AC, dia bilang menemukan hal yang sama. Cuma dia selamat lantaran saat si orang Kaya van Jawa Timur ini menanyakan rekening, dia bilang nggak pernah punya rekening. Lucunya sampai sekarang tidak ada pihak yang berusaha mengambil surat berharga aspal tadi.

Nah ini dia posting beberapa blogg

http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/2972

http://karodalnet.blogspot.com/2009/03/awas-penipuan-modus-surat-tanah-dan-cek.html
http://aciteritory.co.cc/?tag=surat-tanah

Advertisements

Terbit Hari Ini


Habis makan siang berupa pecel lele dan sepotong tahu goreng saya berniat mencari majalah Gatra. Hanya beda satu warung di depan SPBU Marinir ada agen majalah langganan saya.

Biasanya majalah Gatra terbit hari Jumat, namun adakalanya hari Kamis siang sudah terbit.  Ibu penjualnya dengan gaya bicara Sumatera Utaraan- bilang “baru terbit hari ini” – tetapi saya tidak melihat majalah tersebut terpajang.

Rupa-rupanya saya salah mengartikan kata “baru terbit hari ini”- yang menurut sang ibu baru keluar dari percetakan tetapi belum didistribusikan pada hari yang sama.

Lantai Tertinggi Justru Letaknya di Basement


Marcopolo_lampungMarcopolo dikenal pengembara yang cekatan menulis jurnal perjalannya dan selalu melihat sesuatu dari sudut pandang yang aneh. Nampaknya konsep ini dipakai oleh Hotel Marcopolo di Bandar Lampung.

Bayangkan anda mendapat kamar di lantai tiga (3) misalnya. Sudah barang tentu didepan resepsionis kita akan mencari undak-undakan (anak tangga) menginjak lantai satu, lantai dua dan hup saat kaki sudah mulai terasa berat dan napas tersengal kita sampai di lantai terakhir yaitu tiga (3).

Ternyata saya kecele sebab hotel Marcopolo yang tertinggi adalah lantai 2, sementara lantai tiga malahan ditaruh di ruang basement. Untunglah sampai sat ini saya belum pernah sial mendapatkan kamar di lantai tiga lantaran di ruang ini ada kegiatan bola sodok yang makin malam makin ramai.

Tapi itulah hotel Marco Polo ala Bandar Lampung. Kelak kalau hotel ini menyelesaikan tahap renovasinya dan dilengkapi dengan lift, bisa-bisa angka yang tertera pada lift dari lantai terbawah adalah mulai dari angka 3, LOBBY, 1 , 2.

Marcopolo_lampung_poolTetapi kalau anda membawa keluarga yang suka berenang, inilah satu-satunya hotel bintang 3,5 dengan fasilitas kolam renang yang nggegirisi saking besarnya.

Saat terindah adalah sarapan pagi di beranda terbuka dengan tiupan angin selatan (Lamphung) yang sejuk, lalu perlahan embun ditarik ke kali langit, anda bisa melihat rangkaian pegunungan BukitBarisan seperti bercumbu dengan Selat Sunda. Makan nasi goreng dengan kerupuk udang rasanya sudah manthaB suranthaB.

Lamphung sendiri berasal dari bahasa Cina kuno yang artinya “tempat dimana angin selatan berhembus..”

Date: Wed Sep 4, 2002 1:12 am

Hurrah Jalan Kodau – JatiAsih di cor semen akhirnya


Perbaikan_jalan_KodauOlie keponakan saya dari Yogya dengan mata lebar dan dahi lebar juga memiliki kesan kerumah “Pakde yang lucu” itu – rumahnya belok (tanah liat) dan banyak laronnya. Dia betul sekali, begitu memasuki jalan Kodau anda akan disambut genangan air, becek dan jalan berlubang saat musim hujan. Lalu laron yang berukuran jumbo bisa melesat dari gundukan tanah persis kembang api air muncrat. Yang Olie(via) belum tahu, di halaman depan kamipun ular ada yang bersarang dan meninggalkan kulit tuanya. Rumah saya sendiri berada di Jalan Pendidikan dengan akses melalui jalan Kodau V – JatiMekar.

Foto yang diambil 25 Juli 2009 ini memperlihatkan sekelompok anak remaja seakan menghadang kendaraan kami. Sebetulnya tidak demikian, mereka adalah relawan yang mengatur lalu lintas di jalan Kodau V – JatiAsih -Pondok Gede yang setelah selama ini mengalami kerusakan berat akhirnya diperbaiki oleh Pemda Jawa Barat.

Memang menyebabkan jalanan macet karena saat pengecoran separuh badan jalan, sambil menunggu semen mengeras para relawan menggunakan sistem buka tutup. Nampaknya perbaikan jalan ini dilakukan secara serentak dikawasan kami menghadapi lebaran, menghadapi masuknya musim hujan nanti.

Rasanya pujian terhadap Pemerintah Daerah, Bina Marga tidak habis-habisnya kami lantunkan lantaran jalana kami akhirnya diperbaiki. Hidup Pemda Jabar
Rasanya pujian terhadap Pemerintah Daerah, Bina Marga tidak habis-habisnya kami lantunkan lantaran jalanan "KODAU" akhirnya diperbaiki. Hidup Pemda Jabar
Pembetonan Jalan
Pembetonan Jalan

Yang merepotkan, jalanan di tempat kami minim akan fasilitas saluran got sehingga parit hanya berfungsi sebagai posko dan budidaya nyamuk dan alat uji coba penciuman.

Kalau malam hari kebetulan lampu mati cukup andalkan hidung anda dan yakin tidak akan kesasar dipandu oleh bau got. Mungkin lantaran begitu rindunya jalanan diperbaiki bak menunggu Ratu Adil, manakala sore hari, para ibu selesai memandikan anak-anaknya lalu mereka mengajak putra-putri nonton “orang bikin cor” – sambil menyuapi anak-anaknya. Ibu dapat hiburan, anak-anak lancar disuapi.

Terimakasih pemda JABAR. Terimakasih kepada anak-anak yang setia menjadi relawan mengatur jalanan. Terimakasih kepada pemakai jalan yang bersedia dititipi bendera kecil pertanda waktunya untuk jalanan dibuka/tutup. Saya pikir dengan panjang jalan ratusan meter bagaimana ujung jalan satu dengan yang lainnya akan berkomunikasi. Ternyata mereka memanfaatkan bahasa bendera. Kalau bendera dibawa oleh seorang pengendara motor yang. Berarti giliran penerima bendera membuka jalan bagi kendaraan terutama mobil.

Hanya kadang masyarakat sering tidak sabaran. Sudah tahu jalanan ditutup gara-gara semen masih basah, masih saja ada yang menerabas sehingga bekas roda motorpun membekas. Padahal kalau jalanan rusak yang rugi kita semua.

Manakali Olie datang berkunjung mungkin dia akan bertanya “mana jalan beloknya?” – mudah-mudahan.

Syeh van Tanjung Pinang


Orang Singapura rata-rata doyan plesiran ke pulau Batam. Saban akhir pekan bukan main tingkat hunian hotel disana. Sejalan dengan waktu karena berjubelnya turis luar dengan kekuatan dollar, selain crowded, biaya hidup sehari-hari menjadi mahal.

“Batam allready expensive- similar to Singapore, many Singaporean go there.. Price ups..” – Itu yang bicara supir truk yang menyewakan kendaraannya untuk mengangkut barang pindahan rumah tangga bulan Juni 2009. Ia lalu memilih TanjungPinang di pulau Bintan.

Ingat kota pantun, ingat Gurindam dan jangan lupa Pulau Penyengat, yang konon dulu ada spesies tawon mampu membuat pelaut jaman dulu langsung “ditutup amal bhaktinya di dunia. Kecuali doa anak-anaknya yang sholeh dan sholeha.”

TJS (65), seorang supir taksi Singapura yang lain sepertinya tidak mau ketinggalan merapatkan barisan penggemar kota Gurindam. Iapun menyempatkan menghibur diri ke kota diselatan Bintan. Ada bir murah, ada seafood “reasonable price” – dan yang paling penting kalau sudah banyak makan masakan laut semacam cumi, kerang, oyster berlada hitam seketika dia berubah menjadi tawon jantan kepingin menyengat disana sini.

Lumrahnya seusia dia adalah mencari “lentera jiwa“, kata Gde Permana. Atau dalam bahasa kota Gudek “nggolek dalan pepadang” – alias mencari jalan pencerahan. Dia malahan tetap sibuk “nggolek dalan bayi” – artinya mencari “liang tempat bayi keluar..” – tentu yang nir- muhrim.

Cuma kalau sajak Gurindam kadang di akhiri hurup sama semisal

Barang siapa mengenal yang tersebut

Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang

Seperti rumah tiada bertiang

Maka TJS mencari “lawan” entah mengapa doyan nama perempuan mirip gurindam. Selalu diawali hurup A atau E.

Perempuan terakhir yang dilakukan pencoblosan zonder bawaslu apalagi dpt ini dilakukan  dalam bilik tertutup tanpa saksi. Konon lebih dari dua putaran. Hanya perlu satu orang yang bisa ditekuk dilipat yaitu Evi.

Evi sendiri tidak tamat sekolah, namun kepada Sri, teman merangkap Mucikari ia minta dicarikan “konco turu” alias teman tidur yang tajir agar duitnya bisa ditabung untuk sekolah. Klise memang.

Sri, ibu dari 3 anak termasuk pandai memanfaatkan kesempatan, apalagi sedang musimnya kawinan berbulu membantu  kaum Dhuafa bawah usia ke tempat tidur. Kak Seto bilang itu Phedofilia.

Maka zonder banyak bicara, TJS pun bisa melepaskan dorongan SATET – ini istilah pak Guno dari Poskota “Saluran Asmara Tegangan Tinggi..” kepada anak “bau kencur” usia 14tahun.

Biaya berapa diminta Evi pun diluluskan asalkan satu saja permintaan TJS, adegan cumbana-smaradana bandot gaek melahap daun muda bisa didokumentasikan secara digital sebagai sarana “doping” agar voltase yang anjlog ke 110 bisa dicharge naik 220volt, syukur 240V.

Tetapi polisi mengendus bahwa sebelum Evi masih ada perempuan lain yang dipasok oleh SRI dan semua adegan ranjang direkam dan “bocor” ke luar. Inilah yang membawa supir taxi Singapora ini berhadapan dengan institusi BUAYA.

Buaya adalah istilah kepolisian ketika merasa privasinya disadap oleh Cicak (KPK). Di depan polisi buaya dia tidak bisa berkelit dengan pembenaran pakai ayat-ayat berbahasa asing, ataupun ikutan tradisi negara yang nuun jauh disana agar bisa mendapat simpati.

Setelah diperiksa lebih lanjut, ketahuan bahwa Sri bukan saja mucikari akan hajat “SATET” TJS, juga SOULMATE daripada TJS, alias istri daripada TJS yang mana daripada menikahinya, daripada selama sepuluh kali lebaran. Luar biasanya SRI sendiri nampak hamil 8 bulan yang menurut pengakuannya hasil hubungan dengan anak remaja brondong putus sekolah.

Suami cari perawan bau kencur, Istri cari anak muda. Kedudukan satu-satu di mata mereka. Ini baru namanya keluarga penggemar “Wong Cilik”

Pagar kapal yang tidak aman


pengaman yang tidak amanRombongan anak-anak yang berenang di pelabuhan sambil berteriak kepada penumpang agar melemparkan uang logam ribuan sudah satu persatu naik ke pelabuhan.

Remaja yang paling akhir malahan melambaikan tangan sambil mengucapkan selamat berpisah dan hati-hati di jalan. Mulutnya penuh dengan uang logam. Saya merasa mual sebab membayangkan menggigit uang logam sekian lama sambil berenang. Bukan perkerjaan gampang.

Lalu dengan enaknya ia berenang sekitar baling-baling kapal ayang berputar. Perlahan kapal mulai beringsut meninggalkan pelabuhan Merak.

Di dek Ferry yang membawa kami menyeberang dari pelabuhan Merak ke Bakauheni, saya sempat berkeliling melihat keadaan kapal. Maklum perjalanan selama dua jam bolehlah dimanfaatkan untuk berkeliling kapal sambil mencari barangkali ada teman lama atau mendapatkan teman mengobrol sepanjang perjalanan.

Pertama tentunya cari tahu dimana pelampung, sekoci dan alat lain seandainya sesuatu tak diinginkan terjadi.

Lalu melihat pagar pengaman kapal yang hanya berupa balutan tali kapal yang disampirkan secara sembrono, apakah cara ini aman? mengingat musim liburan banyak anak-anak menjadi penumpang kapal berlarian kesana kemari.

Tujuannya sih praktis, begitu ferry merapat, pagar besi tinggal di lipat, tali dimanfaatkan sebagai penambat kapal. Praktis sekalipun mengundang resiko.

Lalu apakah akan menunggu pintu ini memakan korban baru dipikirkan pagar pengaman yang patut.

Sesaat bersama para penggali kubur di Lampung


bunga_1Tumpukan bunga Kamboja ini sedang dalam proses dikeringkan dengan memanfaatkan panas matahari. Konon menurut bang Husni, perkilonya dihargai 25 ribu rupiah. Sepintas angka yang besar tetapi bang Husni penduduk Kupang Teba, Teluk Betung – Lampung menyatakan bahwa mendapatkan satu kilogram bunga kamboja kering untuk bahan parfum, bukan barang yang mudah. “pemilahan yang ruwet,” katanya. Tapi dia menggunakan bahasa sederhana “pake dipilih-pilih ama yang beli..”

Husni dan kedua temannya adalah “teman” saya. Kami sama-sama bekerja sebagai penggali. Saya penggali sumur minyak, sementara Husni dan kedua temannya menjadi penggali kubur “Anugrah” – Teluk Betung. Kami hanya bersua setahun sekali sehingga kepada istri saya selalu bilang “siapkan salam tempel untuk mereka..

Seperti layaknya orang yang merasa memiliki tradisi setempat, menjelang bulan puasa saya menyempatkan diri berziarah ke makam bunda saya yang meninggal delapan tahun lalu.

Maka selama delapan tahun adik-adik saya tidak pernah berkesempatan meledek ibunda “kalau Mas Mim mau datang, leher ibu jadi panjang sebentar-sebentar melongok ke jalan.”- Adik-adik hapal, saat bunda bersama kami, begitu ada tilpun bahwa kami akan data ke Lampung, maka bergegas beli ikan Lele atau Cumi kesukaan cucu-cucunya terutama sulung saya Lia. Kadang dibelain sampai berhutang, kalau gajian belum datang.Teman-teman dikantor, sampai hapal bahwa kalau saya makan di warung, yang dicari adalah ikan lele goreng, dan tak pernah jemu, seperti hendak bertolak belakang dengan sekelompok orang yang merusak patung yang sama di Bekasi lantaran mahluk ciptaan Tuhan ini adalah satowan penuh kejorokan.

Begitu “jleg” kaki memasuki tanah pemakaman, mata saya biasanya terpaku kepada dua makam kembar, lebar dan diberi tembok sejengkal tingginya bertegel merah ati. Ahli kuburnya bernasib tragis, terlibat masalah keuangan, dimanfaatkan oleh “orang pintar,” berakhir suami istri dibunuh oleh pak dukun. Mudah-mudahan sang ahli kubur tidak marah saya selalu menceritakan kisah hidupnya. Sayapun tidak akan menyebut nama demi keluarga yang ditinggalkan. Pendek akata di kuburanlah kita belajar bahwa terlalu percaya kepada siapa saja tanpa pakai logika, kadang justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Kadang saya mendapatkan inspirasi hidup saat bermenung didepan pusara ibu.

Saat melompati nisan-nisan yang membentang menuju pemakaman ibu, teman-teman ini langsung mengendus kedatangan saya. Biasanya mereka langsung meninggalkan pekerjaannya sambil membawa pengki, sapu, golok untuk membersihkan makam ibunda dan embah yang cuma secuil.  Pernah sekali tempo saya tegur sebab mereka masih bertugas memakamkan jenazah yang baru diturunkan ke liang lahat, mereka sudah meninggalakan upacara memapaki kami. Juga sekali tempo mereka sedang berkumpul disebuah sekelompok makam yang dipagar besi. Salah satu ahli warisnya nampak ingin memperbaiki makam ini. Dan zonder bicara ini itu makam berpagar langsung mereka tinggalkan demi kami.

Seorang yang lebih tua biasanya mengingatkan saya untuk “menulis buku tamu..dulu GEH“. Geh adalah pengganti “dong” dalam bahasa Indonesia dialek Lampung.

Tetapi  buku tamu yang dimaksud adalah lembar batang kaktus yang tumbuh saling tumpuk menumpuk diatas pusara embah.

bunga_2Disitu saya mencari lidi, kayu atau apa saja untuk menulis tanggal kedatangan. Selesai menulis kami berdoa sebentar sementara teman penggali kubur mengumpulkan daun-daun kering untuk segera dibakar didekat makam. “Perbuatan Aneh?,” – kalau anda tahu dimasa hidupnya bunda suka sekali mengumpulkan “wuh” alias sampah untuk dibakar.bunga_4

Biasanya sambil mencari sampah, saya mewawancari mereka – siapa saja yang pernah berkunjung kesana, apakah ayah saya pernah mengunjungi pusara isterinya, atau adakah anak-anaknya yang dilahirkan dari rahim namun lebih afdol mengikuti perintah orang lain yang bergelar keagamaan yang mentereng ketimbang permintaan ibunda “sapa sing bezuk aku nek aku dikubur kelak..

Sesederhana amanahnya itu tetapi sayangnya tidak semua putra dan putrinya tergerak mendatanginya padahal lokasinya dipinggir jalan besar yang dilalui oleh kendaraan kecil angkutan kota.

bunga_3Usai ritual singkat, saya ajak Satrio dan Mamanya berfoto bersama ketiga penggali kubur yang setia. Semoga bang Husni dan teman-temannya yang hari itu baru saja dapat jenasah dua orang, bisa mengumpulkan bunga kemboja di kuburan lebih banyak dan bagus.

Oh iya kalau ada kembang kamboja abnormal seperti bertajuk empat atau enam, aku dikasih tahu ya..

Oh ya sehabis ke makam biasanya acara saya adalah jajan Bakmi Lampung yang bernama Bakmi KOGA atau makan empek-empek ikan Tengiri di toko “91.” – kalau ini sudah terlaksana, maka ritual ke Lampung sudah klop dan afdhol.

Jakarta 17 Juli 2009