Bandara International bisa Kehabisan Kwitansi?


Salah satu pekerjaan saya adalah melakukan verifikasi expenses “pengeluaran” out of pocket – para pegawai.

Tidak terkecuali laporan keuangan pegawai asing. Prinsipnya setiap pengeluaran harus ada bonnya – kecuali dalam kasus luar biasa. Agak iri memang kalau melihat saat saya di Australia misalnya, begitu jreng keluar rumah – maka argo harian langsung jalan, ditambah uang saku sebesar limapuluh dollar.

Tetapi sekarang, pimpinan sangat teramat rajin mengecek “jam keberangkatan pesawat” – demi untuk memangkas klaim makan siang atau pagi yang disediakan oleh perusahaan penerbangan yang sejatinya jumlahnya amat minor.

Maka saya protes kepada seorang rekanita Ilan dari ICW yang mengatakan bahwa korupsi di Migas – sudah sangat menggemeskan ICW untuk bertindak. Aku ndak begitu lho mbak.

Salah satu ekspense adalah pembayaran sejumlah dua setengah juta rupiah manakala mereka akan keluar dari Indonesia. Bagi warga yang memiliki NPWP tentunya tidak menjadi masalah. Namun warga asing termasuk yang harus membayar biaya tersebut.

Sekali tempo sebut saja DON seorang pekerja asing (Amerika) melaporkan kepada saya bahwa saat dia ada di bandara Internasional dan diharuskan membayar fiskal, petugas pajak tidak bisa memberikan bukti pembayaran berupa kwitansi – konon mereka kehabisan kwitansi.

Lantaran dipandang aneh, teman menolak membayar tanpa kwitansi. Dan “oknum” berkelit balik dengan aturan baku – No Pay No Leave the Country.

Padahal menurut aturan kantor, kwitansi boleh dinyatakan hilang manakala transaksi bernilai dibawah US25 ini untuk mengadopsi sistem taxi kita yang belum sepenuhnya mengenal kwitansi.

Masalahnya transaksi (USD 256.70) ini sudah diatas 10kali nominal yang diijinkan. Lantas bagaimana saya akan menyetujui episode “habis kuwitasi terbitlah bingung di Bandara kita..

Apakah cukup keterangan rekan saya “Requested receipt. Was informed they were out of receipts. Was informed I would not be allowed to leave country unless fee paid..”

Mengapa kita cuma punya seorang Hugeng yang sudah almarhum. Seorang Antasari kena perkara pula. Apa kita masih lantang mengucapkan Visit Indonesia 2009!

Advertisements