Perkutut


Perkutut juga mengenal kos-kosan
Perkutut juga mengenal kos-kosan

Kediaman salah seorang kerabat saya tergolong unik.

Sekalipun masih kawasan Jakarta Barat yang nota bene masih satu garis lurus dengan jalan DaanMogot, tempat siaran televisi swasta beroperasi, masih berdekatan dengan TVRI – namun mencari titik tepat untuk memasang antene televisi, sama sulitnya mencari pengganti pak Hugeng mantan Kapolri kita di bidang kejujuran.

Kesulitan ini timbul lantaran makin menjamurnya bangunan jangkung berlantai tiga sehingga gelombang TV terhalang oleh dinding tebal tersebut. Berlangganan Tv satelit bukan penyelesaian sebab TV berlangganan memiliki keterbatasan dalam memancar luaskan program TV swasta.

Jaman dulu di kawasan ada ketentuan berupa larangan membuat rumah lebih dari dua lantai. Sekarang peraturan tersebut dicuekin dan bermunculan bangunan tinggi mengepung sana sini. Kadang ada dengar sih sang bangunan disegel petugas karena pelanggaran.

Tapi percayalah, sejalan dengan waktu petugas “bosan” mendatangi proyek yang melanggar. Sementara pemilik bangunan berfalsafah “Lebih Cepat di rampungkan Lebih Baik.” Tak heran sebentar saja bangunan serupa bermunculan dengan angkuhnya.

Dengan meningkatnya bangunan jangkung penangkapan TV, bahkan menerima HP pun anda harus teriak-teriak macam orang di kebun. Kalau sudah demikian, biasanya ini diakali dengan menerima tilpun keluar rumah.

Celakanya, begitu tilpun diangkat, ada “peserta conference call – datang tak diundang.”

Pertama suara seekor “dashound tua” yang tak hentinya menyalak seperti ingin ikut berbicara. Lalu ditingkahi oleh suara mesin Bajaj dan Kendaraan lain yang berseliweran. Belum lagi suara televisi yang sepertinya wajib didengarkan dengan volume cukup keras untuk mengatasi gemuruh orang berdemo kecil-kecilan.

Yang tidak kalah kenes adalah suara dua ekor perkutut sang pemilik dan seekor tekukur yang saling bersautan.

Memelihara perkutut membutuhkan kasih sayang, perawatan yang cukup memakan waktu seperti memandikan, mengobati dan membersihkan sangkar.

Tetapi saya juga baru tahu kalau perkututpun mengenal istilah “kost” alias mondok.

Johan misalnya. Sebagai eksekutif muda, waktunya seakan habis untuk urusan di kantor. Kadang ia pulang kerumah jauh malam. Belum lagi kalau mendapat tugas keluar kota. Padahal penggemar perkutut ini tidak memiliki orang yang dipercayainya, kecuali menitipkan perkutut kesayangannya kesebuah rumah tangga yang dikenal penyayang binatang.

Kalau pemiliknya kangen, mereka tinggal datang ke rumah koskosan peliharaannya, bermain sebentar – kalau sudah puas, maka urusan perawatan diserahkan kepada induk semang perkutut. Bukan cuma Johan yang menitipkan perkututnya. Sebut saja pak Nur, pak Halim dan daftar pelanggan tersebut masih panjang.

Sebuah peluang bisnis menjadi induk semang “anak kos sing dawa buntute..” (berbulu dan berbuntut panjang).

Advertisements