Malas


Di sebuah apartemen yang dikontrak anak saya adalah milik orang Singapore keturunan Malaysia, keturunan Jawa maka saat hari pertama kami memasuki apartemen ini, sang pemilik rumahpun masih belum sepenuhnya memindahkan barang-barang milik mereka.

Sambil menunggu pemilik rumah mengosongkan kamar saya duduk didekat jendela sambil mengambil sebuah majalah berbahasa Malaya dengan tajuk Manja. Langsung perhatian saya tertuju pada sebuah artikel bahwa tak selamanya malas itu kelabu – alias selalu buruk.

Dari banyak alasan yang dikemukakan, salah satu yang membuat saya mesem kecut ketika penulis mengatakan: “kalau bangsa kita tidak malas, tak akan orang Indon, Phillipine datang mengais rejeki disini..” – ya kalau soal menyetrika pembantu, istri dokter di Jakarta Barat sudah dua kali membunuh pembantunya, lolos dari jeratan hukum setelah dinyatakan “sakit ingatan…”- Jadi bukanMalaysia saja.

Kalau Malaysia bisa ber”GR” lantaran malas maka orang berdatangan ke negerinya, sementara negerinya tetap kaya. maka malangnya kalau kita tidak bisa mengatakan “bangsa kita malas lalu Belanda datang kemari..” Bedanya yang datang menyiksa dan menjajah dan ketika mereka pergi kemiskinan yang disisakan.

Advertisements