Ambalat itu pulau, kota, kecamatan atau hutan?


Ambalat sebagai batas imajiner para ahli geologi kita
Ambalat sebagai batas imajiner para ahli geologi kita

Seperti ngepas dengan isu Ambalat lantaran ada kapal perang asing wara wiri memasuki “ambalat”

Lalu saya baca kelompok ormas kita yang gagah berani, ingin menyabung nyawa berangkat ke “pulau” Ambalat.

Tentu dalam bayangan sementara kita ada tanah lapang, dibatasi patok, lalu diantara patok ditarik benang plastik rafia.

Atau setidaknya ada gerbang dikiri kanan jalan dengan tulisan “Selamat Datang Di Kawasan Ambalat, Kota Beriman..”

Lantas kita saling berhadapan sambil menarik garis batas ditanah pakai ceker kaki kita seperti masa anak-anak sambil bilang “siapa berani injak ini garis, resiko ditanggung penumpang..” – kalaupun ada yang berani injak, perkelahian “CAMPUH” sebuah mata pelajaran non kurikuler yang dewasa ini lagi marak dihayati lahir bathin pelajari sampai mahasiswa.

Kita juga sudah lupa bahwa perang sekarang adalah permainan Teknologi. Sasaran cukup dilacak dari handphone lalu duar…

Kami belum lupa mengalami pahitnya ekonomi negeri yang sedang berperang, mulai dari Trikora lalu Dwikora. Boleh berkata perang betul-betul bukan pilihan bijaksana. Kecuali demi mengakomodasi kemarahan rakyat dan mengusung pemilihan calon presiden.

Sebab baru saja kita misalnya -andai mengandai- menyatakan maklumat konfrontasi, maka sebentar saja akan terjadi mobilisasi tentara Ghurka, Selandia Baru, Australia, SAS dari Inggris sekitar perairan tersebut tentu dengan persenjataan lengkap jarak jauh sehingga cuma berbekal ilmu kebal bisa memecahkan batu dengan kepala jelas tidak relevan dalam pertempuran udara.

Belum lagi kalau melihat kenyataan kapal perang ALUTSIA kita yang tidak usah ditembaki sudah pada rontok sendiri.

Saya cuma me “recover” saat pemimpin besar pujaan kita doyannya perang dari satu tempat ke tempat lain. Dulu saya masih kelas 4 SR ketika konfrontasi Dwikora berlangsung. Sementara RRI menyatakan kemajuan pasukan kita, diam-diam saya mendengarkan siaran Radio Malaysia. Lalu kok diantara para tawanan yang diwawancarai ada yang berasal dari asrama maki, dan bahkan ada yang sampai sekarang masih menetap di Malaysia. Mau bilang apa.

Itu masa lalu yang mungkin sebagian kita tidak pernah mengalaminya. Sekarang bagaimana masa sekarang.

Teman yang pernah bertugas disana sekali tempo bawa cerita mengapa kapal tersebut seperti meledek dan makin “cari jantung?” – bukannya mereka tidak pernah diberi pelajaran.

Sekali tempo ada nelayan asing masuk mencuri ikan, lalu terjadi kejar-kejaran. Akhirnya kapal ditabrak. Ternyata sang penabrak yang peot (maklum kapal lama). Mungkin salah posisi atau memang kapal lawan lebih baru. Untung serangan ini diikuti oleh pasukan khusus kita yang lantas naik ke geladak kapal dengan persenjataan lengkap. Nelayan asing kemudian menyerah. Dan reportasenya seperti yang sering kita lihat di berita-berita.

APAAN SIH AMBALAT ITU?

Padahal nama Ambalat adalah kapling yang dibuat oleh para ahli geologi kita. Letaknya sih kalau mau dilihat ya nuun jauh dikedalaman antara lima ribu kaki 1500-2000 meter. Terus kalau kita mau kesana tanpa bekal ilmu navigasi jangan-jangan keburu mabuk laut, sementara “tanah yang dicari” entah bersembunyi dimana.

BLOK CUCUT KITA LEBIH MENUSUK.

Lantas kalau mau sok “cool” anda bisa lihat blok imajiner buatan para geologi kita, sebut saja blok Cucut dan blok Tuna. Jaraknya dari NKRI sudah amat jauh menghias lautan Malaysia. Hanya karena kasus tersebut jauh dari hingar bingar pemilu, maka tidak menjadi santapan para politisi kita.

Cucut block yang amat jauh dirusuk Malaysia
Cucut block yang amat jauh dirusuk Malaysia
Advertisements