Ayam Hitam


Tugas saya sebagai lelaki peranannya cuma menarik atau mendorong trolley ibu rumah tangga yang sibuk berbelanja. Lantas ingatan saya menerawang masih jadi anak Tangsi di Kertapati Palembang saat pemimpin kita gembar gembor hendak menganyang sebuah negara tetangga persemakmuran yang baru muncul, sementara selain peralatan perang yang sudah tua, rakyat kecil macam kami kekurangan bahan pangan, sampai-sampai makan harus di jatah.[kok sekarang masih ada yang menganjurkan perang]

Karena sekolah saya masuk siang hari. Diam-diam dipagi hari saya,8,  menjadi penarik gerobak kayu di pasar Kertapati kadang jual koran di emperan stasiun Kereta Api. Target saya adalah para bapak (entah mengapa ibu di Palembang sepertinya yang saya tahu jarang ke pasar), dan mengharapkan upah serelanya pemilik barang untuk tambahan uang jajan.

Lho, itu peristiwa 1960-an, masa konfrontasi. Sekarang, sudah bau lempung pangkat tak berubah. Tetap jadi tukang gerobak alias Trolley. Bedanya dulu menarik gerobak mengharap uang jajan, sekarang ditambah tugas menarik dompet saat ratu selesai dengan hajatnya. Sambil terkejut dan terheran “banyak betul belanjaannya, emang jaminan satu bulan tidak belanja lagi?“.

Dan tugas ini ternyata berlaku didalam Republik BAHASA sampai ke wilayah di luar AMBALAT, termasuk Singapore misalnya. Tugas saya sedikit ringan dan kedinginan manakala Ratu menghilang dibalik rak barang-barang, dan saya sipenjaga trolley cuma celingak celinguk barang keperluan dapur yang disimpan di almari es. Paling berani comot durian berserifikat D24 atau yang baru saya kenal AAA.

Betapa terkejut “lowbat” saat di supermarket GIANT yang terletak di kawasan Choa Chu Kang, menyaksikan daging (ayam) hitam kebiruan atau biru kehitaman ini bergelimpangan termutilasi dengan label “Free Range Black Chicken..

Mungkin barang dagangan ini sudah lama dipasarkan sekalipun untuk saya baru pertama kali ini melihatnya.

Konon rasanya daging ini serupa dengan ras ayam putih, hanya katanya yang hitam lebih anti oksidan apalagi kalau disup panas dan disruput penderita flu.

Perasaan selama ini kita menjalankan politik ras-ayamisasi. Maunya melihat dan melahap paha yang putih, membunting. Ayam berdaging hitam cuma sebatas lagu Ambon “Ayam Hitam Talurnya Putih..”

Sementara paha hitam cuma dijadikan ajang makanan lelembut alias sebagai sesajen . Orang mau kaya, anak sakit melulu, pangkat mudlogger terus, nyaleg, nyapilkada, pacar minggat – akhirnya ke dukun.

Biasanya bapak atau ibu bomoh (dukun) akan meminta sesajen berupa ayam cemani alias selasih yang hitam geseng dari wajah, kuku sampai ke kulitnya.

Dan kondanglah bangsa kita akan stigma bahwa hitam itu magik, sulap dan misterius. Kecuali orang Tionghoa yang mengatakan bahwa ayam hitam, bagus “punya” buat obat. Tak ketinggalan Permadi yang sampai cd-nya berwarna hitam.

Entah apa yang ada dalam bang Oma Irama saat menulis lirik lagu: “entah mengapa kusuka semua yang hitam warnanya, sehingga semua yang kupunya, itu hitam warnanya. Hitamhh.”

Tetapi di Singapura, hitam-pun jadi lezat dan nikmat.

Advertisements