Naik Kereta LRT – jaz jiz juz


Kereta MRT (Mass Rapid Transport) pada gambar - mengambil penumpang yang diantarkan oleh kereta tunggal LRT (Light Rapid Transit)
Kereta MRT (Mass Rapid Transport) pada gambar - mengambil penumpang yang diantarkan oleh kereta tunggal LRT (Light Rapid Transit)

Akhirnya kesampaian juga saya naik-naik kereta LRT di kawasan Bukit Panjang, Singapura. Selama ini cuma menyaksikan ada kereta satu gerbong thil, berkeliaran sekitar pinggiran Singapore. Mau coba naik kok diniatin banget.

Sekalipun kerap naik kereta MRT Singapore (Mass Rapid Transport) yang panjangnya sampai enam gerbong, belum sekalipun saya berkesempatan menaiki jenis MRT yang cuma satu gerbong yaitu LRT (Light Rapid Transportation).

Kalau diperumpamakan sebagai BusWay, maka LRT adalah feedernya.

LRT umumnya menggunakan stasiun kecil bersebelahan dengan MRT, penumpang naik turun ke rel layang hanya menggunakan lift saja. Maklum cuma penumpang satu sampai dua gerbong.

BINGUNG TIDAK BISA MELEWATI PINTU STASIUN

Semua juga tahu bahwa memasuki pintu stasiun saya harus beli karcis atau menempelkan kartu magnit ke alat yang sudah disediakan. Untuk MRT, palang pintu akan terbuka manakala kartu magnet ditempelkan “tap”

Tetapi dasar orang bingungan, begitu pintu yang satu tetap membandel maka secara instink kartu magnit saya “tap” – kedua kalinya dan, “eng ing eng” – lampu error menyala. Duh.

Kalau sudah begini pertolongan pertama setelah celingukan tidak ada orang adalah mencari petugas yang “tidak nampak.” – Pencet tombol microphone yang biasanya ada sekitar situ lalu bicara bahwa saya tidak bisa masuk tolong pintu dibukakan. Mudah-mudahan “suara” petugas akan bilang “Ok.”

Tunggu lagi lima menit, pintu belum terbuka. Makin bingung dan bertanya lagi, “saya masih tunggu” – lantas suara petugas tanpa bentuk akan menjawab, “gate open, on your right side”

“Wailalala, ternyata gate yang dibuka adalah pintu dorong yang biasanya diperuntukkan oleh pengguna berkursi roda.” Sekaligus menyadari bahwa saya sedar tadi jadi tontonan dan bukan tuntunan bagi petugas yang menyaksikan dari kejauhan melalui kamera.

DEKAT RUMAH PENDUDUK KACA OTOMATIS BERUBAH BURAM

Karena jarak antara rel LRT dan Rumah Susun penduduk Singapura ini begitu dekat (masih kalau dekat dengan rumah dipinggiran KA kita,) maka muncul isu berupa kehilangan privasi bagi penghuni rumah susun. Bisa jadi sedang “bekah-bekuh bin desas desis”  melakukan Sunah Rosul tanpa disadari ada orang satu gerbong mengintip.

Rupanya hal tersebut sudah dipikirkan lama-lama sejak 1999, saat MRT mulai digelar. Caranya setiap mendekati rumah penduduk, ada mekanisme yang mengatur kaca gerbong LRT mendadak berubah putih sehingga tak tembus pandang. Saat menjauh tempat tinggal, maka “byaaar” kaca gerbong sejernih kristal.

Uniknya kalau memasuki stasiun pengumpul (penumpang), kaca kembali terang benderang.

Menurut para ahli kaca gerbong diisi oleh “liquid crystal film” – sebuah benda yang bersifat seperti cairan di jepit diantara dua kaca.Dalam keadan tidur cairan ini memanculkan cahaya dengan baik.

Namun bila diaktipkan menjadi semacam kristal yang bergerak sehingga mampu membuat penampakan keruh pada kaca.

Sepuluh tahun kereta ini beroperasi, saya pribadi masih terkagum akan perawatan yang ciamik.

Advertisements