Mengurus Pindah Anak – 2


PAK ANDY YANG PELUPA

Pindahan memang selalu merepotkan. Apalagi kebudayaan di Singapur kalau ada teman pindah maka relasi pada datang membantu dengan mengambili barang yang mereka butuhkan, entah buku, lemari es, atau furniture. Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan, mereka akan kembali dengan aktivitasnya masing-masing. Jadi kamus membantu teman pindah sudah tidak ada lagi. Sama halnya mengapa di bis, MRT, LRT orang hanya duduk sambil menutup kuping dengan headset lalu tenggelam dalam dunia masing-masing.

Lalu spesialis angkutan pindahan yang kami percaya sejak tahun lalu adalah pak Andy. Persoalan dengan pemilik sekaligus supir truk Singapore ini dia amat pelupa. Jadi kalau anda tilpun dia untuk ke lima kalinya,  harus sabar menjelaskan siapa anda, alamat dan kapan “kangsen” alias perjanjian untuk pindahan. Hampir setiap hari pak Andy harus ditilpun, kalau tidak dia lupa. Dia bisa lupa hari, lupa harga (tarif), lupa alamat.  Tetapi lantaran tarifnya paling miring dan orangnya “ngenakin,” tak bosan-bosan pelanggan menilpun dan mengingatkannya.

Pak Andy punya PDA yang selalu ditentengnya, tetapi setelah pernah memandunya dan duduk di truknya yang ber pendingin udara dari Sembawang ke Choa ChuKang yang ditempuh selama 30menit, baru tahu bahwa satu-satunya PDA kuno yang dipercaya adalah robekan kalender mungil tiga bulan yang dijepit diatas kaca spion dalam. Buktinya dia ingat bah “next month I will be in Tanjung Balai – Indonesia” – acaranya makan SeaFood dan yang paling penting, mengunjungi isterinya.

Sambil merenges pak Andy bercerita bahwa ini punya isteri orang Indonesia di Tanjung Balai. Dan hebatnya, sang istri yang memiliki kendaraan operasional untuk menghidupi mereka selama ini. Anak buah pak  Andy umumnya pemuda dari daratan Cina. Kali ini ia menggunakan dua pemuda Cina yang kuat dan rajin, satu kakek Singaporean yang nampaknya selain berumur juga sedikit sembrono sehingga kerap ditegur pak Andy.

Mereka digaji $16/day. Jelas tidak cukup untuk sehari-hari, namun bisa jadi makan, tidur dan akomodasi lainnya ditanggung pak Andy yang selalu bercelana pendek dan berkaus Tank Top ini. Ketika ditanya mengapa harus Tanjung Balai? bukan Batam?, dia bilang Batam sudah seperti Singapore. Dulu murah sekarang harga-harga semakin tinggi. Di Tanjung Balai dia akan beli kondominium.

Untuk dua trip kami harus bayar pak Andy sebesar SIN$ 260. Lalu saat kami memintanya a untuk membuang peralatan yang sebetulnya masih bisa dipakai tetapi lantaran keterbatasan spasi, terpaksa harus direlakan dibuang, atau di karung gunikan. Untuk itu dia mengenakan biaya SIN$100, ditanggung bersih.

Kami juga masih harus mengeluarkan biaya renovasi dan bikin bersih rumah. Pendeknya dengan 200dollar, selama 3 jam rumah yang akan ditinggalkan sudah disulap seperti saat kami memasukinya. Jangan sampai meninggalkan rumah adalam keadaan kotor, sang pemilik bisa menahan uang kita.

Tetapi soal renovasi, jelas pak Andy bukan ahlinya.

Advertisements