Toko Renta


Baru sekitar jam 16:00 - masih 60menit kedepan untuk tutup toko, namun perusahaan yang pernah memasok banyak proyek di Jakarta sampai harus menyewa truk-truk militer, kini nampak renta
Baru sekitar jam 16:00 - masih 60menit kedepan untuk tutup toko, namun perusahaan yang pernah memasok banyak proyek di Jakarta sampai harus menyewa truk-truk militer, kini nampak renta

Jaman (mei 2009) sudah berubah, tahun 60-an Toko yang mengkhususkan dalam jual beli bahan bangunan memang berjaya. Pemiliknya memiliki rumah dan tanah dimana-mana. Salah satu sisa kebesarannya adalah ruko dua lantai yang saya gunakan sebagai posisi memotret dari ketinggian.

Saya diceritakan bahwa dulu semasa Jakarta membangun, armada truk memenuhi halaman sampai meluas ke jalanan. Bahkan kalau kekurangan truk angkutan sampai-sampai bekerja sama dengan bagian angkutan tentara.

Kini selain pemilik toko dimakan faktor “U” bertambah. Beberapa sikap sepertinya berubah. Dulu mengejar pelanggan sebagai raja, kini merasa sudah raja. Sehingga sering tidak sabaran menghadapi pembeli. Kadang soal sepele, seperti dipanggil “enci” – bagi saya seperti kehormatan entoh mereka anggap pelecehan (hanya mereka yang tahu) sehingga tak urung pelanggan didamprat. Pembeli yang berangasan memang langsung bereaksi, namun lebih fatal adalah pembeli yang hanya diam namun menyebarkan berita kepada kerabat, tetangga bahwa Toko kami itu tidak ramah. Lha kalau taukenya sudah kurang bersahabat,  maka bawahan hanya meniru. Berulangkali peringatan atau sindiran kami berikan untuk tetap bermuka manis kepada pembeli, sekalipun mereka mungkin tidak terjadi transaksi. Tetapi sudah kadung terbentuk, sulit untuk di luruskan kembali.

Akibatnya satu persatu mereka menghilang. Padahal sehari-hari mereka bergaul dengan kelompok yang disebut enci-enci, tetapi mengapa mempersoalkan nama panggilan.

Neraca penjualan toko dengan empat pegawai, sudah tiarap. Sementara dikanan kiri bertebaran toko serupa. Menjual bahan bangunan sambil mengecer Gas, Aqua kadang Pulsa isi ulang. daripada cuma jadi penonton akan nasib toko bangunan yang legendaris ini kami pernah coba turun tangan.

Belum juga langkah tegak dihentakkan, selain gossip antar keluarga yang nyaman ada beberapa friksi dalam cara mengelola perusahaan. Akhirnya usaha kami hanya menyilangkan tangan dibelakang punggung.

Advertisements