Sakit Gigi lantaran Sikat Gigi


gigiku_23May2009_MimbarIni pelajaran tambahan oleh Dokter Gigi Mungil Ayu, sipit, kulit putri Tatar. Namanya “Dez” – Selama dua bulan sudah dokter ini “behandel” saya punya gusi yang melorot mirip kedodorannya kepercayaan publik bahwa kita bisa bebas dari urusan korupsi. Apalagi setelah tokoh yang kami jagokan ternyata cuma sampai segitu saja – Persis seperti betapa senangnya kami tatkala pak Sudomo melakukan aksi bersih-bersih tempo hari. Lalu kecele melihat Timbangan jalan kembali diaktipkan dan “petugas” DLLAJR kembali mengutip uang “jago” di jalanan termasuk jalan Kodau Pondok Gede. Salah satunya.

Kembali ke LAFTOF.

Gusi melorot, pangkal gigi terkikis ternyata akibat salah tanggap akan instruksi “sikat gigi yang bersih, ” menjadi sikat gigi sampai pedas gusinya dengan jurus mirip Tukang Sepatu mengkilapkan hasil semiran. Rumusnya gerakan harus cepat serta digisok dari dua arah, diberi tekanan mampu membengkokkan sendok bakso. Akibatnya “perasaan gosok gigi sudah ngepol kenapa masih sakit gigi yah!” Apalagi waktu kecil sering diajari “nggebek” gigi pakai bubuk arang kayu yang dioleskan pada telunjuk yang sudah berbalut carikan kaos bekas. Maka terbiasalah pada pendapat bahwa gosok gigi harus keras.

Hari Sabtu lalu saya ke dokter gigi lagi. Ini pertemuan kami terakhir sebab, ibu dokter akan buka praktek di Kelapa Gading sehingga tidak menerima praktek dengan perjanjian. Ihik.

Di ruang praktek sebuah tivi nampak menayangkan acara yang perlu diketahui oleh ibu-ibu pendamba kecantikan (tapi salah). Sambil menonton bahaya obat kecantikan mengandung logam berat dibawah tajuk acara tv “Merkuri” yang dipercaya memutihkan kulit, bu Dokter yang belum dikarunia anak ini mulai menutup pangkal gigi yang bopeng akibat sikatan ala tukang semir sepatu.

Ada enam gigi atas saya yang perlu di dempul. Cukup lama saya mangap lebar. Menahan liur sampai perut rasanya mau gelegekan (sendawa), Bu dokter yang suaranya cempreng mirip pemain filem Hongkong Ching Fei Fei ini mengomentari “dokter kulit itu pakai obat. Seminggu sih emang kulit kita mulus, tetapi sejak itu kita kontrak mati dengan dokter tersebut. Kecanduan obatnya..” Maksud dokter yang suaminya pernah jadi pendeta selebat ini “berobat jangan cari cespleng, lalu kileyengan..”

Sementara nasihat untuk saya.

“Yang penting bapak jangan NAPSU sikatanya ya pak! Yang lembut, pelan dan jangan ditekan. Memang lima menitan baru selesai, tapi aman. Gituuu” – Ah senangnya diperlakukan seperti anak TK.

Lalu ingat lagu Bang Meggy MZ “Daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa..”

Urusan gigi ternyata belum selesai. Sampai di rumah Protesa dua gigi geraham kiri bawah saya, niatnya akan di sikat sebelum tidur. Ternyata lepas dari pegangan dan “krompyang” kini hancur dan berderai di lantai ubin. Saya hanya termangu menatap gigi palsu yang menemani saya selama dua tahun ini.

Akibatnya linu gigi atas belum usai, saya harus memanggil tukang gigi yang orang Madura ke rumah. Dua gigi dibuatkan dengan janji sejam selesai. Mirip afdruk filem hitam putih jaman dulu.

Sambil menunggu adonan gips merah muda mengeras, Cak Zulham (ini betul nama Madura), bilang – “nenek saya di Bangkalan ndak pernah sikatan, finish di usia seratus, dua gici cuma yang ompong..”

Rahasianya nginang dan nyirih..

Sekalian saya minta dibuatkan cetakan gigi atas dan bawah yang terbuat dari gips. Selain untuk lebih menyadarkan saya betawa ruwetnya susunan gigi saya sehingga sisa makanan mampu berkelit.

Karena keluarga menganggap bahwa permintaan saya mirip isyarat yang agak-agak aneh, saya jelaskan. Cetakan gigi atas dan bawah hendak mengingatkan bahwa bukan hanya makanan “harus 100 persen halal yang boleh masuk lewat gigi -tetapi ucapan dan perbuatan sebisanya halal juga..”

Advertisements