Pintu Tol Selamat Pagi


Minimal dalam sehari dua kali saya memasuki pintu tol. Pada hari libur bisa meningkat tajam. Saya sudah mengira kebocoran sektor ekonomi adalah Tol dan tentunya faktor pendukung bensin. Mula-mula saya tumpuk semua bon pengeluaran, saya masukkan spreadsheet. Waktu angkanya menjadi horror, kebiasan itu saya buang. Lalu saya cari pembenaran, contrek (contek) saja, gaya anak gaul “Working Hard, TOLLing hard.”

Dari waktu kewaktu, lama-lama jadi titen (hapal) juga kelakuan masing-masing penjaga pintu. Di Dukuh Satu dengan harga karcis tol dibawah sepuluh persen BLT, biasanya kita akan disapa “Selamat Pagi Pak,” kadang “selamat pagi bozz (emang dia lihat perut saya atau kepala saya?)” – Karcis termurah memberikan pelayanan wah.

Sementara pelayanan pintu lain, apalagi saat jam-jam pergantian shift, pemandangan baku adalah seorang rekan duduk atau bediri disisi kiri sambil membesut uang kertas. Temannya menghadap mesin cetak, asik berbicara, sempat nguping mereka membicarakan si Anu (idih nyebelin), lalu sreg dengan gerakan penuh tenaga, lembaran karcis tol dan kembaliannya (kalau ada), dikembalikan tanpa temu tatap mata dengan pelanggan. Saya perkirakan gerakan embak tadi kalau berlabuh di kepala, minimal keleyengan bin keliyengan.

Pagi-pagi di Tol Jatiwarna malah siembak sibuk menyendoki bubur ayam dari mangkok berlapis kertas lilin. Saya diminta menunggu sesaat sebelum tangannya “pere” untuk mencomot uang dan menyerahkan balik karcis tol. Ada cairan putih meleleh dari bibirnya sehingga syak wasangka saya bisa dibenarkan. Di tol jalan misal jurusan Cikampek, kalau ada yang “lupa bayar” pengeras suara kadang menyetop pengemudi dengan kata-kata bumbu pedas “kencing saja bayar Pak, apalagi tol…” – Eh giliran ada yang “nggeblas” lupa mengambil kembalian, mereka juga seperti supporter bola meneriaki “sudah kaya kali ya, ngga perlu kembalian..” –

Pada insiden ini giliran saya bayar, saya protes kepada penjaga pintu tol – “katakan kepada temanmu walau bukan saya yang diteriaki, tetapi itu tidak sopan..” – sementara penjaga cuma menatap dingin seperti mendengar berita – peserta pemilu protes minta dilakukan perhitungan ulang.

Di tol Karawaci, saya menerima pembayaran uang buntung yang ditolak saat melakukan pembayaran di tol lain. Lalu pada kesempatan lain, lima puluh ribuan aseli dari ATM dikembalikan dengan salah satu dua puluh ribuan tanpa tali air.

Ya kalau biaya tol akan dinaikkan lagi, paling tidak petugas yang etiketnya minus harus diupgrade agar tidak sembrono.

MimbarSaputro.Wordpress.com

16May2009

Advertisements