Perempuan ber-Caddy


1024133473Saya bukan berbicara mengenai tanda kendaraan bekas Karesidenan Kedu tentunya. Sementara orang percaya dengan memberi nama anak di awali dengan A, sebab manakala mereka duduk dibangku sekolah, absen pertama yang dibaca oleh guru akan menunjuk hidung pemilik nama berawal “A.” – Dengan demikian mereka menjadi anak yang selalu siap dan tidak bisa mengelak dari tanggung jawab sekolah.

AA yang pertama “tadinya” setiap minggu pagi memberikan ceramah di layar TV, bahasanya, wajahnya yang menyejukkan, pakai laptop, kadang diselipi humor ringan. Kadang kalau ia lupa nada ceramah pindah perseneling ala orator “baku” yaitu panas, marah , membara, membakar – AA yang satu ini akan beristigfar dan mengatakan eh kok saya jadi emosi. Di depan pemirsa, ia sering “canda-candi” dengan istri pertamanya – kata-kata “ah mama,” terdengar polos dan manja. Terdengar celetukan – “ah seandainya aku pilih suami, penggemar Moge dan anak terjun payung merupakan sosok ideal mereka.”

Lalu harian Australia menobatkannya sebagai pemuka agama yang dijadikan model “barat”. Mereka mengirimkan wartawan untuk meliputnya. Di kamar kerjanya, selain buku agama, AA yang satu ini membaca buku pengembangan diri semacam Covey. Tidak ada tulisan cela dalam harian yang saya baca tersebut.

Saat AA mengambil istri kedua, pers Barat melihatnya sebagai peristiwa “nggak penting” – mereka hanya mengutip ucapan double “A” bahwa bukan hanya hardware, pria dan wanita itu berbeda. Namun softwarepun berlainan.

Reaksi di negeri sendiri, sangat berbeda. Doble A seperti mengecewakan para penggemarnya, saya berbicara dalam konteks keluarga kami. Ceramahnya sudah mulai tidak didengarkan, sama halnya dengan sikap keluarga yang melancarkan boikot makan di rumah makan yang pemiliknya terlalu pamer-urat kawin campur aduk.

Perlahan nama AA pudar, beritanya, selalu disambut dengan sikap sinis. AA dari Bandung sudah dinaikkan levelnya menjadi orang yang tidak boleh salah di mata mereka.

AA yang kedua, tidak kalah ganteng, berkumis, dan sepertinya keluarga kami amat menaruh perhatian. Saya lebih kakak 14 hari dengan tokoh satu ini. Kitas elalu mendoakan agar manusia langka yang mungkin produk anomali republik “Kawin Siri” ini selalu dilindungi.

Disebuah seminar anti korupsi misalnya, kami sebut FCPA – Foreign Corruption Practice Act, pembicara bule jelas-jelas mengatakan negeri ini sudah mulai berlayar ke arah yang benar. Kendati cuma diruangan kecil, dada kami rasanya mongkok. Sekali lagi, kami berharap manusia idaman kami, harus selalu putih kinclong bak pualam.

Ketika terpaan badai menghantamnya, diantara keluarga kami mencoba membela dalam obrolan kosong. Teori konspirasi, otak, atik, gathuk(bertemu) tak kunjung habis menjadi pembicaraan sehari-hari. Foto perempuan bercaddy, di tabloid, majalah diamati dari ujung kepala sampai ke ujung mana saja seakan tak percaya bahwa wanita yang tidak mirip artis Diah Permatasari, bisa penyebab blunder semua ini.

Ketika wakil rakyat kami seperti mendapat angin untuk mengeluarkan pernyataan yang justru mengecewakan kami, maka teori konspirasi bahwa praktek jahat tetapi nikmat bagi sementara orang, yang dimusuhi oleh ICW malahan seperti dibudidayakan at all cost. Perahu yang sudah benar jalannya sekarang tercabik layarnya, patah kemudinya sehingga terkesan kembali ke jalan yang baru saja ditinggalkan.

Sepertinya posisi keluarga kami seperti suporter bulu tangkis. Jantung berdebar, doa dilantunkan setiap menonton pertandingan bulutangkis Indonesia melawan China, kepingin melihat kejayaan kembali negeri. Hanya waktunya belum datang. Keok terus dan pupus harapan. Nasib malang tak habis merundung negeri ini.

Jakarta 12 Mei 2009
mimbarsaputro.wordpress.com

Advertisements