Saudara SBY?


Weladhalah, ini dia, pagi-pagi sebuah pesan singkat masuk dengan berita mengejutkan “Ayah presiden RI dengan Kakek kita ternyata bersaudara…”

Kelompok beginian kalau saya kumpulkan bisa-bisa jumlahnya cukup bersaing ketat dengan penganut aliran Ahmadiyah. Mungkin saking banyaknya terjadi gesekan inetrnal lalu malahan sudah membentuk grup sempalan sendiri.

Untung saja sms tidak meminta saya mendatangi istana Merdeka meminta agar Presiden yang saya hormati, memperbaiki jalan didepan kami, misalnya. Sebab sedang jamannya urusan pribadi (dan jual anak) sampai menyeret Presiden RI agar ikut cancut taliwanda menyingsingkan lengan baju.

Namun tak urung saja saya garuk-garuk kepala, dagu, pundak, lutut, kaki karena – pertama berita tersebut jelas mengarang bebas, yang kedua mengapa kita suka sekali ikutan “saudara” mengekor orang yang sukses.

Bahkan belakangan ini saya sering menolak kalau diantar atau bersama famili ke dokter, misalnya. Ada saja kata-kata yang saya emohi seperti “Kata Oom yang dokter kami bla..bla..bla..” – Tanpa memperdulikan bagaimana perubahan wajah sang dokter “biasa”

Mungkin kalau bisa dibaca tulisan diatas kepala ada hurup “Lantas kalau Oom dokternya emang Jago, mengapa elo orang harus berpayah datang kemari.”

Memang ada untungnya sih, team dokter kadang tidak mau dibayar, tetapi bikin hati nggak enak sehingga tak jarang berobat sambil bawa ayam panggang, tas, batik Alur sekedar yukar menukar -jasa secara barter. Hanya lama kelamaan menjadi repot yang dibuat sendiri.

Ketika pemilihan Gubernur di suatu propinsi di Sumatera diumumkan pemenangnya, sms sayapun sibuk dengan ajakan memberi selamat atau menilpun sang pemenang – agar dapat cipratan proyek” – herannya, sudah tahu saya paling tidak sreg dengan perilaku demikian entoh, masih dicoba juga.

Lantas ketika bapak Antasari naik daun, ada juga keluarga saya berhalusinasi bahwa ia masih famili dengan manusia pembuat berita tahun 2009 ini.

Para saudara, kerabat ini baru balik kanan ketika dimedia memberitakan Pemenang mulai di guncang dengan terpaan isu tak sedap, secara exponensial SMS saudara atau kerabat dekat gubernurpun menghilang.

Lalu perlahan si penghembus idepun terkuak.

Seorang kerabat diusia yang sudah tidak muda lagi tetap “keukeuh” untuk melahirkan anak. Kalau soal pendidikan mereka keluarga Tabib Modern, dari bapak sampai ke anak sampai mantu.Tetapi bicara soal reproduksi, ada faktor lima kata mendatar dengan hurup terakhir “A” yang tertulis di KTP, lebih dituruti tanpa reserve.

Sayangnya kelahiran anak kali ini merepotkan. Ibunya mengalami trauma pasca kelahiran. Mentalnya kedodoran. Lantas mengalami semacam halusinasi, merasa suatu hari dibangunkan sosok misterius dalam tidurnya, dibisiki bahwa mereka keluarga Presiden RI -dan seperti ada tambahan nada getar, barang siapa menolak – membangkang atau melecehkan pendapatnya akan dikutuk – menjadi miskin.. Sayang mahluk misterius tidak membisikkan bagaimana caranya agar negeri ini satu hari republik Kawin Siri ini sepi dari “drama”

Mungkin sudah mahfum bahwa saya hobi menonton drama sinetron “Mas Ridho..Mas Ridho,” atau Tante Katrok berbahasa Inggris ala Ketoprak Mataram, yakni cukup hurup “r” dicedalkan, soal dialog ngeplek Betawi van Cibubur tak jadi mengapa.

Lain kesempatan saya pernah juga didatangi keluarga yang menyatakan terimakasih atas bantuan yang selama ini kami berikan ketika mereka melahirkan putra pertamanya.

Pembicaraan menjadi gayeng (hangat), ibu yang baru melahirkan ini semula pemalu namun sekarang memegang kendali obrolan apalagi menyinggung masalah pengobatan alternatif yang biasanya cocok dengan kondisi bangsa kita yang serba kekurangan yaitu murah, mustajab, mimpi (mendapatkannya).

Apalagi kalau bisa ditambahkan ada batu kuno (secara geologi semua batu ya umurnya jutaan tahun).

Ibu muda berkulit putih ini bercerita di kota kelahirannya ada tabib yang mengobati pakai telur. Telur ditegakkan diatas piring keramik, lalu sang tabib memindahkan sakit kedalam telur. Telurnya macam-macam lho, ada telur ayam, telur bebek, telur puyuh, telur angsa dan telur DADAR.”

Dia berbicara dengan serius, sehingga kata terakhir saya tahan senyumku. Para dokter bisa menjelaskan gejala trauma pasca melahirkan yang kini banyak diidap para ibu muda. Ternyata melahirkan bukan urusan sekedar banyak anak banyak rejeki, lantaran kenyataannya sering buka lebar paha (melahirkan) ada ancaman pintu stress bakalan terbuka lebar.

Konon gangguan mental. Kadang bersifat sementara, namun tak jarang memerlukan perawatan ahli.

Bu Nuri dan Pak Leon, pasti lebih fasih menceritakannya.

Advertisements