Terpaksa keluarkan jurus “Ganco” di depan ATM


Entah mengapa saya selalu saja ada rasa tak nyaman dengan uang merah nominasi seratus ribuan. Warnanya seperti merah buram, baunya seperti sangit, dipegang licin, ditekuk patah-patah.

Tetapi yang sebenarnya berlaku adalah pengalaman tak nyaman saya ketika mencoba bertransaksi dengan lembaran merah menggunakan mesin deposit otomatis. Begitu cerdasnya mesin ini sehingga ketika kita tumpuk sepuluh lembar, selalu dihitung sebagai tujuh atau delapan. Pikir-punya pikir, saya tambahkan dua belas lembar biar kalau mesin salah hitung paling tidak satu juta klop masuk ke pembukuan.

Ternyata harapan saya seperti saat menyaksikan kedigdayaan KPK bulan Maret lalu menunjam tajam KPK di bulan Mei 2009.

Beda kalau melakukan transaksi dengan uang limapuluhan, selalu tepat dan menyenangkan.

Ini cerita lama sudah saya lupakan.

Sampai minggu lalu saya mampir disebuah ATM di Jatiwarna. Saya ambil nominasi satu juta. Eh mesin cerdas kali ini meniru sulapan The Master. Uang disebrak dari lubang dengan gaya goreng pisang “kipas” yaitu ditumpuk namun melebar. Saat saya panik, apalagi mesin selalu bising dengan “tut tut tut siapa lambat dapat buntut” – beberapa lembar bagian bawah malahan seperti bersembunyi, dan ada tanda-tanda akan menarik kembali uang yang belum sempat saya comot.

Akhirnya saya mengeluarkan jurus pamungkas dengan telunjuk sakti mengorek upil. Uang saya korek seperti kalau menolong cucu bayi tersedak makanan (tapi Lia belum kasih aku cucu). Akhirnya setelah tukar menukar jurus simpanan nenek moyang, uang sepuluh lembar berhasil saya amankan.

Melihat banyak yang antri, saya mundur dan antri lagi dibarisan belakang. Seorang bapak menanyakan saya apa yang sedang berlaku di ATM sana. Begitu saya cerita – dia menukas “kalau ambilnya selembar tersangkut nggak ya?”

Ini pertanyaan seperti baru beli Kacamata belum dipakai sudah hilang entah dimana. Begitu minta bantuan kerabat atau keluarga untuk mencarinya, muncul pertanyaannya baku “Kacamata yang bentuknya seperti apa, atau tadi taruh kacamatanya dimana?” – Duh! – kalau sudah tahu dimana taruhnya ya tidak hilang to yo!

Saya lihat ada beberapa para antreawan dan antreawati main silat didepan ATM. Saya pikir giliran saya nanti uangnya sudah tidak membandel mengajak main ala tarik tambang.

Saya kecele. Skor panik masih dipihak saya.

Dari Pondok Gede saya terpaksa cari ATM di kawsan Cilandak KKO. Sementara pecahan limapuluh ribuan dengan mulus melayani saya, maka sebuah ATM beremisi seratus ribuanmengeluarkan suara berdesir, namun tak selembarpun uang dikeluarkan sehingga saya menekan tombol “batal”.

Kalau sudah begini apakah kerusakan pada mesin atau uang kertas seratus ribuan harus mulai dipertimbangkan pembuatannya dengan satu parameter “ramah ATM.”

Advertisements