Hotel kami ada penunggunya


Dua mahluk penghuni hotel di Nongsa - Batam
Dua mahluk penghuni hotel di Nongsa - Batam

Mungkin kedua teman anakku yang warga Singapore telinganya belum akrab dengan lagu Kelelawar Sayapnya Hitam, maklum mereka belum lahir saat gubahan Koes Plus ini ngetop markotop. Maka tak heran ketika menempati satu kamar di sebuah Resort di Nongsa – Batam, begitu melihat teras ada penghuninya bergantungan dengan kepala di bawah, kedua cewek ini Samantha dan Kelly langsung teriak bergidik minta tukar kamar yang lain.

Sementara si penghuni hotel prodeo tenang-tenang saja tanpa merasa salah membuang sampah “buah jambu air” bertebaran di lantai.

Kedua gadis ini seumur-umur tidak pernah meninggalkan daratan Singapura.

Lalu saat peringatan “may day” yang umumnya  digunakan sebagai isyarat “turun gelanggang bertempur habis-habisan melawan penguasa” – mereka malahan ikutan putri kami Lia berlibur ke pulau Batam yang sohor akan masakan lautnya. Maka ketika mereka check in di kamar berpanggung, menghadap ke laut lepas sambil tiduran di ranjang berkelambu model jaman dulu,  mereka amat suka citanya.

Namun hal tersebut tidak berjalan lama, seperti halnya rasa menaruh harapan saya kepada mantan KPK  yang berubah menjadi kecewa teramat berat mendadak Samantha dan Kelly langsung merutuk habis-habisan melihat noda-noda dikelambu yang ternyata tahi cicak dan darah bekas nyamuk gemuk yang digencet mati saat bergelantungan di kelambu putih. Malamnya atap yang terbuat dari rumbia bocor tanpa kuasa dibendung, ditambah dengan aliran listrik padam beberapa saat.

Resiko yang tak diperhitungkan mengambil hotel saat liburan dengan harga promo. Saya tidak tahu apakah mereka masih bergeming seperti rencana beberapa liburan ke depan yaitu Bali. Itupun kalau jadwalnya tidak tabrakan dengan jadwal saya.

mimbarsaputro.wordpress.com
Batam Mei 2009

Sampah sisa dinner tuan Kelelawar
Sampah sisa dinner tuan Kelelawar
Advertisements