Sudah Demen apa masih Tumben


Merasa lama tinggal di Betawi saya masih belum nyadar bahwa dialog asal “melting point” pelbagai ras dan ethnik di Betawi ini begitu bervariasi. Apa komentar anda ketika sedang mengantri di apotik lantas seorang ibu mendekat sambil mengajak anda mengangkat topik “Udah Demen Apa Masiy Tumben

Setidaknya inilah yang dialami Shita (tanpa N), saat ditugaskan ibunya antri obat di sebuah apotik. Seorang ibu mendekatinya lalu terjadilah pembicaraan soal siapa dan mengapa sakit sampailah keluar pertanyaan yang membingungkan gadis lulusan Satra Jepang ini.

Padahal sang ibu hanya ingin berbasa basi apakah rasa meriang kerap datangnya (deman) atau sesekali (tumben). “Saya pikir sedang salah dengar..

Lantas kalau anda berjalan berdua dengan pacar anda melewati kuburan, mendadak ia bicara “Pengen Iseng nih ditempat ini,” maka jangan dianggap buru-buru menanggapi sebagai isyarat ajakan tarik selimut bersama. Boleh jadi partner anda sedang mengatakan “saya takut di tempat ini..”

Mpok Misnah kadang wanti-wanti kepada anak lelakinya  “Tong kalau keluar rumah jangan lupa bawa Setengka“. Kalau anda mulai menebak saya terusin kata-kata mpok yang kampiun mengerik (mengerok) pakai duit gobang ini. “Sering banyak polisi rajiah di bulakan sana, mending eluh bawa SIM ama Setengka..”

Gara-gara kata-kata tersebut jadi kepengen malu sayah.

Advertisements