Bagus Rahmadianto


Tubuh anak bungsu ini kecil, ibunya selalu kesulitan mencarikan ukuran baju yang pas sehingga saya sering panggil pangeran Liliput. Tapi dibalik wajah dan tubuh yang kerempeng otak matematisnya encer dan kadang cenderung “penuh strategi” sehingga kurang empati terhadap orang lain. Sementara kakaknya terlalu tambun sehingga ibunya kesulitan mencarikan baju yang selalu  saja nampak “kekecilan.”

Manakala hanya dengan saya, dia bisa sejinak kucing Anggora, memeluki pakde dan budenya (kami). Namun sekali ayahnya ada disekitarnya maka kami cuma di”prek” saja.

Saya melihatnya persis salah seorang pakdenya. Mampu mematahkan jempol tangan lawan bicara – sementara sang korban merasa sedang tangannya dielus malaikat.

Kalau sudah dipressure oleh ambisi mamanya untuk menjadikan ia juara matematika, maka tiada hari tanpa les, remakae, warmingup uturasn matematika. Sang ayah hanya geleng-geleng kepala. Tidak menolak dan tidak mengiyakan. “Saya cuma tidak tahan suasana rumah jadi penuh amarah dan bentakan, karena ambisi sang mama.” keluh sang suami. Sementara sang ibu berkilah“anak dibiarkan menganggur tanpa kegiatan, orang tua manapun bisa melakukannya.”

Sang anak sendiri cuma memberikan reaksi hidungnya mimisan ” – minimal badannya panas. Apalagi menjelang pertandingan.

Hobbinya anak kelas 3 ini bermain computer game, bisa berjam-jam ia bak kesetanan sampai lupa makan maupun minum. Salah satu game yang ia sukai adalah Harvest Moon, sebuah game interaktip bagaimana menjadi petani.

Kecerdasannya mencengangkan manakala ia sibuk bermain game, lalu pakdenya mengucap kata misalnya “De Ja Vu” – ia nyeletuk “oh itu yang seperti meramal..” Atau saya menyebut schizoprenia – dia menghentikan keasikannya sambil menjawab “pikun..”

Dasar anak apik dan rajin, anak kedua dari pasangan Dodi dan Ana ini selalu mengorganizir gamenya dalam memory card. Kadang sekalipun sudah dilarang, diam-diam ia mengantungi memory card dan dipamerkan terhadap teman-temannya.

Sekali tempo dalam sebuah acara bersama ia pergi dengan ibunya. Saat sang ibu sibuk membicarakan makanan ajaib meliolea, madu pramuka, terapi setrum, shaker yang bertuah maka para anak-anak mereka asyik bermain PS di lantai dua. Ternyata selain teman sekelasnya (kelas 3) disana hadir pula kakak kelasnya.

Melihat Bagus, nama keponakan ini sudah cukup kaya dengan memory card yang nyaris lengkap. sang teman termasuk kakak kelas (kelas 6) mencoba mengcopy MC mirip Bagus. Soal memberi, Bagus kurang bagus alias pelit. Ia berkilah berbulan-bulan aku mendapatkannya dengan susah payah, lantas kalian akan mengcopynya dalam hitungan detik. Kok nyimut.

Dari rebutan akhirnya perkelahian terjadi. Bagus dikeroyok teman sekelasnya, ditindihi oleh dua orang teman-teman kakaknya, bahkan sang kakak kandungnya ikut memegangi kaki Bagus seraya membujuk agar mainan tersebut diserahkan.

Tetapi anak ini bintangnya Leo dan jatuh pada Naga. Dikeroyok oleh anak lebih besar, dia tidak menyerah, namun ketika lawan mulai menduduki muka dan dadanya, ia cuma punya satu cara membela diri menangis.

Tangisan inilah yang menyadarkan sang ibu yang memang kalau sudah mengobrol pada lupa diri. Untuk tidak merusak suasana yang empunya hajat kedua anak (Bagus dan kakaknya Gilang) dibawa pulang.

Tapi dijalan aku masih dicubiti mama lho pakde..

Wah itu dari KDAA(anak-anak) menjadi KDRT (rumah tangga). Dan inilah teman saya sehari-hari. Kalau seminggu tidak berjumpa mereka ada yang hilang rasanya.

Cerita yang akan dikarang mengenai anak ini

  1. Nonton di Studio 1, bisa menangis di studio 2
  2. Hilang di Mall
Advertisements