Sakit Perut Berjamaah


Satu Group Senam melakukan exhibisi dari Pondok Gede ke Bogor. Maksudnya supaya tidak bosan berkutat diruang yang sama sekalipun akhirnya yang lama dan capek adalah jalan-jalannya sebab bisa dipastikan pulang “senam” oleh-oleh dan jajajan yang dibeli. Tak heran, peserta yang memang disiplin menimbang kalori yang masuk, badannya tetap stabil sebelum dan sesudah senam sementara yang makan tanpa hitungan, makin lama ikut kegiatan tersebut badannya makin macam Tante Gembul.

Pulang dari Bogor, satu persatu anggota grup “Puri Gading” mulai mulas-mulas dan kebelakang secara tak beraturan. Lantaran sudah malam (02:00), salah satu korban yaitu istri secara teratur saya beri anti diare, dan nekadnya “antibiotik” – walau tidak tuntas istri memang hanya sehari tiduran dirumah dan berangsur sehat.

Yang rumahnya berdekatan dengan kami, dengan mudah disupplai “anti biotik dan obat mencret” dari rumah sementara menunggu ke dokter. Sementara team yang hanya membiarkan sakit perut -dan sekadar minum perasan daun jambu  sebagian makin menjadi dan ada yang masuk rumah sakit.

Ternyata mbak Ning sang guru senam juga kena gangguan perut. Merasa sembuh dan merasa bertanggung jawab dengan para murid ia mengajar sisa yang belum terbaring di rumah (sakit), yang tidka diduga ditengah mengajar – ia malahan bocor atas bawah sehingga kegiatan senam dihentikan sampai sekarang.

Dugaan yang sama adalah mereka minum air teh dalam kardus yang konon terasa masam. Tapi jaman sekarang teh bisa diberi aroma masam sehingga para ibu tidak curiga akan tanggal kadaluwarsa(mungkin).

Sementara kita tidak tahu penyebabnya apa, sebaiknya tradisi mencuci tangan sebelum memegang makanan kiranya masih ampuh untuk suatu pencegahan

Advertisements