contreng


Contreng Menyontreng Lipatannya Ribet, Itulah Pemilu kita.

contreng_9april2009

Sudah seminggu Pak Somar (80) menyimpan dua lembar kertas kerpekan dua-duanya berupa kartu nama para caleg. Hatinya sudah seteguh karang untuk menyontreng kedua caleg tersebut.

Padahal jujur dia tak mengenal caleg yang akan ia pilih. Hanya karena mereka mengusung nama ayah mereka yang memang dulu pernah menjadi pejabat atau penguasa dalam kabinet terdahulu, maka ia hakul yakin akan peribahasa yang kadang menyesatkan “air jatuh tak jauh dari pancuran.”

Pak Somar seperti juga sebahagian kelompok masyarakat memiliki prinsip “curiga-kucing-belang” yang memang ditanamkan oleh pemimpin kita.

Bilamana menurut indoktrinasi partai hanya kucing putih yang bisa menangkap tikus maka sekalipun ada kucing belang sangat piawai mengejar teman kartun Jerry maka si belang harus dicurigai suatu saat mereka akan menjadi serigala yang menerkam. Atau lebih parah lagi akan mampu mengkonversi tuannya menjadi warga kucing belang semudah mengkonversi Minyak Lantung ke Gas Botol Melon.

Ia bukan tidak mengamati ada partai yang dulu kondang bengis terhadap lawan. Namun gara-gara permainan iklan maka image bengis seperti panas bertahun tersapu hujan lebat sehari. Dalam hal ini ia amat pelupa dan permissive.

Lalu hari yang ditunggu tiba.

Kali ini TPS-nya adalah depot masakan Jawa Timur yang kondang di Grogol yaitu masakan SURABAYA. Seperti layaknya generasi senior yang doyan detail ia tak lupa tanya nomor TPS. Terang saja saya kebingungan lantaran pertama kalau sudah tahu TKP mengapa musti memusingkan nomor TPS yang belakangan saya tahu mirip nomor Obat Puyer Bintang Toejoeh alias nomor 16.

Sasaran sudah diketahui. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, rencananya tinggal dua jam lagi kesempatan untuk mencontreng.

Entoh beliau masih tolah toleh ke arah jamnya. Ternyata satu anak kesayangannya belum muncul. Jalan keluar tentu di tilpun. Dari jarak yang tak kurang “dua jam dalam keadaan normal atau satu jam kalau pakai tol tanpa macet” – kami mendapat kabar bahwa putrinya baru mandi.

Istri saya sudah menangkap kerutan dan aura keruh di wajah saya. Kami tahu dalam suasana normal minimal dibutuhkan sang puteri adalah “60menit” adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan dari gebyuran pertama sampai keluar kamar mandi.

Persoalannya warga yang ditunggu ini memiliki sikap politik dari dulu seprana-seprene sebagai “golput” – sekalipun sehari-hari pekerjaannya merancang undang-undang negara.

Ketimbang buang waktu untuk sebuah suara terbuang mungkin lebih tepat yang “pasti-pasti” nyoblos berangkat ke TPS sambil menunggu tuan puteri tiba dari Jakarta Timur masuk ke Jakarta Barat. Akhirnya sang Senior setuju.

Begitu jenggleng memasuki pelataran TPS, Senior ini sudah tidak sabaran. Nomor belum dipanggil beliau sudah mau maju tak gentar sambil terhuyung. Untunglah hanya beberapa menit gilirannya tiba.

Ada sepuluh menit berlalu mertua masih berkutat. Kami yakin sesuatu terjadi.

Pertama ia keluar dari bilik pilih dan menjawil anak saya Satrio yang kali pertama ia mencontreng. “Thole (panggilan kepada anak) – Nek Nomore xxxx sing endhi..” – anak sayapun yang nyaris menjadi Golput Bingung, terpaksa sok tahu melayani pertanyaan sang Kakek. Persoalan dikira selesai, ternyata belum. Saat harus melipat balik dia lagi-lagi kebingungan.

Mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil berdiri lalu ujung kiri dan kanan atas kertas contrengan di kebutkan seperti pedagang sarung memamerkan dagangannya yang “ditanggung tidak luntur..

Ya bayangkan tiga tumpuk kertas, eh masih ada kertas lipatan yang beranak lagi, bagi sementara orang mungkin pekerjaan biasa namun tidak bagi kakek bercucu lima ini. Tidak berapa nampaknya ada gelagat handuk-putih dilempar ke arena, alias dia menyerah.

Anak perempuannya dipanggil untuk membantu melipat.

Panitia mengijinkan namun celakanya ia berseru butuh konfirmasi “nomor XX” sing endhi? (yang mana), dia menyebut deretan nomor yang biasa dihisap para perokok unggulan….

Kali ini panitia sigap, relawan dipersilahkan balik ke kursi dan kertas yang sudah kusut bak Pramoedya kalau mencari inspirasi harus dilipat ulang oleh panitia agar bisa masuk ke mulut kotak suara. Insiden kecil berlalu. Tunai sudah sebagian tugas negara yang ia tunggu-tunggu.

Di luar sana sudah berkumpul Oma Soewono sang pemilih Depot Surabaya yang kali ini dipakai sebagai TPS contrengan 2009.

Sebuah pelukan hangat diberikan kepada saya, seperti pelukan tiga puluh tahun lalu. Mantranya juga sama “kok kamu makin gundhul tho Mazz..” – Bagi saya pribadi, pemilu adalah momen indah sebab bisa jadi kesempatan lain kita sudah tidak bersama (meninggal dunia).

Beberapa jam sebelum kejadian pencontrengan di tv saya melihat seorang bapak menangis karena kuatir kehilangan suara.

Di Bekasi – eyang Har separuh murung sebab tidak mendapat surat undangan contrengan. Saya seperti merasa di taboki oknum Guru di TV yang nggampari murid demi disiplin.

Mereka yang sudah lansia, dengan sisa usianya, rela naik angkot, ojek untuk memilih sementara saya yang punya supir, ada waktu dan kesehatan kok adem-adem saja.

Tayangan TV dan kasus Eyang Har membuat semangat saya akan pemilu yang semula turun dua strip, naik full charge kembali.

Advertisements

2 thoughts on “contreng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s