Lelang Ecek-Ecek


Sebagai perusahaan mudlogging yang lama tetapi baru, kami harus ikut lelang pekerjaan mudlogging guna mendapatkan proyek. Diantara pengumuman yang dipasang dipelbagai media tersebut sering terselip “jebakan ” ditulis dengan hurup kecil persyaratan-persyaratan yang seharusnya bisa diprotes atau diperkarakan.

Misalnya saya berkali-kali perusahaan kami di diskualifikas (dicoret) lantaran persoalan sederhana seperti tidak memiliki data pernah ikut proyek dalam lima tahun terakhir di suatu daerah tertentu.

Tetapi anehnya – manakala ada perusahaan yang difavoritkan menjadi pemenang, maka sekalipun pengalaman mereka NOL PUTHUL alias kosong-kosong mereka melenggang selicin belut disawah. Itulah Negeriku.

Kalau anda pernah sepintas membaca ilmu bumi, maka anda akan tahu bahwa dibelahan mana saja di dunia ini, batuan hanya terdiri batuan endapan (sedimen) seperti batu pasir, batu lempung. Lalu ada batuan berasal dari fossil hewan renik seperti batu kapur, dan fosil tumbuhan seperti batu bara. Lantas apakah kalau batu pasir di utara Sumatrera bakalan berwarna hijau metalik sementara yang di Papua kotak-kotak silver, kan tidak demikian.

Lantas dari seprono seprene, batuan yang mengandung minyak hanya baru pasir atau batu gamping. Tetapi bagaimana mungkin, para Geologiawan/wati yang dari dulu sesumbar saat mereka di bangku universitas bahwa mereka selalu bicara dalam bahasa global mendadak seperti katak dalam tempurung mensyaratkan bahwa yang ikut lelang hanya yang memiliki pengalaman di sebuah kawasan di Republik Indonesia minimal lima tahun.

Itupun harus dengan melampirkan kopi kontrak segala.

Seorang sahabat yang pernah bekerja pada perusahaan yang saya sinyalir bermain mata dengan kontraktornya berani bertaruh bahwa saya pasti dijegal dalam babak penyisihan.  Semula saya tidak termakan isu tersebut. Namun ketika menelan kenyataan pahit. Kata-katanya tidak bisa dimungkiri lagi.

Kalau sudah begini – kita tahu bahwa, tender sudah tidak bersifat umum melainkan mengerucut menembus titik yang dinamakan “like and dislike.” Dan muncullah istilah lelang sepertinya besar tetapi klasifikasinya “ecek-ecek.”

mimbarsaputro.wordpress.com

Advertisements

Bagus Rahmadianto


Tubuh anak bungsu ini kecil, ibunya selalu kesulitan mencarikan ukuran baju yang pas sehingga saya sering panggil pangeran Liliput. Tapi dibalik wajah dan tubuh yang kerempeng otak matematisnya encer dan kadang cenderung “penuh strategi” sehingga kurang empati terhadap orang lain. Sementara kakaknya terlalu tambun sehingga ibunya kesulitan mencarikan baju yang selalu  saja nampak “kekecilan.”

Manakala hanya dengan saya, dia bisa sejinak kucing Anggora, memeluki pakde dan budenya (kami). Namun sekali ayahnya ada disekitarnya maka kami cuma di”prek” saja.

Saya melihatnya persis salah seorang pakdenya. Mampu mematahkan jempol tangan lawan bicara – sementara sang korban merasa sedang tangannya dielus malaikat.

Kalau sudah dipressure oleh ambisi mamanya untuk menjadikan ia juara matematika, maka tiada hari tanpa les, remakae, warmingup uturasn matematika. Sang ayah hanya geleng-geleng kepala. Tidak menolak dan tidak mengiyakan. “Saya cuma tidak tahan suasana rumah jadi penuh amarah dan bentakan, karena ambisi sang mama.” keluh sang suami. Sementara sang ibu berkilah“anak dibiarkan menganggur tanpa kegiatan, orang tua manapun bisa melakukannya.”

Sang anak sendiri cuma memberikan reaksi hidungnya mimisan ” – minimal badannya panas. Apalagi menjelang pertandingan.

Hobbinya anak kelas 3 ini bermain computer game, bisa berjam-jam ia bak kesetanan sampai lupa makan maupun minum. Salah satu game yang ia sukai adalah Harvest Moon, sebuah game interaktip bagaimana menjadi petani.

Kecerdasannya mencengangkan manakala ia sibuk bermain game, lalu pakdenya mengucap kata misalnya “De Ja Vu” – ia nyeletuk “oh itu yang seperti meramal..” Atau saya menyebut schizoprenia – dia menghentikan keasikannya sambil menjawab “pikun..”

Dasar anak apik dan rajin, anak kedua dari pasangan Dodi dan Ana ini selalu mengorganizir gamenya dalam memory card. Kadang sekalipun sudah dilarang, diam-diam ia mengantungi memory card dan dipamerkan terhadap teman-temannya.

Sekali tempo dalam sebuah acara bersama ia pergi dengan ibunya. Saat sang ibu sibuk membicarakan makanan ajaib meliolea, madu pramuka, terapi setrum, shaker yang bertuah maka para anak-anak mereka asyik bermain PS di lantai dua. Ternyata selain teman sekelasnya (kelas 3) disana hadir pula kakak kelasnya.

Melihat Bagus, nama keponakan ini sudah cukup kaya dengan memory card yang nyaris lengkap. sang teman termasuk kakak kelas (kelas 6) mencoba mengcopy MC mirip Bagus. Soal memberi, Bagus kurang bagus alias pelit. Ia berkilah berbulan-bulan aku mendapatkannya dengan susah payah, lantas kalian akan mengcopynya dalam hitungan detik. Kok nyimut.

Dari rebutan akhirnya perkelahian terjadi. Bagus dikeroyok teman sekelasnya, ditindihi oleh dua orang teman-teman kakaknya, bahkan sang kakak kandungnya ikut memegangi kaki Bagus seraya membujuk agar mainan tersebut diserahkan.

Tetapi anak ini bintangnya Leo dan jatuh pada Naga. Dikeroyok oleh anak lebih besar, dia tidak menyerah, namun ketika lawan mulai menduduki muka dan dadanya, ia cuma punya satu cara membela diri menangis.

Tangisan inilah yang menyadarkan sang ibu yang memang kalau sudah mengobrol pada lupa diri. Untuk tidak merusak suasana yang empunya hajat kedua anak (Bagus dan kakaknya Gilang) dibawa pulang.

Tapi dijalan aku masih dicubiti mama lho pakde..

Wah itu dari KDAA(anak-anak) menjadi KDRT (rumah tangga). Dan inilah teman saya sehari-hari. Kalau seminggu tidak berjumpa mereka ada yang hilang rasanya.

Cerita yang akan dikarang mengenai anak ini

  1. Nonton di Studio 1, bisa menangis di studio 2
  2. Hilang di Mall

Sudah Demen apa masih Tumben


Merasa lama tinggal di Betawi saya masih belum nyadar bahwa dialog asal “melting point” pelbagai ras dan ethnik di Betawi ini begitu bervariasi. Apa komentar anda ketika sedang mengantri di apotik lantas seorang ibu mendekat sambil mengajak anda mengangkat topik “Udah Demen Apa Masiy Tumben

Setidaknya inilah yang dialami Shita (tanpa N), saat ditugaskan ibunya antri obat di sebuah apotik. Seorang ibu mendekatinya lalu terjadilah pembicaraan soal siapa dan mengapa sakit sampailah keluar pertanyaan yang membingungkan gadis lulusan Satra Jepang ini.

Padahal sang ibu hanya ingin berbasa basi apakah rasa meriang kerap datangnya (deman) atau sesekali (tumben). “Saya pikir sedang salah dengar..

Lantas kalau anda berjalan berdua dengan pacar anda melewati kuburan, mendadak ia bicara “Pengen Iseng nih ditempat ini,” maka jangan dianggap buru-buru menanggapi sebagai isyarat ajakan tarik selimut bersama. Boleh jadi partner anda sedang mengatakan “saya takut di tempat ini..”

Mpok Misnah kadang wanti-wanti kepada anak lelakinya  “Tong kalau keluar rumah jangan lupa bawa Setengka“. Kalau anda mulai menebak saya terusin kata-kata mpok yang kampiun mengerik (mengerok) pakai duit gobang ini. “Sering banyak polisi rajiah di bulakan sana, mending eluh bawa SIM ama Setengka..”

Gara-gara kata-kata tersebut jadi kepengen malu sayah.

Jangan main-main dengan (tentu saja) narkoba


Hari Sabtu sore saya bertemu dengan kerabat yang kondang sebagai pengurus LSM. Biasanya kami keluar makan malam bersama. Tetapi, kali ini HP-nya krang-kring terus. Selesai menjawab panggilan tilpun wajahnya ditekuk. baru bicara sebentar, panggilan tilpun meraung kembali.  Yang semula hanya berbicara lirih sekarang mulai dinaikkan seperempat oktav sehingga telinga saya mendengar “saya tidak punya uang..”

Duduk perkaranya, ia mengelola sebuah sanggar bagi anak-anak yang tidak beruntung dalam hidup ini. Beberapa sudah kuliah ada yang masih di SLA.  Ketika menonton pagelaran musik anak-anak ini bertemu dengan teman lain yang nimbrung sambil mengeluarkan benda laknat berupa lintingan ganja. Baru beberapa hisapan, sang narkobawan melihat sekeliling bahwa ada aparat yang mengawasinya. Lintingan dibuang mereka diam-diam menyelinap pergi.

Yang celaka, tidak berapa lama kemudian terjadi razzia dan yang tidak menggunakan digelandang ke polsek. Dilakukan pembuktian uji urin, hasilnya negatif.

Sayangnya yang seharusnya kalau hasil uji negatif kita positif dilepaskan, namun malahan positif harus membayar sejumlah besar uang tebusan yang konon setara 20kali BLT.

Parkir Cilandak Commercial Estate


Pagi itu saya kesiangan datang ke kanor.  Mendatangi client memang bisa langsung dari rumah saat lalu lintas relatif sepi. Namun sekembalinya dari client biasanya jalanan sekitar Warung Buncit luar biasa macet sehingga ruang parkir relatif penuh. Ada sih ruang parkir tersisa biasanyadidepan kantor penyewa kawasan Cilandak. Namun seperti tak tertulis atau seperti yang anda kerap saksikan di pelataran parkir, selalu saja ada ruang parkir sudah di reserve pihak tertentu.

Kali ini saya nekad. Kendaraan saya masukkan diruang yang masih tersisa. Pulangnya baru sadar bahwa pintu mobil sudah dicoreti pakai benda tajam. Sebelum berprasangka kepada pihak lain – sayapun mulai cari tahu “hukuman” kalau parkir ambil jatah orang lain. Ada yang bannya langsung dikunci oleh pengelola CCE, ada  yang ditempeli kertas peringatan, atau mengalami nasib seperti saya dicoret-coret.

Sakit Perut Berjamaah


Satu Group Senam melakukan exhibisi dari Pondok Gede ke Bogor. Maksudnya supaya tidak bosan berkutat diruang yang sama sekalipun akhirnya yang lama dan capek adalah jalan-jalannya sebab bisa dipastikan pulang “senam” oleh-oleh dan jajajan yang dibeli. Tak heran, peserta yang memang disiplin menimbang kalori yang masuk, badannya tetap stabil sebelum dan sesudah senam sementara yang makan tanpa hitungan, makin lama ikut kegiatan tersebut badannya makin macam Tante Gembul.

Pulang dari Bogor, satu persatu anggota grup “Puri Gading” mulai mulas-mulas dan kebelakang secara tak beraturan. Lantaran sudah malam (02:00), salah satu korban yaitu istri secara teratur saya beri anti diare, dan nekadnya “antibiotik” – walau tidak tuntas istri memang hanya sehari tiduran dirumah dan berangsur sehat.

Yang rumahnya berdekatan dengan kami, dengan mudah disupplai “anti biotik dan obat mencret” dari rumah sementara menunggu ke dokter. Sementara team yang hanya membiarkan sakit perut -dan sekadar minum perasan daun jambu  sebagian makin menjadi dan ada yang masuk rumah sakit.

Ternyata mbak Ning sang guru senam juga kena gangguan perut. Merasa sembuh dan merasa bertanggung jawab dengan para murid ia mengajar sisa yang belum terbaring di rumah (sakit), yang tidka diduga ditengah mengajar – ia malahan bocor atas bawah sehingga kegiatan senam dihentikan sampai sekarang.

Dugaan yang sama adalah mereka minum air teh dalam kardus yang konon terasa masam. Tapi jaman sekarang teh bisa diberi aroma masam sehingga para ibu tidak curiga akan tanggal kadaluwarsa(mungkin).

Sementara kita tidak tahu penyebabnya apa, sebaiknya tradisi mencuci tangan sebelum memegang makanan kiranya masih ampuh untuk suatu pencegahan

Nunak Nunuk alias bingung dan meraba-raba


Mulai Senin 20-24 April kami ditraining menggunakan software yang namanya SAP. Konon software ini termasuk software integrasi mulai dari membuat Sales Order, Invoice sampai ke urusan kepegawaian. Karena software ini memang bukan di tailor made (dibuat sesuai kebutuhan), maka ada beberapa term-term yang membingungkan orang seperti saya. Lebih celaka lagi, mungkin saya adalah orang yang betul-betul gress terpapar dengan software.

Instrukturnya Marcel dan Ellis, dua-duanya anak Indo yang bekerja di Houston. Konon sebelum mengajar kami, mereka melatih bahasa Indonesianya terlebih dahulu. Indonesia adalah negeri yang paling pertama diberlakukan sistem SAP ini, pasalnya negeri ini masih dipandang paling rawan (Hi Risk) untuk berbisnis disini.

Lantaran selama ini ndak pernah mengenal akunting maka akibatnya selain paling tua sayapun menjadi bahan gurauan teman-teman.

Mbak Hera dan Selis misalnya selalu ngakak mengapa saya “demen bener” – menulis dan mencatat di buku ukuran A4 hampir setiap ucapan sang instruktur Marcel dan Ellis. Dan karena saya bukan tergolong orang cerdas, maka “harddisk” saya seperti mesin AT bersaing dengan teman yang Core Duo. Mereka bergurau yang umumnya selalu menyambung ke “selang” sementara saya masih mencoba keras mencerna instruksi pelatih dan celakanya mengantuk.

Hanya saja, training ini sebagian besar dianggap sebagai acara perpisahan sebab dengan krisis global, satu persatu teman dirumahkan. Bahkan ada teman yang semula namanya begitu moncer sebagai “data entry” – mendadak pada hari ketiga kami trainning, kami dengar sudah mendapat PHK.

Menurut Wikipedia, sap  adalah nama perusahaan Jerman didirikan pada tahun 1972 dengan nama Systemanalise und Programmentwicklung oleh 5 mantan karyawan IBM di Mannheim, Jerman. Kantor pusatnya di Walldorf, Jerman. Perusahaan ini mempekerjakan 35.873 pekerja pada tahun 2005.