Siapa Bisa Menjepit Asap


Ruang untuk para perokok di kantor kami
Ruang untuk para perokok di kantor kami

Saya berusia sekitar 8 atau sembilan tahun ketika berkenalan dengan asap rokok. Pertama sih disuruh menjual rokok pembagian kantor “putih” – produksi BAT van Cirebon.Ini bicara tahun 1960-an lho. Ketika republik tak henti-hentinya diguncang oleh kelompok yang memang dari dulu kepingin republik ini difederalkan, dipecah-pecah. Hubungannya apa? – pihak bersenjata harus melakukan operasi ke gunung ikut, ke rawa katut.  Dalam operasi ini sering dibagikan rokok.  Bagi yang tidak suka dengan asap, sebaiknya bal-balan rokok tadi dilipat dalam dompet tentara yang dari dulu amat banyak sakunya namun sedikit isinya. Saya salah satu yang katut menjadi anak Mobrig kemudian Brigmob akhirnya Brimob.

Sebagai manusia cilik, diperkenalkan oleh mahluk yang oleh penyair Taufiq Ismail “Tuhan Duabelas Centimeter” – apalagi penciuman saya lumayan sensitif, tak heran selain suka akan bau bensin, minyak tanah, dulu bau solar juga sepertinya harum, hasanah hidung saya bertambah dengan bau harumnya tembakau, sekalipun ayah, ibu tidak ada yang merokok. Sambil menimang rokok slop-slopan, kadang saya menciumi tubuh bagian luar rokok ini, baunya seperti menerbitkan selera. Lalu mulai rasa ingin tahu bagaimana sih rasanya merokok.

Dari beberapa slop yang kami terima, ada diantaranya yang sudah apek. Warung rokokpun menolak.  Sehingga daripada dibuang, saya memberanikan diri merokok. Tentunya rasanya tidak enak, pusing-pusing dan batuk-batuk. Teman-teman lalu bilang “kalau rokoknya segar, rasanya tentu nyaman..”

Sayapun ikutan nasehat teman. Kalau ada tamu datang meninggalkan rokok, saya mengambil sebatang dan dibelakang rumah mencoba menghisap rokok “baru” yang harusnya nyaman. Namun kejadian yang sama terulang lagi. Saya batuk-batuk, pusing beberapa saat.

Sahabat saya menasehati. “Itu karena belum terbiasa..” nanti kalau sering berlatih merokok akan dapat nikmatnya.

Sampai akhirnya sayapun menjadi perokok berat.

Menjelang tua, apalagi sering ada peringatan bahaya merokok sayapun mencoba menghilangkan kebiasan ini. Tidak gampang. Namun Akhirnya bisa. Jaman dulu perokok dan tidak merokok berdiri sama tegak. Namun sekarang perokok mulai dikucilkan.

Diganjal asbak
Diganjal asbak

Salah satu diskriminasi ada di kantor saya. Para perokok ditaruh dipojokan dalam kamar tertutup. Tapi wong kamarnya kecil, kalau empat orang merokok sudah pasti ruangan jadi sesak. Agar asap tidak terlalu pekat, teman perokok mulai membuka pintu sedikit. Caranya dengan diganjal asbak duduk yang terbuat dari stainless steel. Tak heran asap rokok yang ramping mulai melepaskan diri disela pintu yang terbuka dan kadang saya berfikir, untuk apa dibuatkan kamar asap kalau pintunya dibuka.

Advertisements

2 thoughts on “Siapa Bisa Menjepit Asap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s