Riwayat hidup Misbach Yusa Biran


Ada kata pengantar Misbach Yusa Biran (MYB) yang menggelitik. Sekalipun seorang sutradara kawakan dalam dunia perfileman Indonesia, namun ia tidak melupakan bahwa masa muda dilaluinya dengan keadaan ekonomi yang pedih. Ceritanya ia ingin mewariskan ilmu hidup kepada anak-anaknya. Sialnya tidak satupun anaknya yang bisa tenang mendengarkan cerita masa kecilnya. Ada saja alasan mereka agar bisa cepat-cepat menjauh dari ayahnya.

Padahal ia bercerita bahwa dulu ia punya Uwa yang pernah dikeroyok Jawara dari Banten – cuma pulang keletihan sambil memperlihatkan badannya yang biru-biru lantaran dibacoki oleh golok sang lawan.

Suatu ketika ia berhasil menjebak anaknya agar mau mendengarkan cerita masa kecilnya. Tapi sekalipun si anak duduk dimeja dan kelihatan tekun mendengarkannya bahasa tubuh memperlihatkan ia bosan. Maka MYB penasaran dan bertanya “kamu dengar apa yang ayah ucapkan?”

Anak menyahut “iya.. ayah jago…

Glek,  MYB kehabisan akal untuk bercerita pengalaman hidupnya kepada anak-anaknya, ternyata sang anak menyangka si ayah ingin membanggakan kehebatannya padahal dalam usia diatas 70tahun, ia sudah mulai gelap mendapatkan data-data orang yang pernah mengisi masa kecilnya. Riwayat hidup dari Ayah, misalnya selalu gelap urutannya. MYB mulai gelisah, kelak sejarah keluarganya akan hilang begitu saja dengan ketidak perdulian anak-anaknya. Kan ironi, bisa bertutur kepada masyarakat tetapi ompong didepan anak-anaknya.

Mau tidak mau MYB harus bercerita kepada mesin ketik dan jadilah memoir berjudul “Kenang-kenangan Orang Bandel..

Lalu ingat kepada Pakde saya di Yogya, namanya Soedjono, dalam usia hampir 80an masih saja mengayunkan raket badminton. Kecuali sakit gigi saya tidak melihat keluhan lainnya.

Kakak almarhum ibunda ini setiap kami bertemu selalu mencoba menerangkan silsilah (tanpa penekanan cerita glori, kepahlawanan atau segalang sing hueabat huebat). Beliau hanya bercerita datar. Bahkan tanpa tedeng aling-aling kakeknya bernama Raden Alap-alap di kawasan Sedayu, bukanlah nama sebetulnya melainkan nama Ki Lurah yang digantikannya. Lalu lantaran kepingin anak-anaknya sekolah mirip anak amtenar, ia diam-diam menggunakan uang pajak sapi. Ketemu dengan lawan yang sudah membayanginya sejak lama, perbuatan ki Alap-alap segera disambar untuk dilaporkan ke Belanda. Itulah cerita yang saya anggap sudah luar biasa.  Kendati ingatannnya masih tajam,  pakde Djono bukan penutur yang baik. Dia berbicara seperti gaya yang saya katakan sebelumnya yaitu datar, lalu banyak disela gemrenengan lirih sehingga telinga yang tadi berdiri, menjadi cepat bosan. Saya amat kuatir kehilangan sumber cerita.

Dari ayah saya “auuuah gelap” – mereka umumnya seperti saya (GR), berbakat menjadi penutur, tetapi lemah dengan fakta sehingga lagi-lagi asal usul kami hanya seperti cerita anak jalanan. Malahan kadang sering mengakui anak keturunan Kiayi Geseng dari Purworedjo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s