Joki Video Game


Anak saya pulang dari Bandung bercerita bahwa dia menemui sahabatnya yang sekarang bekerja dengan gaji “lumayan” – jam kerja dari 9 pagi sampai 9 malam. Hanya saat tidur dia mengeluh persis jejeran ikan asin. Mudah-mudahan ayah beranak satu ini bisa mantap dengan pekerjaannya sebab selama ini dia seperti kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Pekerjaannya adalah menjadi joki para pecandu video game yang kemampuan-nya segitu-gitu saja tetapi ingin naik level ketangkasan di luar kemampuannya. Orang-orang ini nantinya dibantu oleh para “gamer” kawakan secara remote. Misalnya untuk naik ke level tertentu seorang pemain harus mendapatkan pedang mustika, mereka tidak perlu bersusah payah mengalahkan para monster jahat – ramuan-ramuan yang rumit. Cukup merogoh kocek maka “jreng” mereka menjadi sakti mandraguna dengan karakter dan equipment yang super canggih.

Ada joki UMPTN, ada joki masuk perguruan tinggi, ada joki three in one, joki pasar modal, ada joki antrean sembako, sekarang Joki RF Rising Force).

Inilah negeri dengan sejuta joki.

Saya pikir bermain video game adalah soal ketangkasan, kecermatan dan kecepatan bereaksi. Mereka bermain untuk sekedar bersenang-senang – lantas apa gunanya kemenangan semu tersebut.  Tetapi justru watak tak mau bersusah payah ini menjadi peluang gemuk untuk menghasilkan uang.

Jadi pembeli dan penjual sama-sama senang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s