Maaf Mas ALAP-ALAP kopi manismu saya minum


Dua gembok mengakibatkan bibik malas menguncinya. Dia pikir cukup dikait dengan gembok yang dalam keadaan terbuka, habis perkara. Akibatnya pencuri dengan mudah masuk rumah.
Dua gembok mengakibatkan bibik malas menguncinya. Dia pikir cukup dikait dengan gembok yang dalam keadaan terbuka, habis perkara. Akibatnya pencuri dengan mudah masuk rumah.

Padahal berulangkali SOP alias standar Operasi kepada para Bala rumah RawaBogo di jalan Pendidikan dengan nomor rumah menduplikasi mirip nomor usaha Bakpya Yogya JatiMekar – sudah jelas. Kami akan memaklumatkan kesegala halayak rumah bahwa tidak akan pernah ada pihak lain yang akan mengecek sertifikasi tabung gas, menagih kartu kredit – karena alamat rumah kami masih di Grogol, memutus listrik, memutus tilpun atau service TV, AC kecuali diberi “pre-alert” sebelumnya. Sebagai  contoh, kebetulan saya ada di rumah ketika ada tiga petugas “Perusahaan Listrik Negara” lengkap dengan tanda pengenal, membawa writing board, berusaha masuk memeriksa listrik kami.  Setelah selesai, dengan pengawasan ketat kami sekeluarga gantian saya tanya, apa buktinya kalau saya sudah diperiksa. Di membual bahwa sekarang alat PLN cukup dilihat, lalu pakai alat tertentu (dia tidak tunjukkan), data saya sudah terkirim di server PLN. Saya tidak perlu mengomentari soal kehebatan teknologi informasi PLN – anda sudah tahu sendirilah.

Singkatnya tanpa ijin kami – tidak ada seorangpun boleh masuk rumah. Peraturan lainnya pintu pagar harus selalu terkunci. Apalagi di rumah seringkali hanya bibi seorang yang mencuci dan memasak untuk kami.

Sejalan dengan kalender berganti dua kali, SOP ini mulai jarang di bezoek.

Pintu besi depan ditawar aturan mainnya dengan sekedar dicantheli gembok menganga – supaya tidak ribet buka tutup, kata salah satu penghuni rumah, sebut saja bibik pekerja kami. Malahan serenceng anak kunci kamar lainnya dibiarkan menggantung bebas sambil bergesekan satu sama lain menimbulkan irama indah “cring..cring” – sekalipun ditelinga saya kebalikannya.

Selama ini memang “kebetulan” “selamet sego liwet”  alias tidak pernah ada kejadian tak diinginkan yang berlaku. Beberapa kali saya memanggil petugas Speedy karena memang layanan satu ini kadang ngadat. Petugas menaruh motor di luar, pagar terbuka. Mendadak sudah ada tiga orang datang, mengaku dari PLN dengan tuduhan saya mencuri listrik(lagi).

Padahal yang terang-terangan pakai PLN tanpa meteran (curi) malahan tidak ditengok. Mereka memang masuk rumah, namun petugas Telkom (beneran) yang dua orang ada disitu dan melihat foto saya “mirip angkatan” – tak satupun barang dijarah. Tapi bukan tidak mungkin suatu ketika “anasir asing” masuk dan mengeduk informasi bahwa saya bukan dari angkatan. Data kartu kredit dan ATM anda saja bisa dijual belikan kepada para peminat.

dibalik_ruang_kerja
Kalau sudah lolos pagar, biasanya mereka sudah sampai didepan pintu ini.

Ceritanya hari Sabtu atau minggu kalau tidak keluar rumah ketika saya memperberat penderitaan „carpal tunnel” dengan mengetik terus-terusan diatas laptop mengisi blog saya. Mendadak „mak jegagik” oknum mengaku tukang susu, tukang majalah, tukang alat safety kompor, kasur ex impor sisa toko, dan sumbangan-sumbangan lainnya sudah muncul didepan pintu.

Akhirnya saya mulai berkata keras kepada si bibik, yang selalu saja alasannya „lha wong orang cari makan dengan menawarkan kasur, kursi ..” – Mungkin kalau bisa saya baca isi kepalanya dia akan bilang, „jangan suudzon..dosak (k) tau(k).” – sebab biasanya kalau ada ceramah agama diluar skenario saya akan ketus menjawab: „lakukan semua ceramahmu itu tapi dirumahmu…

Saya tahu bibik kurang sejalan dengan pikiran saya buktinya selalu saja ada orang berhasil muncul didepan pintu kamar.

Sebuah riset mengatakan dari kejadian „nyaris celaka” sebanyak 600 kali, maka akan terjadi kecelakaan fatal satu kali.

Sampai satu jumat siang, saya ditilpun bibik – „bapak mau ukur-ukur rumah kok saya tidak diberi tahu. Ini ada tiga orang datang disuruh mengukur kamar bapak.” Ini biasanya modus operandi bibik kalau merasa bersalah, dia akan „nembak” duluan.

„Jreeeenggg..” – saya sudah mengendus sesuatu amis bakalan terjadi.
Sebuah laptop rumah, biasanya saya colokkan dengan tilpun, dan diletakkan di ruang tamu karena terhubung dengan internetannya mas SUPIDY. Aturan baku, laptop selalu di kunci dengan kabel. Di kantorpun kebiasan ini saya pakai tetapi selalu mengundang cemooh. Tetap bisa dicuri tetapi tidak dengan cara teramat mudah.

Tadi malam (kamis malam) kok ndilalah instink saya menyuruh agar laptop saya pindahkan ke kamar, dan kunci kabel tidak saya sertakan. Entoh laptop dipasang didalam kamar. Selain dengan mas Supidy,  Saya berinternet dengan menggunakan layanan jasa penyebab orang jadi bego alias „cantik-cantik” namun bahasa Inggris dan Bahasa Indonesianya buruk nian, lantaran beli obralan „ALL ITEMS” Sejak kapan kata ALL adalah bahasa Indonesia untuk semua dan ITEM adalah pengganti Hitam.

Pencuri yang ternyata tiga orang, berbaik hati melepas usb MODEM3G, mencopot Laptop Charger, menata ThumbDrive (flash disk), dan hanya mengambil Laptop tanpa tasnya disentuh.

Padahal tanpa kabel charger, laptop usang tersebut niscaya tidak bisa dipakai, baterei sudah menunggu waktu yang baik untuk di-kremasi. Hurup dalam papan ketik sudah sebagian besar hilang sehingga mengetik hanya berdasarkan instink dan kebiasaan. Hardisk volumenya hanya 20GB dan sistem komputer hanya menunjang paling pol Window 98.

Contoh klasikal ketika diinterogasi bibik berkilah „saya seperti kesirep, habis katanya suruhan pak Mimbar…” – sementara aji-aji sirep saya dengan mengatakan berulang-ulang (sampai malu) dan meniran (kapalan) bibir ini – jangan memasukkan orang tanpa sepengetahuan kami, sudah luntur dengan alasan „pagar terbuka, lupa kunci, mereka tahu-tahu masuk..” – mungkin dalam hati menambahkan “musibah mana bisa diduga..

Sihir saya mengatakan kepada bibik bahwa orang jahil sekarang bukan kumisnya baplang, jenggotnya lebat, kaosnya strip hitam putih, kumis melintang, tangan pakai gelang akar bahar besar, sambil membawa gada berduri lalu ketawa terbahak-bahak sambil bilang „saya jahat, saya pencuri, saya akan menipu sampeyan..” – hua hahaha. Mereka biasanya berpenampilan klimis, sopan dan dua menit kita berbicara dengannya pasti akan tertarik.

Kami berani menepis bahwa bibik ada kerja sama. Itu sama sekali tidak terlintas sebab ia sudah bekerja selama dua tahun dan kami amat percaya kepadanya. Apalagi rumah kontrakannya berjarak dua lompatan (raksasa). Terimakasih laptop kuno kami ada yang mau “ngopeninya” – hanya kalau kebetulan mas maling membaca artikel ini, tolong charger yang ketinggalan di rumah dibawa sekalian. Apalagi colokan ala Singapore sudah saya tambahkan adaptor untuk colokan listrik Indonesia.

Lalu seperti biasa setelah semua opyak (kelabakan) ada tetangga berdatangan.

Salah satunya mengatakan dia pulang dari Jumatan dari mesjid di kampung kami yang selalu berkutbah hanya berupa doa tanpa “pidato” sehingga hanya membutuhkan waktu kurang dari 30menit selesai.

Ia melihat seorang pemuda gondrong tinggi dan guantheng bermotor lalu masuk dan membuka pagar yang tidak terkunci, cuma di canthel gembok. Tidak lama seorang masuk, diikuti yang lainnya.

Oh ya mas Alap-alap yang mulia maaf karena kalian bertiga tidak sempat meminum kopi yang anda minta kepada bibik. Terpaksa daripada mubadzir, kopi yang anda tinggalkan saya minum 3gelas – terlalu manis bibik membuatnya. Sekarang saya terpaksa cari sebutir Mylanta. Sejak dari kantor saya minum kopi melulu.

Advertisements

Warung Makan Siangku


Suasana Warung Makan Siang di Cilandak KKO
Suasana Warung Makan Siang di Cilandak KKO

Dimana kalau makan siang di kantor.

Tentu saja cukup banyak dan pada umumnya rasanya melawan. Salah satunya adalah pak Ramli. Padahal posisi rumahnya eh warungnya harus melalui “gang cekek bacok” – alias kawasan kumuh.

Kalau bertepatan jam 12 siang, kedai bukan main ramainya. Anda ambil sendiri masakan ala warung tegal, ambil nasi sendiri. Kecuali minuman yang harus dipesan. Usai makan tinggal laporkan apa yang kita makan, tidak ada rasa curiga yang ditimbulkan sekalipun pengalaman kami mmebuka warung serupa, dari 20 orang yang datang makan kadang berdasi biasanya terselip satu yang nakal.

Kalau melihat sosok tubuh pria berambut putih ini, gerak tangannya memang meyakinkan bahwa dulu dimasa mudanya pernah menjadi chef sebuah hotel mewah di Balikpapan. Saya tidak punya masakan favorit disini sebab semuanya rata-rata masuk dalam takaran lidah saya.

Anda bisa memilih Sup Iga, Sup Kambing, Daging Lada Hitam, omelet jamur, nasi goreng sea food, nasi goreng kambing, nasi goreng pete, selain tentunya masakan ala warung tegal. Kalau anda melihat pria dengan lemak diperut kedodoran, beramput sudah terkikis, dengan kantong hp dipinggang kanan yang sudah berfungsi sebagai kamera. Maka mari bergabung

Pemiliknya ketika masih aktif menjadi Chef pada sebuah Hotel di Balikpapan
Pemiliknya ketika masih aktif menjadi Chef pada sebuah Hotel di Balikpapan
Daftar harga yang memang miring sekalipun masakannya tetap tegak rasanya
Daftar harga yang memang miring sekalipun masakannya tetap tegak rasanya

Gado Gado Siram Balikpapan


Gado-gado Siram Pacifika Balikpapan
Gado-gado Siram Pacifika Balikpapan

Sudah malam di Balikpapan, teman saya Jalu dan Lambang mengajak makan malam yang setiap kali selalu itu-itu saja yaitu “Gado-Gado Balikpapan..” – sekali ini ambil saja di komplek makan Mal yang berhadapan dengan hotel kami Bahtera.

Mal ini Menjadi Mal “jug-jugan” alias saya kerap kesana, sebab ada satu toko oleh-oleh yaitu “Gramedia”.

Tetapi ada peristiwa yang terbayang selalu saat Mal ini baru diresmikan. Para remaja dengan gembira dan penuh percaya diri memanfaatkan ekskalator menuju Gramedia dan toko sekitarnya di lantai atas.

Drama terjadi saat mereka harus menggunakan ekskalator untuk turun. Mereka pada jejeritan karena “ngeri” memandang tangga yang menukik, dan seakan terbayang akan dilempar oleh tangga berjalan. Tetapi sekarang tentunya sudah berubah. Eskalator bukan “big issue”

Disinilah saya diajak makan gado-gado siram ala “Balikpapan” – Saya manut saja sebab kedua teman dari divisi “Answer While Drilling” ini lebih piawai soal selera. Tempatnya foodcourt Pacifica – Balikpapan Plaza.  Rasanya memang cucok, padahal Balikpapan saat itu baru usai hujan, udara terasa menggigit sumsum. Tetapi kombinasi es kacang merah dan gado-gado masih klop rasanya. Mungkin ada campuran khusus dibalik deplokan kacang tanah, telur rebus, kerupuk, wortel, dan pelengkap lainnya.

Sambil makan saya bercerita jaman dulu.. masih kecil makan es kipas, es lilin yang pakai lidi,  brondong Jagung yang dibakar pakai gas tekan, biskuit kecil ujungnya dikasih gula. Tetapi sekitar 20% dari cerita saya bisa diikuti, Lainnya tidak pernah melihat soal makanan jaman dulu.

Pramuka itu ternyata….


Di lantai empat tempat saya menginap dan beristana asap, tombol pesan lift saya pencet. Tidak lama kemudian ada suara mendengung, lampu menunjukkan stasiun perjalanan lift dan disertai sedikit suara gemuruh pintu lift terbuka.

Ternyata ada seorang pria tegap berseragam pramuka. Melihat kedua tangan saya penuh jinjingan, ia menekan tombol buka cukup lama dan mempersilahkan saya gedabigan (sibuk-jawa) menarik kopor gemuk dan menjinjing laptop tambun agar bisa masuk.

Setelah mengucapkan terimakasih saya lihat di dadanya ada nama empat hurup pertama dengan akhiran “O” – yang menunjukkan dari Jawa.

Namun kilatan wajah serta badge yang dikenakannya lengkap tanda penghargaan lainnya membuat saya membaca bahwa pria ini bukan sembarangan.

Saya keluarkan jurus bicara singkat padat dalam lift. Empat lantai ke lobby waktunya sangat singkat untuk mengorek sebuah informasi. Sambil membayangkan wajah bang Berthold dari Suara Pembaruan yang memang dedengkot organisasi berlambang tunas kelapa tersebut saya buka percakapan dengan pointer redaktur Suara Pembaruan tersebut.

Ada acara apa pak berpakaian pramuka hari ini?,” tanya saya sambil mencoba membaca nama keduanya. Kurang jelas. Saya harus belajar ilmu membaca papan nama secara kilat.  Sekalipun terkesan nama seseorang yang saya kenal, yaitu nama ayah saya.

Rapim,” katanya singkat. Rapim adalah singkatan dari rapat (para) pimpinan. Istilah ini umumnya banyak dipakai dikalangan militer. Cleeeng panjang – ada dua manusia lain yang kerap menyebut istilah ini – Ibu almarhum dan yang kedua ibunya Tiara.

Lalu saya mencoba memancing soal pramuka dengan menjual nama sahabat Suara Pembaruan. Kesannya seperti kalau anda penggemar sinetron Fitri sedang terpukau oleh Meiska dan Faiz sedang tukar jurus kelicikan yang harus dicounter oleh Fitri sendirian. Tiba-tiba ada orang menyela menanyakan siapa nama pengarang buku Matematika untuk SD tahun 2001. Selain nggak ngaruh – buku SD tiap tahun dikarang oleh penulis berbeda.

Nampaknya nama yang saya sebut tidak menimbulkan “kring” sehingga hanya perlu diresponse dengan tersenyum saja memperlihatkan deretan gigi yang putih.

Lalu kami berdua masuk kedalam ruang makan, memang sudah banyak “pramuka” – namun yang mengherankan saat “teman baru” saya ini masuk ruangan semua berdiri dan memberikan hormat lalu duduk kembali setelah diberi isyarat. Dan belum ada satupun yang menyentuh atau mengambil makanan

Ada yang tidak beres, pikir saya, sebab cara memberikan hormat orang sipil yang belajar “kasih hormat” akan berbeda kelenturan tarikan ototnya dengan pelaku yang pekerjaan memberikan salut adalah garis hidupnya.

Apalagi diujung sana ada ibu-ibu berpakaian Pramuka dan nampak sekali ada perbedaan dalam berbicara. Ini tipikal sekali, ibu pemimpin berbicara ngalor ngidul, selalu dilayani sementara yang lain hanya haheh dan modal senyum serta anggukan.

Setelah sarapan pagi, didepan telah menunggu mobil berwarna hitam dengan supir yang menghormat bukan ala pramuka. Para para sekuriti hotel ikut membentuk semacam pagar betis.

Sampai akhirnya pagi-pagi wajahnya tampil pada sebuah koran lokal yang masuk melalui celah pintu distaples secuil kertas “voucher sarapan pagi untuk satu orang..”

Saya baca harian Tribun Kaltim, mata saya terpana pada foto seorang pria berpakaian pramuka sedang mengenakan topi kepada anggota pramuka cilik pada hari Selasa 17 Feb 2009. Keterangan foto menyebutkan “Menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 mendatang, Kodam VI TanjungPura akan menerjunkan 3400 pasukan TNI untuk membantu pengamanan.”

“Kami tekankan kembali netralitas TNI dalam Pemilu mendatang.”

Rupanya rapat pimpinan antara para Danden sampai Dandim di Kalimantan Timur dibuka dengan cara tidak biasa dikalangan militer yaitu mengenakan baju Pramuka.

Ada dua malam saya selalu bertemu dengan para Dandim dan Danrem entah saat sarapan, entah saat makan akan malam. Tidak pernah kami bertegur sapa, cuma saling tukar tatap sekilas. Siapalah aku ini ingin memperkenalkan diri, nanti dikira cari proyek.

Makan Malam Bersama BCL mohon dibaca Bunga Citra Lestari


Makan Malam Bersama BCL – mohon baca Bunga Citra Lestari

Tapi eit nanti dulu, kadung dikira cari popularitas, saya tambahkan selain BCL ada Ashraf suaminya, ada adek bayinya, ada babby sitter, ada tukang parkir, ada mbak pelayan yang sibuk njepreti kedua pasangan yang dimana-mana berpelukan. Mungkin dalam benaknya inilah pasangan paling langgeng, paling bagus untuk panutan.

Akibatnya order kepiting bertelur saya sempat lupa ditulis.

Jleg.. kendaran masuk ke sebuah ruang parkir dikawasan bilangan Batakan? – diluar saya lihat seorang pemuda mancung mungkin melting point antara Arab+India dibumbui Melayu. Berkacamata minus dan mengenakan kaos merah ati ayam. Nampaknya dia sedang berada di istana awan yang dibentuk dari lubang hidung mbangirnya. Dia memang tampan.

Di pojok sana sosok perempuan berambut pendek yang sekalipun gerakannya tidak menarik perhatian, namun pengunjung resto kepiting saus malam itu selalu tertuju kepadanya. Malam itu dia mengenakan kaos hitam irit bahan terutama pada bagian bahunya.

Sahabat saya yang mempromosikan „jangan ke BPN kalau belum ke Kenari“ – langsung berbisik. Kok sejalan dengan „hasutan“ mbak Angkin teman kantor yang bilang „selamat ke Kenari ya..“

„Itu BCL dengan suaminya..“ kata Yusva rekan saya – Jarak kami sekitar 20 ubin jumbo berwarna abu-abu, kendati 20cm sayapun tidak akan mengenalinya kecuali gadis dengan pipi sedikit tabembeng „lebar-minahasa“ tetapi pandai berdandan.

„Saya kenal sama-sama kuliah di Grogol…“ cetus teman saya lagi.

Tapi Cah Kangkung, Udang Masak Asam Manis dan terutama Kepiting saus tiram penuh telur ukuran Jumbo (jangan-jangan telurnya sudah dicampur, karena begitu padat merayap dilidah.) membuat keringat bercucuran. Rasanya mendekati kalau menggado “makan tanpa nasi” kuning telur asin dari Brebes. Hanya telur yang ini lebih padat semekel.

Lalu ingat Santai Malam di bilangan Kelapa Gading, yang lucunya saya selalu ditraktir habis oleh seorang adik ipar perempuan. Entah sudah berapa kali sampai lupa sangking banyak kali. Apalagi kalau mereka mendengar Lia liburan dari Singapura ke Jakarta, rasanya semua masakan restoran ditawarkan.

Klethak capit yang gemuk saya pecahkan dengan tang anti karat. . Setelah cangkang disisihkan – daging montok putih perlahan menyembul keluar. Saya cocolkan sedikit ke sambal dalam cawan kecil yang berani jeruk.

Itulah saat terakhir bersama Kepiting Saos Asam Manis. Lantas saya sruput es teh tawar saya.

Lho kok es teh tawar yang saya pesan rasanya manis-manis jambu. Padahal sudah dibilang teh tidak manis yang dalam dialek Balikpapan berarti „teh tidak (terlalu) manis alias manis jambu..“

Jangan-jangan kalau saya bilang teh tawar tidak pakai gula, lalu tetap rasanya manis sebab sudah diganti gula jawa bukan gula pasir.

Sekalipun restoran ini kondang namun yang mengganggu adalah tempat cuci tangan yang terbuat bahan keramik putih mahal, dengan Kraan yang sudah pasti mahal ternyata pengunjung masih harus menyenduk air melalui baskom. Air keran ternyata sudah lama „dut“ – agak kurang sreg harus cuci tangan di kamar mandi.

Restauran Kepiting Saos Asam Manis
Jl. Marsma R. Iswahyudi
Balikpapan (0542) 764 018

Urung Kerja Gara-gara Bahasa


chua_balikpapanSoal mendatangkan tenaga kerja asing, sudah bukan barang baru bagi perusahaan kami. Rasanya ada muncul kebanggaan “semu” mempunyai anak buah warga asing dari Amerika sampai Asia.Yang Asia macam Philipine atau Malaysia tetap memanggil dengan “Pak”

Tentu yang dimaksud adalah tenaga asing yang legal. Para pekerja di departemen kami amat piawai soal mengurusi pernik-pernik ketenagaan asing sehingga cukup dengan sepucuk surat elektronik dari saya umumnya semua berakhir beres. Data seperti passport, jaminan kesehatan, ijazah dikirim melalui burung “pdf” atau “jpg.”

Justru seperti peribahasa yang kami dengungkan di dunia perminyakan adalah “selalu bersiap menghadapai ketidak siapan..

Alkisah sekitar 6 bulan lalu kami sudah bersiap-siap mendatangkan ahli yang “kebetulan” orang Singapura. Sekalipun demikian saya selalu saja berkoordinasi dengan pihak formalitis yang memang tugasnya mengurus perijinan. Mereka ini sebetulnya konsultan, tetapi ditanam dalam kantor kami khusus mengurusi masalah visa, pasport dan banyak lagi. Untuk keperluan tiket didalam kantor tak jauh dari meja saya sudah ada dua perempuan dari perusahaan jasa tiket yang mjemang ditanam dikantor kami.

Enam bulan cukup lama untuk sebuah urusan sehingga Visa kerjapun didapat oleh konsultan tersebut. Beberapa kali email saya dijawab mbak Rina dan Yeni dengan jawaban tegas “beres pak” – tinggal kalau tiba di Indonesia dia perlu sidik jari.

Maka bagaimana tidak sport jantung ketika sedang makan siang saya ditilpun yang mengatakan bahwa ahli saya sebut saja “Chua” tidak boleh bekerja di Balikpapan sebab menggunakan visa turis. Langsung Chua kami gelandang ke kantor kami padahal rencananya dari airport dia akan langsung diterbangkan dengan helikopter ke lokasi pengeboran. Pasalnya Imigrasi mengancam akan membekuknya ke penjara kalau sampai dia bekerja di rig. Tentu kami tidak akan melakukan perbuatan tercela tersebut.

Neg...Makan siang saya di Jakarta langsung terganggu.

Berita selanjutnya Chua harus kembali pada keesokan harinya. Bagaimanapun rencana harus diubah. Berapa kerugian sudah harus saya tanggung.
Beruntung di mobil selalu ada tas kecil berisikan pakaian. Siang itu juga saya tanpa pulang kerumah saya terbang ke Balikpapan. Ini berarti ada pihak keluarga, kerabat yang terpaksa membatalkan rencananya dengan saya. Apa boleh buat. Di airport, saya sadar kelupaan bawa Frequent Flyer. Masalahnya cuma bikin kantong tebal tetapi duit tipis.

Dalam urutan mendapatkan ijin kerja tenaga asing, mula-mula kami harus menyampaikan permohonan ke instansi terkait. Bila permohonan diterima, pihak kami mengirimkan telex atau fax ke kedubes tempat pemohon dalam hal ini Singapura.

Sampai disini, tugas Chua adalah mendatangi kedubes Indonesia di Singapura, mendapatkan stempel pada passportnya dan di Indonesia dia hanya perlu diambil sidik jari dan diberi surat keterangan jalan.

Ternyata ia tidak melakukannya.

Chua bukan tidak tahu. Yang menjadi persoalan, kalimat dalam telex yang dikirimkan kepada pria yang hanya menguasai Mandarin dan Inggris ini tersebut berisikan 100% tata bahasa Indonesia. Sebagai orang Singapura berdarah Cina, lelaki perokok yang mirip Jacky Chan edisi bajakan ini lalu menanyakan apa maksud surat yang ia terima dari Indonesia.

Celakanya para cewek Singapura baik Angela, Julie atau NurAzizah ataupun perempuan yang „cakap Malay” lainnya – menerjemakan bunyi surat yang isinya permohonan anda diterima dan harap melapor ke kedubes Singapura, sebagai „everything is accepted..no problem..”You can go work in Indonesia.

Apalagi selalu ada alasan masih enam bulan lagi baru ke Indonesia, mungkin ya mungkin tidak. Mengapa harus terburu-buru. Dan
akhirnya peristiwa terlupakan.

Chua bukan pertama kali ini datang ke Indonesia. Juga jam terbang bekerja diseluruh penjuru negeri ia lakoni. Tetapi berhadapan dengan peraturan kita. Ia seperti orang baru pertama kali terdampar dinegeri asing.

Akhirnya operasi kami tersendat. Ternyata rutinitas kerja, apalagi kalau masuk zone haqul yakin sering membuat kita lengah. Justru kita terperosok kemasalah yang sepintas kecil. Tapi ada baiknya kalau surat menyurat kita juga dilampiri bahasa Inggris agar tidak menimbulkan perbedaan pendapat.

Iklan Caleg


Tepat dimulut jalan keluar akses rumah saya ada bekas bangunan permanen yang entah mengapa menjadi tidak terurus sebelum sempat dipasang genting. Perlahan tembok batu menghilang.  Biasanya dibobol anak-anak untuk menimbun jalan rusak sekitar kami sekalian cara mencari uang jajan tambahan di tengah jalan.

Beberapa bekas pilar nampak menjulang bagai tonggak batu masa lampau. Barang terbengkelai ini sekarang menjadi rebutan lahan untuk memasang campanye Caleg kita.

Cuma sekarang kan jamannya spanduk terbuat dari plastik dicetak dengan baik celakanya lebih berat ketimbang spanduk kain atau bagor seperti jaman dahulu. Maka seutas tali sudah tidak mencukupi kekuatannya sehingga harus dibantu dua minimal dua tiang bambu panjang.  Tidak ketinggalan spanduk yang nampak mentereng tetapi menghiba minta dukungan-pun siap menyapa kami yang keluar masuk gang tersebut.

Namun belakangan angin kencang meniup Bekasi. Papan ini rubuh sekalian membedol tanggul rumah.

Sementara papan nama jalan kami sudah lama raib lantaran dimanfaatkan untuk keperluan yang sama lantas rubuh dan hilang bersama tiang besinya. Dahulu waktu papan nama masih tegak berdiri, bulan puasa dimanfaatkan menjadi salah satu tiang penyangga terpal plastik penjual buah timun suri. Menjelang bulan haji, dipakai mengikat kambing-kambing yang akan dikurbankan. Lama kelamaan tiang menjadi oglek. Begitu dicoba dipasang bendera partai, tidak lama rubuh dan raib.

Lalu ingat saat berjalan untuk makan siang di kantor, angin begitu sembribit saya malahan menjadi paranoid melihat baliho-baliho raksasa iklan yang bukan tidak jarang kita dengar roboh lantaran pembuatan yang tidak sesuai bestek. Sekarang baliho harus mendukung pula spanduk kampanye yang manakala tertiup angin mengeluarkan suara meletup-letup.

Beberapa bendera sudah berwarna kehitaman terkena debu dan jelaga mobil. Diantaranya robek tercabik-cabik angin. Malahan ada yang melorot setengah tiang sehingga mengesankan “bela sungkawa.”

Yang mengerikan adalah jika tiang bambu dari ketinggian sekitar 2-3 metel meluncur mengenai tubuh kita, pasti efeknya fatal. Tengok saja dipinggi jalan protokol, tiang bambu mencuat disana-sini selain menambah kesemrawutan pemandangan juga membahayakan pengguna jalan.

Hendra sahabat saya berkomentar, belum jadi pemimpin saja sudah mengancam akan mencelakai calon pemilih macam kita.