Kartu E-Toll


Dulu orang kaya sering ditamsilkan “berdompet tebal.”

Tapi sekarang punya hanya uang gocengan tetap saja dompet saya tebal.Bagaimana tidak ada berapa kartu disimpan disana, mulai dari KTP, SIM, NPWP, Frequent Flyer, dua ATM, Kartu Kredit, Asuransi, Kartu Diskon, Kartu akses kantor, Flazz dan entah apa lagi. Belakangan seorang bagian pemasaran getol menjual kartu tambahan berupa kartu kredit cicilan. Dengan logat termata kental dan cara biasa teramat terburu-buru mengesankan seperti kalau  mendengarkan kotbah di rumah ibadat khsus para halak hita, Valeria, sebut saja namanya begitu mengez(z)ar zaya dengan buzukan “kalau baapak biza menunzukkan kartu NPWP maka pagu kredit akan sebezar sekain zuuta Pak! – tetapi tanpa NPWP pagu terpaksa kami turunkan menzadi zepertiganya pak!“:

Akhirnya zaya kalah dengan buzukan yang bertubi-tubi.

Tapi dasar serakah, dasar kepinginnya mirip iklan mobil “one step ahead” maka saya masih kepingin kartu E-Toll yang sekarang logonya dipasang di gerbang tol dalam kota. Sebuah jalur khusus dipasang, Jalan dipersempit, terkesan hati-hati ada galian kabel yang tak kunjung selesai. Sebuah besi dilengkungkan membentuk bulan dipasang dengan papan peringatan selain Sedan dan sejenisnya dilarang masuk.

Apalagi kadang dijaga para sekurit yang siap menghalau kendaraan semacam Bis masuk kesana. Jelas tidak bakalan muat, tetapi di negeri ini ada saja orang yang coba-coba. Apalagi bukan untuk anak.

Daya tarik karcis E-Toll ini sebetulnya “itoe koetika” sebuah siang, para petugas sibuk..sibuk…Suibuk (mau yang tiga kali?), berlarian memegangi gerbang tambahan yang bertuliskan khusus mobil kecil. Rupa-rupanya sang gerbang masih malas untuk berdiri tegak.

Saat mereka sibuk itulah saya baru ngeh bahwa pengelola jalan tol menambah layanan agar transaksi di pintu gerbang bisa berjalan lebih cepat. Sekalipun sedikit lucu, apalah artinya detik perdetik irit di pintu gerbang – kalau jalanan tolnya sendiri macet termacet.

Tapi kepikiran juga kalau saat itu saya berada dibawah gerbang, dan tanpa ampun kejatuhan tiang gawang. Kok kalau soal keselamatan kita hanya terbatas peringatan ikon “pakai sabuk keselamatan” saja.

Sebuah bank yang konon menjual kartu tersebut saya datangi. Satpam yang ramah menanyakan keperluan saya. Dan jangan kaget kalau respons yang anda terima tidak terbersit diwajahnya bahwa ia paham apa yang saya tanyakan. Satpam berlalu bertanya kepihak pelayanan pelanggan. Lalu ia kembali lagi dengan mengatakan bahwa di kantor ini belum tersedia kartu tersebut sekaligus mengisyaratkan “kalau dikantor pusat lebih lengkap koleksinya..”

Nampaknya saya harus ke pusat yang di jalan Gatot Subroto. Sayapun bergegas menuju sana, dan setelah mendapat respons “bingung” lagi lalu satpam bertanya ke pihak bank maka jawabannya lebih eksplisit bahwa kartu belum dijual menunggu pertengahan bulan depan..” – Kuciwa namun setidaknya lebih jelas ketimbang jawaban pak Satpam di kantor cabang sebelunya.

Akhirnya supaya kelihatan berfikiran positif saya cuma mbatin dalam hati (namanya bicara batin) ya sudah, dompet saya jadinya tidak terlalu tebal. Lalu saya perhatikan penampilan saya akhir-akhir ini. Lemak di perut sudah seperti dompet kusir dokar, di pinggang kanan masih diganduli kantong untuk HP dan sebetulnya kamera, dompet tebal dibelakang tempat bermukim segala macam kartu termasuk kartu nama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s