Tahun Baru Kerbau dan Meditasi


Senin 26 Jan 2009 tergolong arisan pelbagai peristiwa dunia. Tahun Baru Cina memasuki alam Kerbau. Ditimpali oleh Gerhana Cincin sampai gerhana lain yaitu MUI menggenjot produksi sumur fatwa-fatwa yang tiada keringnya.

Yoga yang biasanya berhubungan dengan cara meditasi dilarang. Kata sementara orang kita seperti berjalan sambil memasang teleskop dari Lembang. Bintang di langit nun jauh disana dibahas mati-matian. Jerawat di muka malahan tidak nampak.

Mudah-mudahan anda yang punya nama Yoga tidak bersiap mengganti KTP, IJAZAH, SIM, KARTU KELUARGA sebab kebiasan kita manakala satu kegiatan diharamkan. Maka asesories yang terkait akan bernasib sama. Ada yang mendengar nama salah satu hewan mahluk ciptaan Tuhan disebut, langsung mengkirik “hiy.”

Sayapun kalau menghadiri pesta pernikahan sekelompok masyarakat lalu melihat glundungan utuh kepala hewan diatas tambir (tampah) – masih kaget. Sekalipun otak saya perintahkan untuk bersikap wajar.

Saya tidak tahu apalah Falun Gong akan mengalami nasib mirip perintisnya di daratan Cina Komunis sana.

Lalu ingat sebuah acara radio diasuh oleh Gde Pramana: “Ada bermacam-macam cara orang belajar meditasi. Ada banyak cara bermeditasi, ada banyak tempat untuk di hotel, di mal, di kamar yang sunyi. Ada yang pergi ke puncak gunung, lalu mengamati tarikan nafas. Saya ingin mengajarkan anda cara meditasi yang paling baik. Cara ini tidak membutuhkan tempat sunyi, sebab meditasi ini adalah meditasi kejujuran hati dan sikap menolong sesama. Sudahkan anda bermeditasi hari ini.”

Saya tidak tahu apakah ajaran meditasi Gde Pramana kelak akan di larang.

Saya berdoa semoga Karate, Kempo, Kendo dan aliran bela diri dari luar Indonesia akan di-makruh-kan lantaran rata-rata lahir di Jepang bagaimana akan diharapkan berselera Timur Tengah. Mirip mengharapkan harimau harus mengembik dan makan rumput.

Beberapa hari lalu di Mal Ciputra saya melihat pagelaran musik tradisional Cina. Pemainnya muda-muda. Beda pemain muda dan tua cuma pada penghayatan. Pemain tua umumnya menghayati lagu sampai ke hati, mereka tenggelam dalam irama, mata terpejam dan trance. Musik menjadi ritual dan sakral. Dijaga jangan sampai salah sambung, salah nada. Akibatnya mereka tidak menjadi tontonan menarik. Tetapi tuntunan menarik jelas Iya.

Pemain muda biasanya saling lempar senyum kepada sesama pemain. Tanpa beban. Mereka sebagian mungkin tidak sadar sepenuhnya, bahwa hanya ada satu manusia di bumi ini yang kebetulan naik tahta dan melonggarkan pembatasan-pembatasan tersebut. [I am not campaigner or part of the member LHO]

Gesekan senar, pukulan tambur dan kencreng seakan memenuhi hall mal yang hari itu bernuansa hokie yaitu merah. Karena lagu gurun Gobi pertama saya ya senang namun karena tidak mengerti, kurang ambil perhatian. Okeylah, ada instrumentalia “Dayung Sampan” yang juga di klaim musik jiran- saya masih bisa mengunyah nikmatnya musik.

Lho kok mendadak musik berubah “Besame Mucho (salah tulis), lantas perlahan bergeser masuk ke ranah dangdut. Dan adegan campur sari ini langsung disambut lebih hangat karena beberapa penonton termasuk saya sekarang bisa menikmatinya.

Pertunjukan tersebut cukup sukses. Tapi kelak apa akan dilarang juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s