Kesasar ke alamat Mbah Jingkrak


Itu alasan saya ketika menyadari setengah jam terlambat dari waktu yang dimusyawarahkan. Jelas bohong, sebab justru saya yang wara-wara mengiklankan acara kuliner bulan Januari 2009 nanti di rumah makan bersuasana Jawa.

Yang betul adalah mencoba melakukan akrobat diantara kegiatan kantor yang menunjang peri kehidupan dan kocek saya, ditambah komunitas wikimu yang sudah seperti saudara kedua. Masih mencoba berakrobat  dalam deretan parade orang bermobil berpendingin tetapi mengeluh (macet), adik tersayang Utami sudah menilpun. “Mas – anak-anak sudah menunggu di Mbah Jingkrak, tadinya aku mau ikut tapi bapaknya anak-anak tidak mengijinkan. Padahal anak-anak sudah ngompori bahwa pakde sebagai koordinatornya (padahal pak Phil). Tapi kalau suami sudah bilang biru, ya aku ikut mengamini biru..” – maklum istri angkatan, maklum pula memang mereka kelompok yang kadang dituding “sempalan” – bahkan dalam catatan MUI – mereka tergolong memasuki wilayah abu-abu.

Setengah jam berkutat akhirnya saya berhasil lolos dari jeratan macet dan masuk ke jalan Setiabudi Tengah no 11. Disana pak Phil nampak sudah bersiap-siap dengan penganan kloter kedua. Nampaknya Mie rebus Jawa merupakan rombongan kloter pertama yang masuk kedalam sistem pencernakannya. Mel dan Firsa sedang kotos-kotos mandi keringat. Mel bilang “gadon” kok malahan tidak ada.

Keponakan bertiga sudah tidak perduli dengan kedatangan pakde. Teman lain tentunya tidak saya sebutkan satu persatu kelihatannya menikmati hidangan usulan kami.

Lalu mulailah pada berbagi hendak menulis Mbah Jingkrak dari pandangan masing-masing.  Saya malahan bertanya bulan Februari akan makan dimana? apakah BBT, ACANG, ALOK, RENDEVOUS, MIRANDA atau CAHAYA KOTA.

Mie BBT sekalipun mudah dicapai tetapi kelemahannya kita tidak akan bisa duduk santai berkumpul lantas mengobrol. Beberapa kedai bakmi hanya buka sampai sekitar 14:00 – sementara Cahaya Kota yang dikenal sebagai restonya para presiden kita, belakangan ditinggalkan oleh sang juru masaknya. Sampai kami berpisah dua jam kemudian, belum dicapai kesepakatan mengenai wisata kuliner bulan depan.

Mumpung lagi demam “saudara- teman kecil Obama” – saya menganjurkan makan di resto Miranda (dulu Tan Goei), karena letaknya dijalan Besuki posisinya berseberangan dengan SD Besuki yang konon Obama pernah sekolah disana. Boleh jadi Obama pernah makan disana dengan ayah ibunya kemudian jadi Presiden. Yang pasti mereka yang pernah diajak makan Nasi Goreng Kepiting – menjadi Presiden bekas perusahaan saya. Tetapi akhirnya percakapan merembet ke gosip bahwa puluhan tahun lalu sebelum Obama naik daun, saya justru mendengar bahwa SD Argentina adalah sekolahnya.

Saya sendiri sudah lama tidak menjenguk restoran yang memang okey punya untuk berkumpul dan kongkow-kongkow.  Maklum setelah ganti STNK dari Tan Goes menjadi Miranda, ada beberapa perubahan rasa dalam Nasi Goreng Kepiting. Mudah-mudahan sekarang membaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s