Tapai berbalut Daun Jambu Air


tape-berdaun-jambu-banjir-kuahImlek yang akan dirayakan saudara-saudara kita yang merayakan beberapa hari lagi saya sambut dengan penuh kegembiraan juga. Saya juga dengan tulus ikut mengucapkan rasa gembira dan mendoakan agar yang merayakan tetap sukses selalu.

Tapi dibalik itu, ada pamrih juga sih. Teman-teman pada membawakan kami kue ranjang, bandeng imlek, dan yang penuh kejutan adalah tape ketan daun jambu.

Salah satu donatur kue Imlek adalah seorang ibu muda seusia Lia anakku. Tubuhnya langsing, gerakannya selincah hwambei  baru disiram air. Cara berbusananya ribet lantaran belit berbelit kain tak tembus pandang. Sebuah cara berpakaian yang tak pernah dipikirkannya manakala mereka merantau mencoba melepas dari kemiskinan di Singkawang ke Jakarta.

Namun yang saya perlu hargai, ia tidak perlu melepaskan semua tradisi leluhurnya. Buktinya enteng saja dia masak nasi kebuli disamping membuat kue ranjang.

tape-berdaun-jambuSalah satu keahliannya adalah memfermentasikan beras ketan menjadi tapai. Apalagi ia memanfaatkan daun jambu air sebagai pembungkus tapai.

Luar biasanya, entah mengambil sifat jambu yang selalu berair, maka dari tapai ini bak Plumpang diguyur hujan Januari mengalir.  Cairan bening kental manis dan hangat dari hari kehari (kalau tapai tidak dimakan) meninggi sampai lutut (bungkus tape). Oleh sebab itu para penjual biasanya menampung dagangannya dalam ember plastik hitam. Sayangnya ember dengan warna spesial tersebut di rumah sudah sering berisi cairan karbol. Ya sudah saya ganti dengan wadah plastik warna  hijau.

Anda yang doyan minum tape, bisa disruput dengan rasa manis dan bercampur masam jambu air. Huwakadarah.

Eh sampai lupa mengucapkan Gong Xi Fat Cai – Lina (eh dulu Lien Hwa). Dan kepada para Gong Xi Fa Cai-wan dan wati.

NAH INI DIA Ibu Endang S : mengutarakan masa kecilnya bertape ria:

Air tape yang mbludak di masukan ke botol bekas kecap, di sumpel gabus kuat-kuat. Sambil toleh toleh, takut konangan, mak blesek di masukan kedalam tumpukan padi di lumbung. Dengan muka senyum kriminil kampung , mas Pung , kakak, memberi tanda kepadaku bahwa semua aman.Sepuluh hari kemudian, masih mengendap-endap kami masuk lumbung, pesta pora mencicip anggur van tape ketan ireng.  Suatu saat, Ibuku menangkap basah kami sedang lenggat lenggut bergaya seperti peminum sejati toast dengan cangkir kaleng, kami di grounded gak boleh mandi di kali selama seminggu. Selamat merayakan Imlek, semoga selalu sukses.Salam,Endang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s