Kalau Paman Gembul Nyaris Kehilangan GiPal di Restoran


Keponakan saya Gilang berulang tahun ke 11 pada Januari 2009.

Pagi-pagi benar dia sudah dapat ucapan selamat. Lantaran merasa menang angin maka ia keluarkan jurus saktinya “aku mau dikasih angpau berapa?.” -tentu saat bapak dan ibunya tidak berada disekitar. Bisa-bisa dia bakalan di damprat.

Namun Gilangpun tahu bahwa kami amat menyayanginya. Sebelas tahun lalu saat kehamilannya sang ibu berada di Gresik- Jawa Timur – dan masih aktip memimpin perusahaan penebangan kayu.

Begitu mendengar saya transit di Surabaya dalam rangka perjalanan bisnis ke Cepu, ia langsung menemui saya hanya untuk minta saya mengelus perutnya. Saat itu saya dan Howard Smith adalah manusia gendut ala kembung banjar. Tak heran sebelas tahun kemudian badannya subur seperti kami. Bahkan kalau menginap di rumah, celana dan kaos pakdenya pas sekali untuk tubuh anak berusia 11tahun.

Ohya, seperti dalam keluarga lain transaksi dalam keluarga kami adalah bilamana ada yang berulang tahun, mereka akan mengundang makan malam dan biasanya walau tidak diharapkan, ada saja kado yang diberikan. Bisa berupa mentahan – in natura – atau mainan/pakaian..

Tak kalah sebat, budenya gantian bercanda “semua tergantung pada Mamamu akan mengundang makan malam dimana. Kalau sekedar makan di warung Nasi Uduknya bang Maman maka Bude dan Pakde akan menyumbang dua kali dua puluh lima ribu alias lima puluh ribu. Kalau di restoran besar, maka pagu angpau dipikirkan untuk naik…

Otak anak gemuk dengan wajah jenaka ini langsung bereaksi “kalau gitu kita makan di Sxxxxxx di CL,” tapi angpaunya digelembungin ya sebab saya pingin HP baru.

Semula Gilang sudah puas dengan HP abal-abal, lalu dia mulai mendengarkan lagu-lagu melalui headset. Sekali waktu dia numpang denger dari HP khusus musical.

Anak yang memiliki watak selalu menggerundel dan saya juluki “juru cela” kalau soal makanan ini sekarang mulai merasakan bahwa HP lamanya cempreng macam suara bekas kaleng kurma di Tanah Abang.

Belakangan saya tahu bahwa uang sawer masuk deposit banknya, biaya makan malam dari kocek bapaknya dan HP- baru dari mamanya (yang sebetulnya dari bapaknya juga.” – dasar anak sekarang)

Akhirnya terjadi kesepakatan dan pada Sabtu Malam mereka akan menraktir kami makan malam. Dibelain kami harus naik melakukan perjalanan diantara jalan berbecek dan bolong-bolong bak kena bom Israel maka kami dari Bekasi menuju Jakarta.

Tetapi Gilang sempat mengingatkan saya bahwa pakdenya masih punya keponakan lain (adik kandung) yang sekalipun hari ulang tahunnya berdekatan, namun kepercayaan anggota keluarga yang disebut belakangan ini tidak bisa menemukan dalil dan riwayat serta hikayat ribuan tahun lalu mengapa ada ulang tahun.

Yang celaka adalah orang tua Gilang sedang keranjingan mengonsumsi minuman mirip umbel tokoh gergasi bernama SHREK.

Menurut aturan pakai minuman berinitial “M” ini – mereka memasuki minggu ritual “detoxin” -buang racun tubuh – dan dianjurkan makanan sehat seperti sayuran.

Mereka seperti juga pemakai obat hijau ini sangat percaya bahwa setelah satu minggu akan terjadi proses detox dan berat badan turun. Hidup menjadi gampang (maksudnya sang saleman gampang membujuki calon pembeli) – terbayang mungkin Tina Toon saat masih anak-anak dengan sekarang yang langsing.

Saya lebih kagum kepada para salesmen yang bisa mempengaruhi pikiran para sarjana pandai kami bahwa ada makanan bisa bikin langsing dalam seminggu zonder olah raga dan diet. Pastinya ramuan Maha Dewa. Atau Dewanya tidak menggunakan kitab Ilmu Faal yang sama dengan anak STOVIA.

Begitu masakan dihidangkan, salah satu paman Gilang, masih saja “opyak” alias kebingungan merogoh kantong depan, belakang dan melongok dibawah meja. Kelihatannya dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Paman Gembul ini memang aneh bin slordig. Dia bisa taruh cuwilan giginya diseantero rumah, dan meneror “jijik” orang serumah dengannya. Tak kurang-kurangnya sang ibu yang prihatin melihat anak usia diatas 40 masih belum bisa mengatur diri sendiri dan berharap bahwa “nanti kalau kawin kan dia akan berubah,”  seakan menikah adalah rumus cespleng mengatasi sebuah kemelut boleh dijalani tanpa kesadaran akan tambahan tanggung jawab menjadi sandaran hidup nyawa anak orang lain.

Kali ini hal yang sama ia lakukan direstoran. Gigi palsunya ia copot, lalu dibungkus dengan tisu dan ditaruh dikursi kosong. Saat kursi diisi terang saja secara otomatis tissu (dan isinya) disingkirkan tanpa sepengetahuannya.

Hilang Hape masih bisa sabar, tapi hilang gigi palsu alamat cilaka!,” gerutunya. Jelas saja gipal (gigi palsu) tidak bisa di miscall.

Mudah-mudahan dengan peristiwa ini, sang paman Gembul menjadi lebih dewasa dalam mengatur diri sendiri.  Gilang yang berulang tahun, paman Gembulnya yang kami doakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s