Bertarung dengan Keponakan Sendiri


Gilang in action dalam malam tahunbaru 2009 di Kawasan Wisata Pasirmukti
Gilang in action dalam malam tahunbaru 2009 di Kawasan Wisata Pasirmukti

Makan malam di Kawasan Wisata Pasirmukti (KWP) boleh dibilang “caputao” – alias tidak terlalu lezat dan tidak terlalu buruk. Ada panggang ikan cakalang, sup ayam,  kari ayam, kerupuk, dan bakmi goreng (mie celor). Makan malam dan sarapan pagi termasuk dalam paket wisata disini.

Sambil menunggu nasi turun, panitia membagikan papan bingo kepada pengunjung wisata.

Sebuah permainan terdiri dari angka-angka dalam kotak. Barang siapa nomornya disebutkan maka nomor tersebut segera ditutup. Bila urutan penutupan membentuk garis mendatar atau vertika maupun horizontal maka keadaan pemain disebut “bingo.”

Yang beruntung mendapat bingo – langsung diberi hadiah pot tanaman buah atau voucher lainnya.

Saya jadi ingat masih SMP ketika bang Ali Sadikin masih menjadi gubernur DKI, sebuah komplek “permainan dan ketangkasan” Lokasari di Jakarta, saya sempat melihat judi KIM yang mirip permainan Bingo.

Sambil bola bernomor dikeluarkan, bandar menyanyikan pantun-pantun seperti Ganefo di Jakarta – artinya nomor 63. Indonesia Merdeka artinya 45. Luar biasa gaduhnya, apalagi yang menunggu satu nomor lagi akan Bingo biasanya mereka menandak-nandak sambil mengacungkan papan permainan.

Puluhan tahun kemudian saya sendiri diusia 55tahun (lebih) memegang papan yang kini dinamakan “bingo” ini. Saya kebetulan bingo sebuah pot anggrek.

Dan acara selanjutnya adalah bersantai sambil berkaraoke dan dilanjutkan dengan lomba yang berhadiah bibit tanaman buah atau voucher menginap di KWP selama semalam.

Jauh-jauh hari  Gilang Perdana yang bulan Januari 2009 ini menginjak usia 11 tahun sudah berlatih vokal.

“Aku mau kalahin pakde..”

Lha ini dia, pakdenya bukan penyanyi atau penyonyo tetapi modal nekad tidak perlu dikalahin pasti kalah sendiri.

Pertama memberi contoh kepada anak-anak, keponakan bahwa tampil di depan umum bukan sesuatu yang membuat degap-degup jantung

Semula sang ayah mempunyai stigma bahwa “penyanyi pria” – biasanya memiliki kelainan seksuil

Sementara saya yang sering dengar bahwa anak ini kalau terlalu banyak omong dan berisik di kelas maka oleh gurunya ia distrap untuk menyanyi di depan murid yang kelasnya lebih tinggi.  Misalnya saat ia duduk di kelas 3, di strap menyanyi ke kelas 5 atau 6, dan tidak ada rasa malu atau takut, dia hayuuh saja menyanyi.

Sayapun maju dengan andalan saya Darah Muda, Pelangi di Matamu dan Terajana. Herannya kalau menyanyi lagu Indonesia selalu saja mesin memberi nilai saya rendah

Namun kalau lagu dangdut sekalipun tidak tinggi namun pontennya masih bisa bersaing.

Begitu pakdenya selesai menyanyi, Gilang membawakan lagu saya dengan penuh penjiwaan. Apalagi tubuh “kembung banjar” luwer berlenggak-lenggok di panggung. Bahkan Omar dan Fera sang pembawa acara menyangka bahwa Gilang adalah anak saya. Mungkin sama gendut bak dua ekor Ikan Banjar Kembung

Begitu pengumuman disebutkan. Ternyata Gilang berhaki mendapat juara pertama dan mengantongi Voucher untuk menginap semalam di Kawasan Wisata Pasir Mukti.

“Tapi pakde ikut menginap lagi ya,” serunya

Iyalah.. boleh saja.

Advertisements

One thought on “Bertarung dengan Keponakan Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s