Tahun Baru 2009


Suasana Kawasan Pasir Mukti saat dipotret menjelang pagi 2009
Suasana Kawasan Pasir Mukti saat dipotret menjelang pagi 2009

Tahun Baru 2009 di Kawasan Wisata Pasir Mukti.

Saya masih berada di kantor ketika keluarga menilpun dengan pesan bahwa pulang kantor 31/12/2008 langsung ke Pasir Mukti – Citeureup – Cibinong. Dalam pesan dikatakan pokoknya dari Jakarta ambil tol Jagorawi – lantas cari exit Sentul. Pesan selanjutnya berbunyi:

Begitu bayar tol jalan beberapa meter langsung belok patah kekiri, 20m kekiri lagi.  Tentu saja saya bingung, apalagi diberi tahu kalau ada spanduk (rokok) Mustang, langsung lurus, nanti sebelum melihat sebuah usaha Waralaba berbelok ke kanan.”

Nampaknya sederhana, tetapi spanduk rokok Mustang ada dimana-mana dan ada lebih dari satu waralaba yang saya temui.

Tapi sudahlah, akhirnya setelah bertanya kesana kemari saya dapatkan juga “kembali jalan yang benar” – apalagi diberitahu nanti meliwati conveyor IndoCement (Cibinong).

Begitu diberitahu kunci “pabrik semen”  langsung “mak byar” hilang semua fantasi akan udara dingin, makan jagung bakar. Siapapun tahu gunung batu kapur – apalagi yang botak, bukan pemandangan indah.  Lantas terbayang udara Kota Gresik yang panas dan berdebu. Lantas ingat kepada cerita di masmedia mengenai gunung kapur di Citatah yang menjelang hilang dari muka bumi, padahal pernah ditemukan fossil manusia Goa didalamnya.

Tetapi ada tawaran lain yang umumnya membuat kami sulit menghindar bahwa keponakan sudah tak tidur pulas membayangkan akan ber ATV (Automotive Terrain Vehicle), Shooting Range, memancing ikan, membajak sawah, mengelus marmut, sapi, mandi lumpur dan  berkaraoke disana.

Apalagi membaca sejarah Citeureup tak lepas dari cerita Majoor Jantje – seorang Belanda flamboyan yang manakala bepergian selalu diiringi musik dan pengawalan ketat,  sembari membagi-bagikan pundi uang kepada penyambutnya. Apa nilai historis sampai Majoor ini jauh-jauh masuk pelosok desa. Rupanya penciumannya tajam akan sebuah prospek tambang semen di kemudian hari.

JANGAN PETIK BUAH

jangan-petik-buah
Kalau mau buah bisa diborong satu pohon

Memasuki kebun buah, terbentang kebun buah yang luas.  Saat kami datang nampak Rambutan, Manggis dan Duku sedang musimnya. Disamping usaha Jeruk Lemon Cui yang memang andalan Kebun Wisata Pasirmukti (KWP) ini.

Mula-mula saya bingung, mengapa pohon rambutan yang berbuah lebat sampai berjatuhan akibat dimakan kalong atau kampret sampai menimbulkan aroma “kecut” buah malahan diberi pengumuman “Dilarang Memetik Buah” – atau malahan ada pohon sudah ludes buahnya malahan ditulisi ” SUDAH TERJUAL

Rupanya kalau anda berminat, maka buah bisa dinikmati satu pohon “lumpsum” – dengan harga berkisar dari 300 ribu sampai 500 ribu per pohon.

Mohon jangan lantas dikaitkan dengan “miring mana dengan rambutan di jual di jalan” – Kita bicara harga parawisata.

Tetapi kalau masih juga keberatan dengan harga yang ditawarkan, KWP masih menyediakan pondok tenpat penjualan hasil kebun mereka. Dengan harga barsaing.

DEMO AJIAN ROG-ROG MANGGIS

Jejaring untuk menampung Manggis agar tidak rusak
Jaring dipasang untuk menampung Manggis

Di sudut lain, pegawai KWP sedang membentang jaring (hapa), yang tujuannya menampung panenan buah Manggis (Mangosteen).  Karena tingginya batang manggis maka buah yang masak segera di jolok dengan batang bambu sampai berjatuhan.  Namun ada juga pemanjat yang lebih suka menggunakan ajian “Rog-Rog Manggis” alias ranting pohon di “oyog-oyog” diguncang-guncang sampai buahnya berjatuhan.

Lalu ingatan saya kembali ke sebuah karya Sasra alm SH Mintardja – Nagasasra dan Sabukinten, dimana salah satu tokoh yang sakti mempunyai ilmu andalan Rog-Rog Asem – yaitu kemampuan mengguncangkan benda sekitarnya dengan kemampuan setara puluhan gajah berlari lantas menubruk pohon asem. Bisa dibayangkan lawan yang terkena ilmu kontak dengan tenaga sedahsyat itu. Ah masa kecil selalu saja manis dikenang.

Manggis yang “tidak kembali ke jalan yang benar” – langsung menjadi jatah petugas. Di belah dan disruput isinya yang putih mengkal dan manis.

Sahabat saya berbisik bahwa di luar negeri sana buah manggis selain menjadi tanaman eksotis juga extractnya dijadikan minuman obat. Dan kendati orang kulit putih cukup skeptis akan pengobatan herbal, namun terhadap buah sihitam manis ini mereka pilih kasih alias percaya penuh akan hasiatnya.

DUNIA INI PANGGUNG MINAHASA

Kami menempati sebuah pondok panggung berarsitektur Minahasa yang memang dibuat oleh para pakar, tukang kayu dari tanah Minahasa. Pondok Jamlang, namanya.

Agak tidak nyambung sejatinya. Kawasan Jawa Barat yang dikenal dengan saung, lantas dicangkok benda asing bernama Pondok Minahasa – yang disononya selalu dibuat tanpa genting atau bata. Seperti makan Bakmi dengan tangan telanjang. Tetapi mengapa harus diperdulikan sebab justru yang aneh kadang menimbulkan tantangan tersendiri. Bahkan restoran (tamu diberi fasilitas sarapan pagi  dan makan malam), hasil masakan mama Betsy dengan cita rasa Minahasa seperti ikan Cakalang.

Jujur saja, saya pribadi tidak begitu suka dengan jenis ikan ini sebab strukturnya teramat padat, dan selalu saja saat ditelan perlu digelontor air putih. Tetapi nasi gorengnya “So Good”

Belakangan mama Betsy bercerita bahwa memang pemiliknya berasal dari Minahasa. Konflik Poso yang berkepanjangan, apalagi membuat dua kali rumah milik mereka dibakar, mengharuskan mereka mengungsi dan musibah ini justru membangkitkan kerinduan akan rumah panggung bahkan menyublim menjadi kawasan wisata perpaduan tanah Jawa Barat dengan Minahasa yang selalu gembira. Waduh mama, yang punya cucu kuliah  di “AKAMIGAS UPN”  – maksudnya UPN Yogya, departemen Perminyakan, kalau pangana tarada kasih info-info deng kita manganai itu pondok Minahasa. Kiat so baku curiga.

BAWAL GEMAR BUAH CHERRY

Keponakan Gilang dan Bagus sudah langsung kabur ke tempat pemancingan ikan. Semula mereka memancing dengan frustrasi lantaran ada trik yang tidak diajarkan. Umpan berupa pelet yang nampak bulat menggiurkan manakala menempel di mata kail, ternyata mudah sekali buyar saat masuk kedalam air kolam. Keponakan mulai belajar bahwa umpan baru bisa melekat bisa sebelumnya di “bejek” alias di kepal-kepal sampai padat.

Tetapi menjelang sore, penjaga kolam menggunakan umpan  “rahasia” yaitu cukup dengan sebutir buar cherry atau kersen. Dan ikan Bawal sangat menyukainya sehingga dalam waktu singkat mereka sudah menangkap sekitar dua belas ekor ikan gemuk siap konsumsi.

Sekarang persoalan klasik “akan diapakan ikan ini?” – ha, ternyata kita harus membeli tangkapan dengan biaya dua puluh ribu per kilo. Karena rata-rata ikan beratnya setengah kilo, maka dua belas ekor akan memasukkan duit ke kocek penyelenggara sebesar 120 ribu rupiah. Kemudian kami minta pihak penyelenggara untuk memasakkan ikan tersebut yang dikenai biaya sebesar lima ribu rupiah per onsnya.

Hanya dalam hitungan menit, hidangan ala Minahasa sudah dikirimkan ke pondokan kami. Asap yang mengebul, aroma serai, ikan bawal langusng menggoda untuk segera dinikmati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s