Kalau Lapar datang dari Mata


Bisa dipastikan – kalau keluarga terlibat dalam pembicaraan mengenai kenaikan harga  sembako termasuk hilangnya minyak tanah (kalau belum jadul), atau langkanya distribusi gas botol melon.  Kita seakan berada dipihak rakyat kecil tertindas melarat, lalu menuding kepada “pemerintah tidak becus” mengurus kehidupan rakyatnya.

Yang sering tidak disadari tingkah kita sehari-hari pola hidup sehari-hari kadang bertentangan dengan pura-pura empati terhadap rakyat miskin.

Sejatinya yang ingin saya soroti ya keluarga dan kerabat sendiri. Globalnya komunitas kami. Sebut saja saat menghadiri pernikahan atau pesta apa saja yang biasanya hidangan disajikan secara prasmanan.

Tidak jarang saat mengambil makanan kita menghalalkan saling sodok, saling serobot seakan kuatir persediaan makan sebentar lagi habis.

Celakanya baru soto diambil lantas melihat ada kambing guling didepan serentak soto masih separuh ditinggal dan antri ke pondok kambing guling. Belum tandas piring kambing guling, sudah lari ke tempat dim sum. Sebentar piring sudah penuh dengan salad yang akhirnya perut keburu “luar biasa” kenyang. Makanan lalu dionggrokkan begitu saja. Sementara diluar gedung para tuna wisma mengorek tong sampah sekedar mencari sisa-sia untuk kebutuhan sehari-hari.

Begitu juga dengan minuman, berapa persen dari minuman yang kita ambil hanya menjadi barang mubadzir.

Tengok di resto yang menyajikan masakan “eat all you can” macan Hanamasa, Nanaban tei – atau sarapan pagi ala buffet di hotel. Pengunjung mengambil makanan bukan karena mereka lapar, tetapi karena “kiasu” – istilah orang Singapura menunjuk sikap hidup kurang terpuji.

Dalil “berhenti makan sebelum kenyang” bisa dipelesetkan menjadi “tapi ambil makanan sebanyak-banyaknya mana ada dalilnya.” 

Akhirnya manakala rasa malu terbit lantaran  mengambil makanan namun tidak dihabiskan, maka keluar ilmu seakan-akan berbaik hati mengambilkan “penganan untuk orang lain” – padahal soal makan, setiap orang akan memiliki selera yang satu sama lain berbeda.

Kadang kalau makan bersama kerabat yang berperilaku seperti saya sebutkan, maka perut saya biasanya sudah kenyang terlebih dahulu. Baru merasa lapar manakala tiba di rumah.

Kalau mereka anak-anak mudah saja diberi petuah  “nanti kalau makanan tidak dihabiskan, ayamnya mati.” – namun beberapa diantaranya lebih senior ketimbang saya. Kita jadi kikuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s