Randy van Ciliwung


Gagah betul bocah belasan tahun ini, datang menemui “induk semang” dengan baju lengan panjang, berpenampilan sejuk. Rupanya setelah di PHK dari perusahaannya, ia mencoba menjadi penarik Ojek. Kalah dalam persaingan, kini ia balik ke habitat semula di Bantaran Ciliwung. 

Sebaliknya sang “bapak angkat” di Ciliwung yang ketar-ketir.  Burung kalau masih kecil bolehlah dibawah kepak sayap induknya. Buah kelapa muda masih tergantung ketat pada tandannya. Namun manakala waktunya mereka sudah dewasa, burung harus membuat sarang sendiri, buah kelapa harus terlepas bergulir jauh dari induknya – agar belajar instink dan naluri bertahan hidup.

Kok seperti berjodoh, ada pengacara muda yang baru buka praktek memerlukan tenaga sebagai OB. Randypun langsung ditawari pekerjaan barunya.

Mungkin untuk mengungkapkan rasa terimakasih anak yang besar di bantaran Ciliwung ini langsung bekerja wat-wut alias semangat 45.

Seperti biasa saat sang pengacara ayu bertubuh semampai 172cm ini sibuk dengan pekerjaannya, Randy segera jemput bola. Selain sebagai “OB” ia juga bersedia menjadi pengantar dokumen, atau apa saja. Untungnya biar bekas “preman” dia masih punya SIM ojeknya sehingga mudah untuk dimanfaatkan.

Tiba-tiba seharian Randy tidak muncul di kantor, padahal motor inventaris dibawanya. “Ah – akankah kumat lagi penyakit mencurinya?”- Lagi-lagi sang “ayah angkat” cemas wal sudzon.  Rupanya dicekoki sinetron mirip Fitri yang selalu mendesis dan yang menggambarkan kalau manusia Taqwa dan baik hati harus (selalu) bodoh sehingga gampang ditipu mentah-mentah dengan perut karet hamil boongan (dan percaya) tidak mempan juga.

Pada hari kedua, ternyata Randy pulang dan mengaku salah bahwa ia bertemu dengan temannya mengajak mengobrol sampai ketiduran. 

Sejak peristiwa motor, kerjanya semakin rajin. Dia memiliki daya endus luar biasa, saat teman OB lain belum “ngeh” – Randy sudah keluar pagar menjemput sang Juragan.

Sebuah kejadian rutin, sang Juragan turun dengan tentengan penuh kertas. Maklum pengacara yang sering diledek, satu kalimat saja bisa dibahas sampai menghabiskan pohon satu hektar. Randi langsung membawakan tas dan laptop pengacara, terbungkuk mendahului sang boss memasuki kantor.  Kok kebetulan ada tilpun masuk sehingga sang boss terlibat dalam pembicaraan serius, dan Randy bersama Laptop menyelinap keluar sambil membawa Laptop.

Kalau motor saja sudah bikin hati orang lain dag dig duk, maka laptop gaib beserta Randy pasti bukan ingin dipamerkan kepada temannya. Maka perburuanpun dimulai. Lagi-lagi peristiwa ini tercium Gandoz yang sangat gusar dan berusaha mencari Randy yang dianggap melanggar tata krama dunia mereka.

Nampaknya Randy seperti lenyap ditelan bumi. Terinspirasi oleh gaya  Roy Suryo, pakar telematika kita, sang korban langsung menisik nomor tilpun yang pernah dihubungi oleh Randy. Tabir sedikit terkuak, rupanya dia merayu para pembantu rumah tangga yang mengarah sebuah lokasi di kawasan Sukabumi – karena Arjuna kita mengaku berasal dari sana. 

Tim buser Ciliwung dan ditemani petugas kepolisian, mulai menyisir daerah tersebut. Persembunyiannya diketahui, tapi Arjuna OB – sudah keburu mencelat kabur.

Dari sini didapat sisik melik bahwa Laptop sudah lepas dengan harga cuma dua juta.  Tahun berlangsung sebuah Laptop dihargai 25-27 juta. Kebetulan sang tukang tadah sudah terlacak pula lokasinya. Orang kaya pula.

Dalam dunia nyata, maksud saya bukan dunia para jendral berbicara manis teduh untuk jatah TV dan Koran, maka sekali orang kaya (OK) manakala terlibat dengan urusan kriminal, maka bola mata para aparat mirip Alex dalam kartun Madagaskar melihat pantat Marty.

Artinya tarik penadah jebolskan masuk bui langsung bisa jadi obyek untuk diduitin. Kalangan rakyat jelata mengatakan “obyek” – kalangan jendral di TV mengatakan “tidak ada itu, kalaupun ada laporkan pada saya..”

Namun sang OK memilih jalan sederhana.  Laptop dikembalikan dan langkah selanjutnya Randy dicokok dan dijebloskan ke penjara. Cuma dua hari, induk semangnya tidak tega, Randy dilepaskan.

Dasar muka badak, begitu lepas – Randy mrenges, “pak kok masih punya jaringan ya. Saya sudah sembunyi jauh masih ketangkap juga..” Randy tidak sadar bahwa kalau saja, dia sempat ketangkap Gandoz – bisa jadi harus cium perpisahan dengan tangannya. 

Persis kata yang dipopulerkan oleh bang Napi bahwa kejahatan muncul kalau ada kesempatan disamping niat pelaku.  Sebetulnya sih, Hugeng Imam Santoso eks Kapolri yang pernah menuliskan ucapan tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s